YANG MEMBATALKAN WUDHU

Tulisan berikut ini akan menerangkan tata cara wudhu lengkap dengan ikhtilaf/perbedaan pendapat ulama di dalamnya. Untuk sekedar mengingatkan saja, bahwa perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan ulama ahlus sunnah dan ahli ilmu adalah bukan suatu hal yang tercela, dan tidak ada yang salah serta berdosa di dalamnya, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ فَأَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ وَاحِدٌ. “Apabila seorang hakim menghukumi satu perkara, lalu berijtihad dan benar, baginya dua pahala. Dan apabila ia menghukumi satu perkara, lalu berijtihad dan keliru, baginya satu pahala”.( Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy 13/268 dan Muslim no. 1716 dari hadits ‘Amru bin Al-‘Aash radliyallaahu ‘anhu.)

Hal ini selaras dengan firman Allah (QS 33;5) : “dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

1. Menyentuh Lawan Jenis

Ada perbedaan pendapat di dalamnya dan perbedaan tersebut bersumber dari sebuah ayat :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); …” (QS. Al Ma-idah: 6)

a. Batal Wudhu :
Landasannya adalah perkataan Ibnu Mas’ud ,
 اللَّمْسُ، مَا دُوْنَ الجِمَاعِ.
“Al lams (lamastum) bermakna selain jima’”. (Lihat Tafsir Ath Thobari (Jaami’ Al Bayan fii Ta’wilil Qur’an), Ibnu Jarir Ath Thobari, 8/393, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1420 H. Syaikh Ahmad Syakir dalam ‘Umdatut Tafsir (1/514) mengatakan bahwa sanad riwayat inii yang paling shahih.)

Perkataan yang serupa juga dikatakan oleh Ibnu ‘Umar seperti di dalam kitab yang sama.
Jadi, menurut keduanya lamastumun nisaa’ bermakna selain berhubungan badan seperti menyentuh.

Selain kedua shahabat tersebut, ada beberapa ulama salaf yang berpendapat demikian, antara lain Di antara yang berpendapat seperti ini adalah Abu ‘Utsman An-Nahdi, Abu ‘Ubaidah bin Abdillah bin Mas’ud, ‘Amir Asy-Sya’bi, Tsabit ibnul Hajjaj, Ibrahim An-Nakha’i dan Zaid bin Aslam. (Tafsir Ibnu Katsir, 2/227)

Pendapat ini juga yang dipegang oleh madzhab Imam Syafi’i (Lihat al-Umm 1:30 oleh Imam Syafi’i dan al-Majmu’ 2:35 oleh Imam Nawawi)

Memang kata al lams bisa bermakna menyentuh (meraba) dengan tangan sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut,
 وَلَوْ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ كِتَابًا فِي قِرْطَاسٍ فَلَمَسُوهُ بِأَيْدِيهِمْ
“Dan kalau Kami turunkan kepadamu tulisan di atas kertas, lalu mereka dapat menyentuhnya dengan tangan mereka sendiri” (QS. Al An’am: 7)
Begitu pula dapat dilihat dalam hadits,
 وَالْيَدُ زِنَاهَا اللَّمْسُ
“Zinanya tangan adalah dengan meraba.” (HR. Ahmad 2/349. )

b. Menyentuh wanita batal wudhu dengan syarat adanya syahwat.

Pendapat ini dipegang oleh Imam Maliki dan Imam Ahmad . “Memang asal menyentuh tidak membatalkan wudhu, tetapi menyentuh dengan syahwat menyebabkan keluarnya air madhi dan mani, maka hukumnya membatalkan” (Lihat al-Mughni 1:260 Ibnu Qudamah).
Hal yang sama tertulis juga di dalam kitab Al-Mudawwanah (1/13), Hasyiah ad-Dasuqi (1/119), al-Mughni (1/192) dan Kasyaf al-Qana’ (1/145)

c. Tidak Membatalkan Wudhu

Ibnu ‘Abbas -radhiyallahu ‘anhuma-. Beliau mengatakan,
 إن”المس” و”اللمس”، و”المباشرة”، الجماع، ولكن الله يكني ما شاء بما شاء
“Namanya al mass, al lams dan al mubasyaroih bermakna jima’ (berhubungan badan). Akan tetapi Allah menyebutkan sesuai dengan yang ia suka.”

Dalam perkataan lainnya disebutkan,
 أو لامستم النساء”، قال: هو الجماع.
“Makna ayat: lamastumun nisaa’ adalah jima’ (berhubungan badan).” (Lihat Tafsir Ath Thobari (8/389). Sanad riwayat ini shahih sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Abu Malik dalam Shahih Fiqh Sunnah, 1/139.)

Para ulama terdahulu yang berpendapat demikian selain Ibnu Abbas adalah ‘Ali, ‘Ubay bin Ka’b, Mujahid, Thawus, Al-Hasan, ‘Ubaid bin ‘Umair, Sa’id bin Jubair, Asy-Sya’bi, Qatadah dan Muqatil bin Hayyan. (Tafsir Ibnu Katsir, 2/227)

Pendapat ini adalah juga pendapat madzhab Hanafi
Dalil dari Rasulullah yang menunjukkan bahwa bersentuhan dengan wanita (selain jima’) tidaklah membatalkan wudhu di antaranya:

Aisyah radhiallahu ‘anha berkata:
 كُنْتُ أَناَمُ بَيْنَ يَدَي رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرِجْلاَيَ فِي قِبْلَتِهِ، فَإِذَا سَجَدَ غَمَزَنِي فَقَبَضْتُ رِجْلَيَّ، فَإِذَا قَامَ بَسَطْتُهَا
“Aku pernah tidur di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan kedua kaki di arah kiblat beliau (ketika itu beliau sedang shalat, pen) maka bila beliau sujud, beliau menyentuhku (dengan ujung jarinya) hingga aku pun menekuk kedua kakiku. Bila beliau berdiri, aku kembali membentangkan kedua kakiku.” (HR. Al-Bukhari no. 382 dan Muslim no. 512)

