Menjawab Fitnah Misionaris tentang Teman Yang Maha Tinggi/Tertinggi

Ada sebuah fitnah keji dari para misionaris tentang teman yang maha tinggi di dalam sebuah hadits yang mereka copas, yakni berbunyi :

Doa Nabi Muhammad SAW sebelum beliau wafat: Ya Allah! Ampunilah saya! Kasihanilah saya dan hubungkanlah saya dengan Teman Yang Maha Tinggi …(Hadis Shahih Bukhari 1573)Lalu beliau mengangkat tangannya sambil mengucapkan: “Teman Yang Maha Tinggi” Lalu beliau wafat dan rebahlah tangan beliau.(Hadits Shahih Bukhari 1574)

Kemudian mereka menghubungkan dengan dalil yang lainnya :
” Saya yang lebih dekat Isa anak Maryam di dunia dan di akhirat. Semua nabi itu bersaudara kerana seketurunan. Ibunya berlainan sedang agamanya satu. (Hadis Shahih Bukhari 1501)”

Dengan dalil itu mereka langsung menyimpulkan, bahwa yang dimaksud teman yang tertinggi adalah Yesus. Kata mereka, Yesus adalah yang maha tinggi, jadi mereka langsung menyimpulkan bahwa Nabi muhammad mengakui ketuhanan Yesus.. ckckck..

Nanti akan kita saksikan kebodohan mereka ya.. he he..

Pertama mari kita buka hadits yang benar, bukan terjemahan doank. Sebenarnya nomor haditsnya gak bener, bukan no 1574, tetapi yah kita khan maklum dengan orang yang modalnya copasan doank. Hadits tersebut sebenarnya berbunyi seperti di bawah ini :

أَفَاقَ فَأَشْخَصَ بَصَرَهُ إِلَى سَقْفِ الْبَيْتِ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ الرَّفِيقَ الْأَعْلَى فَقُلْتُ إِذًا لَا يَخْتَارُنَا وَعَرَفْتُ أَنَّهُ الْحَدِيثُ الَّذِي كَانَ يُحَدِّثُنَا وَهُوَ صَحِيحٌ قَالَتْ فَكَانَتْ آخِرَ كَلِمَةٍ تَكَلَّمَ بِهَا اللَّهُمَّ الرَّفِيقَ الْأَعْلَى

Setelah itu, beliau menatap pandangannya ke atas sambil mengucapkan: Ya Allah, pertemukanlah aku dengan kekasihku, Allah Yang Maha Tinggi! ‘ Aisyah berkata; Dengan demikian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memilih untuk hidup Iebih lama lagi bersama kami. Aisyah pernah berkata; Saya teringat ucapan yang pernah beliau sampaikan kepada kami ketika beliau masih sehat; Itulah kata-kata terakhir yang pernah beliau ucapkan, yaitu: ‘Ya Allah, pertemukanlah aku dengan kekasihku/temanku Yang Maha Tinggi.’ (HR.Bukhari No:4104)

Atau hadits yang lainnya :

رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَفَعَ يَدَهُ أَوْ إِصْبَعَهُ ثُمَّ قَالَ فِي الرَّفِيقِ الْأَعْلَى ثَلَاثًا ثُمَّ قَضَى

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat tangannya, atau jarinya seraya berkata; ‘Arrafiiqul A’laa, Arrafiiqul A’laa (Ya Allah, sekarang aku memilih kekasihku yang tertinggi sekarang aku memilih kekasihku yang tertinggi) sebanyak tiga kali. Lalu beliau wafat. (HR.Bukhari No.4084)

Untuk mengetahui pengertian yang dimaksud dalam hadits tersebut, kita harus mengetahui bahasa asli dari hadits tersebut. Yang mereka masalahkan adalah kalimat :

اللَّهُمَّ الرَّفِيقَ الْأَعْلَى
Allaahumma ar rafiiqul a’la..
‘Ya Allah, pertemukanlah aku dengan kekasihku/teman-temanku Yang Maha Tinggi.’

فِي الرَّفِيقِ الْأَعْلَى ثَلَاثًا
Fi ‘Arrafiiqil A’laa, fi ‘Arrafiiqil A’laa (Ya Allah, sekarang aku memilih kekasih-kekasihku/teman-temanku yang tertinggi sekarang aku memilih kekasihku yang tertinggi) sebanyak tiga kali.