Aisyah radhiallahu ‘anha juga mengabarkan:
 فَقَدْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً مِنَ الْفِرَاشِ فَلْتَمَسْتُهُ فَوَقَعَتْ يَدِي عَلَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ وَهُمَا مَنْصُوبَتَانِ وَهُوَ يَقُوْلُ: اللّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوْبَتِكَ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْكَ لاَ أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ
“Suatu malam, aku pernah kehilangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari tempat tidurku. Maka aku pun meraba-raba mencari beliau hingga kedua tanganku menyentuh bagian dalam kedua telapak kaki beliau yang sedang ditegakkan. Ketika itu beliau di tempat shalatnya (dalam keadaan sujud) dan sedang berdoa: Ya Allah, aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari kemurkaan-Mu dan dengan maaf-Mu dari hukuman-Mu. Dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu, aku tidak dapat menghitung pujian atas-Mu, Engkau sebagaimana yang Engkau puji terhadap diri-Mu.” (HR. Muslim no. 486)

2. Menyentuh Kemaluan

Ada perbedaan pendapat tentang hal ini :

a. Membatalkan Wudhu

Berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘a;aihi wa sallam :
ِعَنْ بُسْرَةَ بِنْتِ صَفْوَانَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا ( أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ
Dari Busrah binti Shofwan Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa menyentuh kemaluannya maka hendaklah ia berwudlu” (HR. Ahmad: 6/406 dan 407, Abu Daud no. 181, At-Tirmidzi no. 82, An-Nasa`i no. 163, dan Ibnu Majah no. 479)
Hadits ini dishohihkan oleh Imam: Ahmad, Yahya bin Ma’in, At-Tirmidzi, Al-Baihaqi, dan yang lainnya -rahimahumullah-.
Terdapat pula hadits yang serupa dengan di atas dari Ummu Habibah, Abu Hurairah, Arwa binti Unais, ‘Aisyah, Jabir, Zaid bin Kholid, dan ‘Abdullah bin ‘Amr.
Ini adalah pendapat yang dipegang oleh Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Ibnu Hazm.
DI kalangan shahabat ada Umar, Ibnu Umar, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Aisyah, Saad bin Abi Waqqash.
Di kalangan tabi’in ada Atha, Urwah, Az Zuhri, Ibnul Musayyab, Mujahid, Aban bin Utsman dan lain lain.
Hal tersebut tertuang di dalam kitab (Nailul Authar 1/ (1/443), al-Istidzkar (1/308), al-Mudawwanah (1/8-9), al-Umm (1/19), al-Majmu’ (1/24), al-Mughni (1/178), al-Inshaf (1/202) dan al-Muhalla (1/235).

Al-Bukhari r.h berkata:
“Inilah hadis paling sahih dalam bab membicarakan terbatal wuduk menyentuh kemaluan.” (Nail al-Autor, jil.l. ms. 189)
Menurut pendapat ulama yang berpegang pada pendapat ini, menyatakan hadits tentang menyentuh kemaluan tidak batal wudhu sudah dinasakh. Yang mengatakan adanya naskh adalah Ath Thobroni dalam Al Kabir (8/402), Ibnu Hibban (Ihsan, 3/405), Ibnu Hazm dalam Al Muhalla (1/239), Al Hazimi dalam Al I’tibar (77), Ibnul ‘Arobi dalamm Al ‘Aridhoh (1/117), dan Al Baihaqi dalam Al Khilafiyat (2/289).
Madzhab Syafi’iyah berpendapat, bahwa menyentuh kemaluan sendiri dan orang lain, membatalkan wudhu, bahkan menyentuh kemaluan mayat pun membatalkan wudhu.

Imam Nawawi berkata :
Wudhu menjadi batal sebab seseorang menyentuh alat kelamin manusia dengan tangan bagian dalamnya, baik alat kelaminnya sendiri maupun milik orang lain, laki-laki maupun perempuan, masih anak-anak atau sudah dewasa, sudah mati atau masih hidup, dan yang disentuh bagian alat kelamin maupun anus. [Raudhatuth Thalibin 1/46 (1/215)].

b. Tidak Membatalkan Wudhu

Berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘a;aihi wa sallam :
 ِوَعَنْ طَلْقِ بْنِ عَلِيٍّ رضي الله عنه قَالَ: ( قَالَ رَجُلٌ: مَسَسْتُ ذَكَرِي أَوْ قَالَ اَلرَّجُلُ يَمَسُّ ذَكَرَهُ فِي اَلصَّلَاةِ أَعَلَيْهِ وُضُوءٍ ؟ فَقَالَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم “لَا إِنَّمَا هُوَ بَضْعَةٌ مِنْكَ )
Thalq Ibnu Ali Radliyallaahu ‘anhu berkata: Seorang laki-laki berkata: saya menyentuh kemaluanku atau ia berkata: seseorang laki-laki menyentuh kemaluannya pada waktu shalat apakah ia wajib berwudlu؟ Nabi menjawab: “Tidak karena ia hanya sepotong daging dari tubuhmu“ (HR. Ahmad: 4/23, Abu Daud no. 182 dan 183, At-Tirmidzi no. 85, An-Nasa`i no. 165, dan Ibnu Majah no. 483)
Ini adalah pendapat yang dipegang oleh Imam Hanifah, At tsauri maupun para shahabat antara lain Ali, Ibnu Mas’ud, ‘Ammar bin Yasir, Hudzaifah, Abud Darda, ‘Imran bin Hushain maupun kalangan tabi’in seperti Hasan Bashri.

Hal tersebut tertuang di dalam kitab (Nailul Authar 1/ (1/443), Al-Bada’i (1/30), Syarh Fath al-Qodir (1/37), al-Mudawwanah (1/8-9) dan al-Istidzkar (1/308 dan halaman setelahnya)

‘Amru bin Ali al-Falas r.h berkata:
“Hadis ini lebih tsabit daripada hadis Busrah.”

Ali bin al-Madini berkata:
“Menurut kami, inilah hadis terbaik berbanding hadis Busrah.”

Al-Thohawi berkata:
“Sanad hadis ini mustaqim, yaitu tidak mudthorib (bercampuk-aduk dengan lafaz lain). Berbeda dengan hadis riwayat Busrah.”
Golongan Hanafiyah memahami hadits dari Busrah tentang batalnya wudhu saat menyentuh kemaluan dari segi bahasa, bahwa pengertian: فليتوضأ adalah membersihkan (membasuh) tangannya.

c. Batal Wudhu Dengan Syarat

c.1 . Pendapat yang membedakan antara sentuhan yang terasa enak dan tidak. Jika terasa nikmat membatalkan wudhu, dan jika sebaliknya tidak membatalkan.
c.2. Pendapat yang membedakan antara sentuhan dengan telapak tangan dan sentuhan dengan lainnya. Jika menyentuh dengan telapak tangan membatalkan wudhu, dan jika tidak dengan telapak tangan tidak membatalkan.
c.3. Pendapat yang membedakan antara sengaja dan lupa. Jika menyentuh kemaluan dengan sengaja dengan telapak tangan, maka itu membatalkan wudhu. Tetapi jika menyentuhnya karena lupa, maka tidak membatalkan.

Pendapat tersebut dipegang oleh Imam Malik didukung oleh Daud dan para pengikutnya.
d. Berwudhu hanya sunnah hukumnya
Pendapat ini adalah salah satu pendapat dari Imam Ahmad dan yang lainnya.
Ulama yang berpendapat demikian berkesimpulan bahwa, 2 pendapat tentang batalnya wudhu dan tidak batalnya wudhu sama-sama kuat karena didukung hadits yang sama-sama kuat. Sehingga perlu dikompromikan kedua hadits tersebut, sehingga perintah untuk berwudhu “ فليتوضأ” adalah merupakan perintah yang sifatnya anjuran atau sunnah.

3. Muntah

A. Membatalkan wudhu
hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 مَنْ أَصَابَهَ قَيْءٌ أَوْ رُعَافٌ أَوْ قَلَسٌ أَوْ مَذِيٌ فَلْيَنْصَرِفْ، فَلْيَتَوَضَّأْ…
Siapa yang ditimpa (mengeluarkan) muntah, mimisan, qalas4 atau madzi (di dalam shalatnya) hendaklah ia berpaling dari shalatnya lalu berwudhu.” (HR. Ibnu Majah no. 1221)
hadits Ma’dan bin Abi Thalhah dari Abu Ad-Darda bahwasanya Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam pernah muntah, lalu beliau berbuka dan berwudhu. Kata Ma’dan: “Aku berjumpa dengan Tsauban di masjid Damaskus, maka aku sebutkan hal itu padanya, Tsauban pun berkata: “Abu Ad-Darda benar, akulah yang menuangkan air wudhu beliau Shallallahu’alaihi wa sallam.” (HR. At-Tirmidzi no. 87, Abu Dawud (23 81) dan lihatal-Irwa’ (111) juga diriwayatlan oleh Al Imam Ahmad, Ibnul Jarud, Ibnu Hibban, Ad Daruquthni, Al Baihaqi, Ath Thabrani, Ibnu Majah, dan Al Hakim)

Berkata Ibnu Mandah, “Isnadnya shahih bersambung akan tetapi ditinggalkan oleh Al Bukhari dan Muslim karena ada perselisihan di jalan haditsnya“.
Berkata At Tirmidzi, “Husein Al Mu’allim telah membaikkan sanadnya dan ini yang paling shahih dalam permasalahan ini. Demikian juga berkata Ahmad dan di situ ada perselisihan yang banyak sebagaimana disebutkan oleh Ath Thabrani dan juga yang lainnya. Berkata Al Baihaqi: Jalan haditsnya mudhthradib (banyak perselisihan) tidak dapat dipakai sebagai hujjah” Talkhis Al Habir (2-190)

Di antara mereka ada yang berpendapat muntah itu membatalkan wudhu seperti Abu Hanifah dan pengikut mazhab Abu Hanifah, dengan syarat muntah itu berasal dari dalam perut, memenuhi mulut dan keluar sekaligus. (Nailul Authar, 1/268)
Al-Imam At-Tirmidzi t berkata: “Sebagian ahlul ilmi dari kalangan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan selain mereka dari kalangan tabi’in berpandangan untuk berwudhu disebabkan muntah dan mimisan. Demikian pendapat Sufyan Ats-Tsauri, Ibnul Mubarak, Ahmad dan Ishaq. Sementara sebagian ahlul ilmi yang lainnya berpendapat tidak ada keharusan berwudhu karena muntah dan mimisan, demikian pendapat Malik dan Asy-Syafi’i. (Sunan At-Tirmidzi, 1/59)

B. Tidak membatalkan wudhu
Adapun ulama yang lain seperti 7 imam yang faqih dari Madinah, Asy-Syafi‘i dan orang-orang yang mengikuti mazhab Asy-Syafi’i, juga satu riwayat dari Al-Imam Ahmad menunjukkan bahwa keluar sesuatu dari tubuh selain qubul dan dubur tidaklah membatalkan wudhu, baik sedikit ataupun banyak, kecuali bila yang keluar dari tubuh itu kencing ataupun tahi. (Nailul Authar, 1/268, Asy-Syarhul Mumti’, 1/234)
Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Tidaklah batal wudhu dengan keluarnya sesuatu dari selain dua jalan (qubul dan dubur) seperti pendarahan, darah yang keluar karena berbekam, muntah dan mimisan, sama saja baik keluarnya banyak ataupun sedikit.
Demikian pendapat Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, Ibnu Abi Aufa, Jabir, Abu Hurairah, ‘Aisyah, Ibnul Musayyab, Salim bin Abdillah bin ‘Umar, Al-Qasim bin Muhammad, Thawus, ‘Atha, Mak-hul, Rabi’ah, Malik, Abu Tsaur dan Dawud. Al-Baghawi berkata: “Ini merupakan pendapat mayoritas shahabat dan tabi`in.” (Al-Majmu’, 2/63)