Yang diterjemahkan kekasihku/temanku di dalam kalimat tersebut adalah الرَّفِيقَ (bacanya :arrafiiqa/arrafiiqu/arrafiiqi). Belakang dibaca dengan bunyi “a” atau “u” atau “i” di dalam kaidah bahasa arab tergantung di depan kata tersebut bentuknya apa. Tetapi kita tidak sedang membahas hal perubahan bunyi di belakang kata, karena tidak akan selesai dalam waktu yang singkat. Akan tetapi kita akan membahas kata arrafiiq saja, untuk mengetahui kandungan makna di dalam hadits tersebut.

Arrafiiqu itu adalah kata benda (isim) yang berbentuk jama’, sedangkan bentuk tunggalnya adalah “rifqun” yang artinya teman/kekasih, kemudian kan berubah jadi jadi “rifqaani” artinya teman dengan jumlah 2 orang, kemudian akan terbentuk rafiiqun yang artinya teman lebih dari 2 (jama’).

Mengapa ulama tidak ada yang menafsirkan dalam hadits tersebut di atas sebagai Yesus..?! Itu karena para ulama paham bahasa Arab dan bukan modal terjemahan doank kayak para musuh Islam yang gak punya kualitas itu.

Bentuk kata di dalam hadits tersebut “ar rafiiqu” adalah bentuk jama’, artinya teman yang lebih dari 2 orang. Jika mau dipaksain di dalam kalimat hadits tersebut agar yang dimaksud teman adalah Yesus, maka bentuknya harus menjadi tunggal dulu, bukan “arrafiiqun” tetapi “rifqun”.
Sehingga kalimatnya akan berbunyi “Allahummar “rifqal a’la” dan bukan “Allahummar rafiiqal a’la seperti bunyi di dalam hadits tersebut di atas. Paham..?!

Sedangkan kata kata “ar” di depan kata “rafiiqun” adalah berasal dari alif lam (al) untuk membentuk isim ma’rifat, karena sebelumnya bentuknya adalah isim nakirah. Di dalam bahasa Inggris biasa menggunakan kata “the” atau bahasa Spanyol menggunakan kata “el”.
Kata “al” di depan kata Rafiiqun menunjukkan semua teman yang paling tinggi yang kalau dalam bahasa Arab dikatakan sebagai lil istighraq (fungsi meliputi) bagi jenisnya, dan bukan hanya untuk satu teman saja, karena bentuknya adalah jama’.

Isim ma’rifat adalah kata benda yang sudah dikenal, memberikan pengertian “rafiiqun” yang disebut Rasulullah di dalam hadits tersebut adalah “rafiiqun” yang sudah pernah diterangkan dan disampaikan oleh Rasulullah sebelumnya.

Rasulullah pernah menerangkan kata rafiiqun itu di dalam ayat :

وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّۦنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّٰلِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُو۟لَٰٓئِكَ رَفِيقًۭا
Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu : Para nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah sebaik-baik rafiiqan (teman) ((QS.An-Nissa’:69)

Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud “ar-rafiiqun” di dalam hadits riwayat Bukhori tersebut di atas adalah “rafiiqun” yang tercantum dalam QS 6;69.

Perhatikan kata “rafiiqan” dalam ayat tersebut di ayat tersebut, adalah sama dengan kata “rafiiqun” di dalam hadits tentang teman yang tertinggi di atas, sama-sama berbentuk jama’.
Sekaranag siapakah mereka yang dimaksud “rafiiqun” itu, ..?! mereka adalah : Para nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Mereka memiliki kedudukan yang tertinggi di dalam syurga.

Nah, jika ingin menafsirkan sebuah dalil, harus dilihat dahulu dalil sejenisnya, bukan asal comot dalil. Karena di dalam hukum menafsirkan sebuah dalil adalah dengan mengambil dalil yang semakna untuk menerangkan maksud dari dalil tersebut. Dan untuk menafsirkan sebuah dalil, harus mengetahui juga bahasa asli dari dalil tersebut. Terbukti dari contoh di atas bukan..?!
Bentuk jama’, mau dipaksain jadi bentuk tunggal, jadi bahan tertawaan deh jadinya.. cp d..