Tentang hadits pertama di atas tentang muntah,Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata: “Hadits ini dinyatakan cacat oleh sebagian Ahlul Hadits karena setiap periwayatan Isma’il ibnu ‘Iyasy dari orang-orang Hijaz semuanya dinilai lemah. Sementara dalam hadits ini Isma’il meriwayatkan dari Ibnu Juraij yang dia itu orang Hijaz. Juga karena para perawi yang meriwayatkan dari Ibnu Juraij –yang mereka itu adalah para tokoh penghapal– meriwayatkannya secara mursal (menyelisihi periwayatan Isma’il yang meriwayatkannya secara ittishal sebagaimana hal ini dikatakan oleh penulis kitab Muntaqal Akhbar. Terlebih lagi riwayat yang mursal ini dinyatakan shahih oleh Adz-Dzuhli, Ad-Daruquthni dalam kitab Al-’Ilal, begitu pula Abu Hatim dan beliau mengatakan telah terjadi kesalahan dalam periwayatan Isma’il. Ibnu Ma’in berkata hadits ini dha’if. (Nailul Authar, 1/269) .
Tentang hadits kedua, Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata: “Al-Baihaqi mengatakan bahwa hadits ini diperselisihkan (mukhtalaf) pada sanadnya. Kalaupun hadits ini shahih maka dibawa pemahamannya pada muntah yang sengaja.” Di tempat lain Al-Baihaqi berkata: “Isnad hadits ini mudhtharib (goncang), tidak bisa ditegakkan hujjah dengannya.” (Nailul Authar, 1/268). Asy-Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah di dalam ta’liq beliau terhadap kitab Ar-Raudhatun Nadiyyah mengatakan: “Hadits-hadits yang diriwayatkan dalam masalah batalnya wudhu karena muntah adalah lemah semuanya, tidak dapat dijadikan hujjah.” (ta’liq beliau dinukil dari Ta’liqat Ar-Radhiyyah, 1/174)2

4. Keluar Dari Dua Jalan (Qubul dan Dubur)

A. Buang Air Besar dan Kecil
firman Allah Ta’ala,
أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ
“Atau kembali dari tempat buang air (kakus).” (QS. Al Maidah: 6)

Ulama berpendapat ayat tersebut menerangkan tentang batalnya wudhu dikarenakan buang air besar atau kecil. Karena kata Al Ghoith merupakan kiasa (majas) untuk kata kakus (tempat buang air besar atau kecil, walau arti sesungguhnya adalah tanah yang rendah dan luas.

B. Kentut

Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « لاَ تُقْبَلُ صَلاَةُ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ » . قَالَ رَجُلٌ مِنْ حَضْرَمَوْتَ مَا الْحَدَثُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ فُسَاءٌ أَوْ ضُرَاطٌ
“Shalat seseorang yang berhadats tidak akan diterima sampai ia berwudhu.” Lalu ada orang dari Hadhromaut mengatakan, “Apa yang dimaksud hadats, wahai Abu Hurairah?” Abu Hurairah pun menjawab,
فُسَاءٌ أَوْ ضُرَاطٌ
“Di antaranya adalah kentut tanpa suara atau kentut dengan suara.” Para ulama pun sepakat bahwa kentut termasuk pembatal wudhu. (HR. Bukhari no. 135)

Dari Abdullah bin Zaid, Rasulullah bersabda:
لاَ يَنْصَرِفْ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدُ رِيْحًا
Artinya : “Dia jangan pergi hingga mendengar suara atau mendapati angin.” (HR. Bukhari no. 137, Muslim no. 802)

C. Keluar mani, madzi dan wadhi’

Mani dapat membatalkan wudhu, menurut Hanafi, Maliki, dan Hambali.
Mani bisa membatalkan wudhu berdasarkan kesepakatan para ulama dan segala sesuatu yang menyebabkan mandi termasuk pembatal wudhu (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/128)
Malikiyah berpendapat bahwa mani yang biasa keluar tanpa rasa nikmat tidak diwajibkan mandi, dan hanya membatalkan wudhu.

Syafi’iyah berpendapat bahwa keluar mani tidak sampai membatalkan wudhu, apakah keluarnya terasa nikmat atau tidak. Namun mandi wajib, harus dilaksanakan sebab yang mewajibkan mandi salah satunya adalah keluar mani.

Ibnu ‘Abbas mengatakan,
الْمَنِىُّ وَالْمَذْىُ وَالْوَدْىُ ، أَمَّا الْمَنِىُّ فَهُوَ الَّذِى مِنْهُ الْغُسْلُ ، وَأَمَّا الْوَدْىُ وَالْمَذْىُ فَقَالَ : اغْسِلْ ذَكَرَكَ أَوْ مَذَاكِيرَكَ وَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلاَةِ.
“Mengenai mani, madzi dan wadi; adapun mani, maka diharuskan untuk mandi. Sedangkan wadi dan madzi, Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Cucilah kemaluanmu, lantas berwudhulah sebagaimana wudhumu untuk shalat.” (HR. Al Baihaqi no. 771)

Hadits tersebut yang digunakan Imam Syafi’i berpendapat bahwa mengenai mani tidakmembatalkan wudhu tetapi wajib mandi, tetapi untuk madzi dan wadhi membatalkan wudhu’.

Mengenai madzi bisa membatalkan wudhu didukung hadits tentang cerita ‘Ali bin Abi Tholib. ‘Ali :
كُنْتُ رَجُلاً مَذَّاءً وَكُنْتُ أَسْتَحْيِى أَنْ أَسْأَلَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- لِمَكَانِ ابْنَتِهِ فَأَمَرْتُ الْمِقْدَادَ بْنَ الأَسْوَدِ فَسَأَلَهُ فَقَالَ « يَغْسِلُ ذَكَرَهُ وَيَتَوَضَّأُ ».
“Aku termausk orang yang sering keluar madzi. Namun aku malu menanyakan hal ini kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallm dikarenakan kedudukan anaknya (Fatimah) di sisiku. Lalu aku pun memerintahkan pada Al Miqdad bin Al Aswad untuk bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau memberikan jawaban pada Al Miqdad, “Cucilah kemaluannya kemudian suruh ia berwudhu”. (HR. Bukhari no. 269 dan Muslim no. 303).

D. Darah Istihadhoh

hadits Fatimah Bintu Abi Hubaisy, bahwa dia terkena istihadhah maka Nabi b bersabda kepadanya,
فَتَوَضَّئِيْ وَصَلِّيْ فَإِنَّمَا هُوَ عِرْقٌ
Artinya: “Maka berwudhu dan shalatlah, sesungguhnya itu adalah darah urat.” (Shahih al-Bukhari no: 228dan diriwayatkan juga oleh Ad-Daruquthni no. 778, beliau berkata, “Semua sanadnya tsiqat”)

5. Makan Daging Unta

حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَوْهَبٍ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ أَبِي ثَوْرٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَأَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ الْغَنَمِ قَالَ إِنْ شِئْتَ فَتَوَضَّأْ وَإِنْ شِئْتَ فَلَا تَوَضَّأْ قَالَ أَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ الْإِبِلِ قَالَ نَعَمْ فَتَوَضَّأْ مِنْ لُحُومِ الْإِبِلِ

Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil Fudhail bin Husain al-Jahdari telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Utsman bin Abdullah bin Mauhab dari Ja’far bin Abi Tsaur dari Jabir bin Samurah bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, “Apakah kami harus berwudhu karena makan daging kambing?” Beliau menjawab, “Jika kamu berkehendak maka berwudhulah, dan jika kamu tidak berkehendak maka janganlah kamu berwudhu.” Dia bertanya lagi, “Apakah harus berwudhu disebabkan (makan) daging unta?” Beliau menjawab, “Ya. Berwudhulah disebabkan (makan) daging unta.”(HR. Muslim no. 360)

6. Hilangnya Akal

a. Gila, Pingsan, Mabuk (karena minuman keras ataupun narkoba), epilepsi (ayan), jumhur ulama sepakat hal tersebut membatalkan wudhu (Shahih Fiqh Sunnah, 1/133, kitabul fiqhi fi Madzahibu al arba’ah (bairut Lebanon, darul fikr, 1996) cetakan pertama,hal 76)

b. Tidur
Terdapat beberapa hadits yang menerangkan tentang tidur, antara lain :
حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ الْعَنْبَرِيُّ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ صُهَيْبٍ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ قَالَ أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُنَاجِي رَجُلًا فَلَمْ يَزَلْ يُنَاجِيهِ حَتَّى نَامَ أَصْحَابُهُ ثُمَّ جَاءَ فَصَلَّى بِهِمْ

Telah menceritakan kepada kami Ubaidullah binMuadz al-‘Anbari telah menceritakan kepada kami bapakku telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abdul Aziz bin Shuhaib dia mendengar Anas bin Malik berkata, “Shalat telah diiqamatkan, sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membisiki seorang laki-laki, lalu beliau terus membisikinya hingga para sahabatnya tertidur, lalu beliau datang dan shalat mengimami mereka.“ (HR Muslim 376)

و حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ حَبِيبٍ الْحَارِثِيُّ حَدَّثَنَا خَالِدٌ وَهُوَ ابْنُ الْحَارِثِ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسًا يَقُولُا كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنَامُونَ ثُمَّ يُصَلُّونَ وَلَا يَتَوَضَّئُونَ قَالَ قُلْتُ سَمِعْتَهُ مِنْ أَنَسٍ قَالَ إِي وَاللَّهِ

Dan telah menceritakan kepadaku Yahya binHabib al-Haritsi telah menceritakan kepada kami Khalid, yaitu Ibnu al-Harits telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Qatadah dia berkata, saya mendengar Anas berkata, “Dahulu para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertidur, kemudian mereka shalat tanpa berwudhu.” Dia berkata, “Aku berkata, ‘Aku mendengarnya dari Anas. Dia berkata, ‘Ya, demi Allah’.”

حَدَّثَنِي أَحْمَدُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ صَخْرٍ الدَّارِمِيُّ حَدَّثَنَا حَبَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ أَنَّهُ قَالَ أُقِيمَتْ صَلَاةُ الْعِشَاءِ فَقَالَ رَجُلٌ لِي حَاجَةٌ فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُنَاجِيهِ حَتَّى نَامَ الْقَوْمُ أَوْ بَعْضُ الْقَوْمِ ثُمَّ صَلَّوْا

Telah menceritakan kepadaku Ahmad bin Sa’id bin Shakhr ad-Darimi telah menceritakan kepada kami Habban telah menceritakan kepada kami Hammad dari Tsabit dari Anas bahwasanya dia berkata, “Shalat Isya’ telah diiqamatkan, lalu seorang laki-laki berkata, ‘Aku mempunyai keperluan.’ Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membisikinya hingga para sahabatnya tertidur, atau sebagian sahabatnya. Kemudian mereka shalat (berjama’ah) ‘.”

Terdapat hadits yang menyebutkan batalnya wudhu apabila tertidur :
حَدَّثَنَا حَيْوَةُ بْنُ شُرَيْحٍ الْحِمْصِيُّ فِي آخَرِينَ قَالُوا حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ عَنْ الْوَضِينِ بْنِ عَطَاءٍ عَنْ مَحْفُوظِ بْنِ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَائِذٍ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وِكَاءُ السَّهِ الْعَيْنَانِ فَمَنْ نَامَ فَلْيَتَوَضَّأْ

Telah menceritakan kepada kami Haiwah binSyuraih Al Himshi , telah menceritakan kepada kami Baqiyyah dari Al-Wadlin bin ‘Atha` dari Mahfuzh bin Alqamah dari Abdurrahman bin ‘A`idz dari Ali bin Abu Thalib dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tali pantat adalah kedua mata, maka barangsiapa yang tidur, hendaklah diaberwudhu.“ (Abu Daud, kitab thoharoh no 175, hadits semakna juga diriwayatkan oleh Ahmad 887, Ibn Majah 477, Ad-Darimi dalam sunannya 749)

عَنْ صَفْوَانَ بْنِ عَسَّالٍ رضي الله عنه قَالَ: ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَأْمُرُنَا إِذَا كُنَّا سَفْرًا أَنْ لَا نَنْزِعَ خِفَافَنَا ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيَهُنَّ إِلَّا مِنْ جَنَابَةٍ وَلَكِنْ مِنْ غَائِطٍ وَبَوْلٍ وَنَوْمٍ )

Shafwan Ibnu Assal berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah menyuruh kami jika kami sedang bepergian untuk tidak melepas sepatu kami selama tiga hari tiga malam lantaran buang air besar kencing dan tidur kecuali karena jinabat (HR. At-Tirmizi no. 96, An-nasai no. 127, Ibnu majah no. 471)

Berdasarkan dalil-dalil tersebut di atas, maka para ulama madzhab berbeda pendapat di dalam menetapkan hukum bagi orang yang tidur.