Jika ada pertanyaan, diterjemahan itu menggunakan kata “maha” atau “ter”, itu khan seharusnya satu orang yang paling tinggi. Di dalam bahasa arab sebenarnya tidak ada kata “maha” atau “ter”, adapun terjemahan yang menggunakan kata tersebut hanyalah pilihan kata dari si penterjemah.

Apakah penterjemah itu salah..?! tidak sama sekali, karena di dalam bahasa Indonesia pun kata “maha” atau kata “ter” bisa digunakan untuk jumlah yang lebih dari satu. Misal dalam sebuah acara penyerahan penghargaan bintang Mahaputra Adipradana, kemudian sang pembawa acara berkata “ para hadirin yang terhormat..bla..bla..bla.. Inilah putera puteri terbaik bangsa..bla..bla..bla..”
Bintang Mahaputra, artinya bintang untuk putera puteri terbaik negeri ini, karena maha putera maksudnya adalah putera terbaik. Dan itu jumlahnya bukan hanya satu.. betul..?!
Ada kata “maha”siswa padahal orangnya gak hanya satu, ada kata “maha”guru padahal orangnya juga gak satu doank..dll.dl..
Kalimat “..hadirin yang terhormat..”, jumlah hadirin itu lebih dari satu dan semuanya disebut “terhormat” padahal menggunakan kata “ter”. Betul..?!
Kalimat “..putera puteri terbaik..”, perhatikan penggunaan kata “ter” dalam kata “terbaik”, padahal jumlah putera-puteri di situ bukan hanya satu. Paham..?!

Adapun hadits tentang Nabi Muhammad itu dekat dengan Nabi Isa di dunia dan akhirat, gak ada hubungannya dengan teman yang tertinggi. Karena seperti sudah kita ketahui yang dimaksud “ar rafiiqu” di dalam hadits itu ternyata bentuknya jama’, artinya teman yang banyak. Semua para Nabi dan Nabi Isa adalah hanya salah satunya saja, selain para nabi tersebut juga ada para shiddiiqiin, para syuhada dan juga para orang shalih.

Jika mau maksain pengertiannya jadi Nabi Isa doang, bentuknya harus “dipalsukan” dahulu jadi bentuk tunggal.
Nah, sekarang sudah terbukti bukan..?! bahwa telah terjadi pembohongan publik dan penyebaran kedustaan oleh para misionaris Kristen tentang sebuah dalil yang mereka sendiri tidak tahu bahasa aselinya seperti apa bahkan membacanya saja juga tidak bisa. Itu memang karena mereka terbiasa menggunakan cara-cara licik menipu umat dan membuat kebohongan publik demi tujuan mereka, memurtadkan kaum muslimin. Coba deh baca dalil-dalil di bawah ini :

“Sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita. ” (Filipi 1:18 TB)
“Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa?” (Roma 3:7 TB)

Sebenarnya yang dimaksud hadits bahwa Nabi Muhammad itu dekat dengan nabi Isa,yaitu karena Nabi setelah Nabi Isa itu adalah hanya Nabi Muhammad dan tidak ada nabi yang lainnya. Kemudian di akhir jaman, Nabi Isa akan turun lagi dan berada di barisan umat Nabi Muhammad untuk mematahkan salib-salib dan memerangi musuh-musuh umat Nabi Muhammad yang lainnya.Nabi Isa akan saling bahu membahu dengan umat Nabi Muhammad, dan nabi Isa juga ikut sholat berjamaah di tengah-tengah umat Nabi Muhammad. Nabi Isa pada akhir jaman menjadi bagian dari umat Nabi Muhammad.

Ada kedekatan secara jarak waktu ke-nabi-an, juga secara emosional (karena Nabi Isa akan menjadi bagian dari umat Nabi Muhammad) dan juga segala sejarah yang akan terjadi pada akhir jaman nanti. Nabi yang lainnya tidak seperti itu..

Kesimpulannya : jika tidak mengerti bahasa Arab, jangan sok ngerti lah.. nanti akan ketahuan bohongnya.. nanti akan kelihatan dustanya.. betul..?!
Tapi harap dimaklumi saja, lha wonk Biblenya saja sudah berpesan untuk membuat berita palsu, karena itu akan bisa membuat Paulus bersuka cita dan bergembira ria khoq, baca tuh Filipi 1:18 dan Roma 3:7. Betul..?!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s