Imam Hanafi :
Jika tidur dilakukan dengan duduk, maka tidak membatalkan wudhu. Jika tidur dalam posisi sholat, baik saat berdiri, ruku’ ataupun sujud tidak membatalkan wudhu, walau tidur dalam waktu yang lama.
Tidur yang membatalkan wudhu adalah selain hal tersebut di atas.

Imam Maliki :
Jika tidur dilakukan dengan pulas hingga tidak menyadari apa yang terjadi di sekelilingnya, maka hal tersebut membatalkan wudhu. Akan tetapi jika tidur dilakukan dalam kondisi yang masih sadar sekitarnya, maka tidur seperti itu tidak membatalkan wudhu.

Imam Syafi’i :
Jika tidur dilakukan sembari duduk dalm kondisi pantatnya menempel di lantai sehingga anusnya dalam kondisi tertutup layaknya botol yang tertutup, maka wudhunya tidak batal. Tidur yang menyebabkan pantatnya tidak menempel di lantai sehingga memungkinkan anusnya terbuka, maka tidur seperti ini membatalkan wudhu.

Imam Hambali :
Tidur dapat membatalkan wudhu walaupun pantatnya dalam posisi menempel di lantai, kecuali tidur sesaat saja (sebentar).

7. Darah

1. Batal Wudhu
Pendapat Imam Hanafi, sedangkan Imam Hambali berpendapat batal jika darah yang keluar sangat banyak.
Hal ini berdasarkan hadits ““Setitik dua titik darah itu tidak mewajibkan wudhu’, kecuali bila darah itu mengalir.” (HR Daruqutni)

2. Tidak batal wudhu
Pendapat Imam Syafi’i, Maliki, dari kalangan shahabat seperti Ibnu ‘Abbas, Ibnu Abi Aufa, Abu Hurairah, Jabir bin Zaid dan lain lain.

Menurut kelompok yang menyatakan tidak batalnya wudhu dikarenakan darah, adalah karena hadits di atas dinyatakan lemah/dhaif oleh Ibnu Hajar.

Adapaun dalil-dalil yang ada justru menguatkan bahwa darah yang mengalir tidak membatalkan wudhu.

حَدَّثَنَا أَبُو تَوْبَةَ الرَّبِيعُ بْنُ نَافِعٍ حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَقَ حَدَّثَنِي صَدَقَةُ بْنُ يَسَارٍ عَنْ عَقِيلِ بْنِ جَابِرٍ عَنْ جَابِرٍ قَالَ خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْنِي فِي غَزْوَةِ ذَاتِ الرِّقَاعِ فَأَصَابَ رَجُلٌ امْرَأَةَ رَجُلٍ مِنْ الْمُشْرِكِينَ فَحَلَفَ أَنْ لَا أَنْتَهِيَ حَتَّى أُهَرِيقَ دَمًا فِي أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ فَخَرَجَ يَتْبَعُ أَثَرَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَزَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْزِلًا فَقَالَ مَنْ رَجُلٌ يَكْلَؤُنَا فَانْتَدَبَ رَجُلٌ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ وَرَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَقَالَ كُونَا بِفَمِ الشِّعْبِ قَالَ فَلَمَّا خَرَجَ الرَّجُلَانِ إِلَى فَمِ الشِّعْبِ اضْطَجَعَ الْمُهَاجِرِيُّ وَقَامَ الْأَنْصَارِيُّ يُصَلِّ وَأَتَى الرَّجُلُ فَلَمَّا رَأَى شَخْصَهُ عَرِفَ أَنَّهُ رَبِيئَةٌ لِلْقَوْمِ فَرَمَاهُ بِسَهْمٍ فَوَضَعَهُ فِيهِ فَنَزَعَهُ حَتَّى رَمَاهُ بِثَلَاثَةِ أَسْهُمٍ ثُمَّ رَكَعَ وَسَجَدَ ثُمَّ انْتَبَهَ صَاحِبُهُ فَلَمَّا عَرِفَ أَنَّهُمْ قَدْ نَذِرُوا بِهِ هَرَبَ وَلَمَّا رَأَى الْمُهَاجِرِيُّ مَا بِالْأَنْصَارِيِّ مِنْ الدَّمِ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ أَلَا أَنْبَهْتَنِي أَوَّلَ مَا رَمَى قَالَ كُنْتَ فِي سُورَةٍ أَقْرَؤُهَا فَلَمْ أُحِبَّ أَنْ أَقْطَعَهَا
Telah menceritakan kepada kami Abu Taubah Ar-Rabi’ bin Nafi’ telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Mubarak dari Muhammad bin Ishaq telah menceritakan kepada saya Shadaqah bin Yasar dari ‘Aqil bin Jabir dari Jabir dia berkata; Kami pernah keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yakni pada perang Dzat Ar-Riqa’, kemudian ada seseorang (dari kaum Muslimin) yang menangkap istri seorang laki-laki kaum musyrikin. Maka dia (sang suami) bersumpah dengan berujar; “Saya tidak akan henti-hentinya membalas, sehingga aku dapat menumpahkan darah seseorang dari kalangan sahabat Muhammad.” Maka dia pun pergi mengikuti jejak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam singgah di suatu tempat, beliau bersabda, “Siapa yang akan menjaga kita?” Maka seorang dari kaum Muhajirin dan seorang dari Anshar memenuhinya. Lalu beliau bersabda, “Berjagalah kalian berdua di mulut celah kedua bukit itu!” Jabir berkata; Tatkala kedua orang tersebut pergi ke celah bukit tersebut, laki-laki dari Muhajirin itu berbaring (tidur), sedangkan laki-laki dari Anshar berdiri (melaksanakan shalat), lalu laki-laki musyrik itu datang. Tatkala si musyrik itu melihat sosok orang Anshar tersebut, dia mengetahui bahwa orang Anshar itu adalah perintis pasukan, maka dia pun melemparkan anak panah ke arahnya dan mengenainya. Maka orang Anshar itu mencabut anak panah tersebut, sampai si musyrik memanahnya dengan tiga anak panah, lalu orang Anshar itu rukuk dan sujud. Kemudian sahabatnya (orang Muhajirin) terbangun. Tatkala si musyrik itu mengetahui bahwa para sahabat telah mengetahuinya, maka dia pun lari. Pada saat laki-laki muhajirin itu melihat tubuh laki-laki Anshar itu berlumuran darah, dia berkata; Subhaanallah (Maha suci Allah), mengapa kamu tidakmembangunkanku ketika dia memanahmu pertama kali? Dia menjawab, Waktu itu saya sedang membaca suatu surah, sementara aku tidak suka memotong bacaan tersebut (hingga selesai). (diriwayatkan oleh al-Bukhari secara mu’allaq (1/280) dan secara maushul oleh Abu Daud (195). Diriwayatkan juga oleh Ahmad (III/343), Ibnu Hibban (1096), al-Hakim (1/156) dan ad-Daruquthni (1/223))

Al Hasan Al Bashri mengatakan,
مَا زَالَ الْمُسْلِمُونَ يُصَلُّونَ فِى جِرَاحَاتِهِمْ
“Kaum muslimin (yaitu para sahabat) biasa mengerjakan shalat dalam keadaan luka.”(Diriwayatkan oleh al-Bukhari secara mu’allaq (1/280) dan secara bersambung oleh Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shahih seperti pada kitab al-Fath (1/281))
وَقَالَ طَاوُسٌ وَمُحَمَّدُ بْنُ عَلِىٍّ وَعَطَاءٌ وَأَهْلُ الْحِجَازِ لَيْسَ فِى الدَّمِ وُضُوءٌ
Thawus, Muhammad bin Ali, ‘Athoo’ dan ulama Hijaz berkata : ‘tidak ada wudhu karena darah yang keluar’. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari secara mu’allaq (1/280) )

Umar bin Al Khottob pada malam hari saat ‘Umar ditusuk. Ketika tiba waktu Shubuh, ia pun membangunkan ‘Umar untuk shalat Shubuh. ‘Umar mengatakan,
وَلَا حَظَّ فِي الْإِسْلَامِ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ
“Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.” Lalu ‘Umar shalat dalam keadaan darah yang masih mengalir. (Diriwayatkan oleh Malik dalam Muwatho’nya (2/54))

8. Tertawa Di Dalam Sholat

1. Batal Wudhu
Menurut Imam Hanafi
hadits dari Abu al-Aliyah, “Seorang laki-laki yang buta matanya datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara beliau sedang mengimami orang shalat. Lalu ia terperosok dalam sebuah lubang di masjid, maka tertawalah beberapa orang makmum. Setelah itu Nabi memerintahkan kepada yang tertawa untuk mengulangi wudhu dan shalatnya.” (Isnadnya dhaif sekali, diriwayatkan oleh ad-Daruquthni (1/162) dan Ibnu ‘Adi (11/716))

2. Tidak Batal Wudhu
Menurut Imam Hambali, Maliki dan Syafi’i
Dalil :
وَقَالَ جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ إِذَا ضَحِكَ فِى الصَّلاَةِ أَعَادَ الصَّلاَةَ ، وَلَمْ يُعِدِ الْوُضُوءَ
Shahih secara mauquf, diriwayatkan oleh al-Bukhari secara mu ‘allaq(1/280) dan secara bersambung oleh al-Baihaqi (1/144) dan ad-Daruquthni (1/172)

9. Memandikan Jenasah

a. Batal Wudhu
Imam Hambali berpendapat seseorang yang memandikan mayat, wudhunya batal , berdasarkan hadits Aisyah:
“ Rasulullah SAW mandi karena empat sebab: karena janabah, hari Jum’at, berbekam dan karena memandikan mayat.” ( Abu Dawud 1/96 no 3160)

“Barang siapa memandikan mayat maka hendaknya ia mandi.” (Tarikh al-Kabir I/1398)

“Barangsiapa yang memandikan jenazah, hendaklah ia mandi dan barangsiapa yang mengusung jenazah, hendaklah ia berwudhu.” (Abu Dawtid (3162), at-Tirmidzi (993), Ibnu Majah (1463) dan Ahmad (II/433), Baihaqi dalam “Sunan Kubro” (1/301))

b. Tidak Batal Wudhu
Ini adalah pendapat Imam Hanafi, Imam Maliki dan Imam Syafi’i.

Untuk yang berpendapat “tidak batal” wudhu, dikarenakan menurut mereka hadits dari Aisyah tersebut atas, di dalam jalur periwayatnya :
Abu Dawud –> Utsman bin Abi Syaibah –> Muhammad bin Bisyrin –> Zakariyah –> Mush’ab bin Syaibah –> Thalqin bin Habib Al Anzi –> Abdillah bin Zubair –> Aisyah

Di dalam jalur perawinya, terdapat Mush’ab Bin Syaibah, yang menurut Imam Ahmad, haditsnya munkar dan menurut Abu Daud dhaif (hadits darinya lemah), menurut Ibnu Adi Takalamu Fi Hifzhihi (Dibicarakan hafalannya) .

Adapun hadits : “Barang siapa memandikan mayat maka hendaknya ia mandi.” (Tarikh al-Kabir I/1398)
Disebut adalah hadits yang terputus sampai Abu Hurairah saja (mauquf), sehingga tidak bisa dijadikan dalil.

Atas hadits “Barangsiapa yang memandikan jenazah, hendaklah ia mandi dan barangsiapa yang mengusung jenazah, hendaklah ia berwudhu.” (Abu Dawtid (3162), at-Tirmidzi (993), Ibnu Majah (1463) dan Ahmad (II/433), Baihaqi dalam “Sunan Kubro” (1/301)).

Hadits tersebut shahih karena perawi di dalam riwayat Baihaqi dalam “Sunan Kubro” (1/301) semua tsiqoh dan semua perawi dari Bukhori Muslim, sedangkan riwayat yg lain dinilai ada kelemahannya.

Atas hadits tersebut, mayoritas ulama di atas menyatakan hadits tersebut menyatakan hukum sunnah dan bukan wajib.

Hal tersebut diperkuat oleh beberapa hadits :
“Tidak wajib bagi kalian ketika memandikan mayat untuk mandim karena seorang Muslim itu suci dan seorang Muslim tidak najis, cukup bagi kalian mencuci tangannya saja” (HR. Baihaqi).
“bahwa Asmaa’ binti ‘Umais memandikan Abu Bakar Ash-Shidiiq ketika beliau wafat, lalu beliau keluar dan bertanya kepada orang yang hadir dari kalangan Muhajirin, beliau berkata : ‘aku sedang puasa dan pada hari ini sangat dingin sekali, apakah wajib bagi saya berwudhu?’. Mereka menjawab : ‘tidak wajib’”. (HR. Malik).
Hadits Ibnu Umar Rodhiyallahu anhuma, beliau berkata :
“Kami (para sahabat) memandikan mayat, diantara kami ada yang mandi dan ada juga yang tidak” (HR. Daruquthni dan Al Khothib)

Dengan dalil yang ada, akan menunjukkan tidak batalnya wudhu bila memandikan jenasah, hanya sunnah saja hukumnya.

10. Bekam

Pembahasan tentang bekam sama dengan pembahasan tentang darah yang keluar, yakni terjadi perbedaan pendapat di dalamnya.

Imam Hanafi dan Imam Hambali mengatakan berbekam mebatalkan wudhu.

Imam Maliki dan Imam Syafi’i mengatakan, berbekam tidak membatalkan wudhu.

Pembahasan tentang asal muasal perbedaan pendapat tersebut sudah dibahas di bab tentang “darah” di atas.

11. Murtad

a. tidak membatalkan wudhu
Ini pendapat Imam Hanafi, Imam Maliki dan Imam Syafi’i.

b. batal wudhu
Ini pendapat Imam Hambali, berdasarkan firman Allah :
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. ( QS. Az-Zumar: 65 )

Wudhu adalah salah satu amal ibadah, maka jika pelaku murtad (mempersekutukan Allah) akan batallah wudhunya..

12. Hadats Besar

a. Junub
Ayat Al Quran :
وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا
”..jika kamu junub maka bersucilah (mandilah)..” (Al Maidah;6)

Maksud dari ” فَاطَّهَّرُوا” adalah perintah mandi, sesuai dalil di bawah ini :

عن أبي هريرة رضي الله عنه قَالَ: أُقِيْمَتِ الصَّلاَةُ وَ عُدِّلَتِ الصُّفُوْفُ قِيَامًا فَخَرَجَ إِلَيْنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَلَمَّا قَامَ فىِ مُصَلاَّهُ ذَكَرَ أَنَّهُ جُنُبٌ فَقَالَ لَنَا: مَكَانَكُمْ ثُمَّ رَجَعَ فَاغْتَسَلَ ثُمَّ خَرَجَ إِلَيْنَا وَ رَأْسُهُ يَقْطُرُ فَكَبَّرَ فَصَلَّيْنَا مَعَهُ
Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, “Sholat telah diikomatkan dan shaff telah diluruskan, lalu keluarlah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam kepada kami. Ketika beliau telah berdiri di tempat sholat, beliau teringat masih dalam keadaan junub. Lalu beliau bersabda kepada kami, “Tetaplah di tempat kalian!”. Kemudian beliau kembali dan mandi lalu keluar kepada kami sedangkan kepalanya masih menetes (air). Lalu Beliau bertakbir dan kamipun sholat bersamanya. [HR al-Bukhoriy: 275, 639, 640, Muslim: 605, Abu Dawud: 235, an-Nasa’iy: II/ 81-82, 89 dan Ahmad: II/ 283)

َوَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا اَلْأَرْبَعِ ثُمَّ جَهَدَهَا فَقَدْ وَجَبَ اَلْغُسْلُ
“Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila seorang laki-laki duduk di antara empat bagian (tubuh) wanita lalu mencampurinya maka ia telah wajib mandi.” ” (HR. Al-Bukhari no. 291 dan Muslim no. 348)
Dalam riwayat Muslim ada tambahan:
وَإِنْ لَمْ يُنْزِلْ
“Sekalipun ia tidak keluar mani.”

Menurut ijma’, setiap hal yang menyebabkan mandi, berati hal tersebut juga menyebabkan batalnya wudhu’.

b. Haid dan Nifas
Dalil :
دَعِي الصَّلاَةَ قَدْرَ اْلأَيَّامِ الَّتيِ كُنْتِ تَحِيْضِيْنَ فِيْهَا ثُمَّ اغْتَسِلِيْ وَ صَلِّي
tinggalkanlah sholat seukuran hari yang biasanya engkau haidl kemudian mandi dan sholatlah”. (HR al-Bukhoriy: 325, 228, 306, 320, 331, Muslim: 333, an-Nasa’iy: I/ 122, 124, Ahmad: VI/ 194 dan ad-Darimiy: I/ 198)

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : كَانَتِ النُّفَسَاءُ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِه وَسَلَّمَ تَقْعُدُ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا أَوْ أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةُ .
Artinya : Dari ummi Salamah -رضي الله عنها – beliau berkata: “Wanita yang sedang mengalami nifas pada zaman nabi duduk (mengeluarkan darah) selama 40 hari atau 40 malam.“ (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah)

Hukum nifas dan haid adalah sama, karena haidh sering disebut oleh rasulullah sebagai nifas juga, seperti di dalam hadits Bukhori Muslim rasulullah pernah berkata kepada Aisyah yang sedang haidh,
لَعَلِّكِ نَفِسْتِ
“Barangkali saja engkau nifas.”

Kata Ibnu Qudamah : Nifas sama dengan haid karena sesunguhnya darah nifas adalah darah haid, karena itu ketika seorang wanita hamil maka dia tidak haid sebab darah haid tersebut dialihkan menjadi makanan janin. Maka tatkala janin tersebut keluar, maka keluar juga darah karena tidak ada pengalihannya maka dinamakan nifas. (Lihat Al-Mughny: 1/277).

Kata Asy-Syirazy : Adapun darah nifas maka mewajibkan mandi karena sesungguhnya itu adalah haid yang terkumpul, dan diharamkan puasa dan jima’ dan gugur kewajiban sholat maka diwajibkan mandi seperti haid (lihat Al-Majmu’: 2/167)

Kata Imam An-Nawawy : Ulama telah sepakat tentang wajibnya mandi karena sebab haid dan sebab nifas dan di antara yang menukil ijma’ pada keduanya adalah Ibnu Mundzir dan Ibnu Jarir dan selainnya (Majmu’ 2/168).

Kata Ibnu Qudamah : tidak ada khilaf tentang wajibnya mandi karena haid dan nifas (Al-Mughny 1/277).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s