Meninggalkan Sholat Berjamaah


Tulisan ini bukan hendak menghakimi, akan tetapi sekedar mengajak kita untuk merenungkan pesan-pesan Rasululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam berkenaan tentang hadits-hadits meninggalkan sholat berjamaah.

1. Kisah orang buta minta dispensasi :

Untuk itu saya hendak mengajak kita merenung sejenak seolah-olah kita berada di posisi seorang shahabat buta yang meminta dispensasi agar tidak melaksanakan sholat berjamaah di masjid. Shahabat tersebut bertanya kepada Rsululloh :

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِى قَائِدٌ يَقُودُنِى إِلَى الْمَسْجِدِ. فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّىَ فِى بَيْتِهِ فَرَخَّصَ لَهُ فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ « هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلاَةِ ». فَقَالَ نَعَمْ. قَالَ « فَأَجِبْ ».
”Wahai Rasulullah, saya tidak memiliki penunjuk jalan yang dapat mendampingi saya untuk mendatangi masjid.” Maka ia meminta keringanan kepada Rasulullah untuk tidak shalat berjama’ah dan agar diperbolehkan shalat di rumahnya. Kemudian Rasulullah memberikan keringanan kepadanya. Namun ketika lelaki itu hendak beranjak, Rasulullah memanggilnya lagi dan bertanya,“Apakah kamu mendengar adzan?” Ia menjawab,”Ya”. Rasulullah bersabda,”Penuhilah seruan (adzan) itu.” (HR. Muslim no. 653).

Apa jawaban Rasululloh pada shahabat buta yang meminta dispensasi tersebut?! yang menggunakan alasan bahwa beliau buta dan tidak ada yang menuntunnya ke masjid ?!
Jawaban Rasululloh : “Tidak ada dispensasi”.. betul ?!
Lalu bagaimana keadaan kita saat ini, yang tidak buta dan mata kita sangat sehat untuk bisa menuntun kita menuju masjid ?!
Pernahkan kita membayangkan jika saja kita menghadap Rasululloh dan bertanya kepada beliau, minta dispensasi tidak sholat di masjid ?! apa alasan kita ?!

Lebih dipertegas lagi, seorang shahabat buta bernama Abdulloh bin Ummi Maktum secara lebih ekstrim menceritakan keadaan berbahaya yang bisa jadi menghadang beliau yang buta saat berjalan ke masjid. Shahabat tersebut bertanya kepada Rasululloh :

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ الْمَدِينَةَ كَثِيرَةُ الْهَوَامِّ وَالسِّبَاعِ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « أَتَسْمَعُ حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَىَّ عَلَى الْفَلاَحِ فَحَىَّ هَلاَ ».
“Wahai Rasulullah, di Madinah banyak sekali tanaman dan binatang buas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kamu mendengar seruan adzan hayya ‘alash sholah, hayya ‘alal falah? Jika iya, penuhilah seruan adzan tersebut”.” ( Abu Dawud dalam “Al-Shalat” 553 dan Nasa’i dalam “Imamah” 2/110 dan Ahmad 3/423 serta Ibnu Majah dalam “Al-Masajid” 792).

Apakah alasan yang bisa kita ajukan kepada Rasululloh agar tidak pergi ke masjid sholat berjamaah ?!
Sedangkan alasan yang sedemikian ekstrim sekalipun, seperti yang disampaikan seorang shahabat buta yang tak ada penuntun jalan bahkan juga harus melewati jalan yang berbahaya, itu tidak diterima oleh Rasululloh permintaan dispensasinya.

Kita bisa membayangkan, jika saja kita bertanya kepada Rasululloh shollallahu ‘alaihi wa sallam dan minta dispensasi agar tidak ke masjid, kita sudah pasti jawabannya secara pasti : “Tidak ada dispensasi..”. Betul ?!

Akankah kita tetap nekat juga untuk tidak pergi ke masjid, walau Rasululloh di hadapan kita sudah menjawab “tidak ada dispensasi” bagi kita untuk tidak pergi ke masjid ?! benar senekat itukah kita pada pemimpin besar dunia dan akhirat itu ?! hmm..


2. Rasululloh murka :

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
والذي نفسي بيده لقد هممت أن آمر بحطب فيحطب ثم آمر بالصلاة فيؤذن لها ثم آمر رجلا فيؤم الناس ثم أخالف إلى رجال فأحرق عليهم بيوتهم
”Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, ingin kiranya aku memerintahkan orang-orang untuk mengumpulkan kayu bakar, kemudian aku perintahkan mereka untuk menegakkan shalat yang telah dikumandangkan adzannya, lalu aku memerintahkan salah seorang untuk menjadi imam, lalu aku menuju orang-orang yang tidak mengikuti sholat jama’ah, kemudian aku bakar rumah-rumah mereka”. (HR. Shahih Bukhari dalam “Adzan” 744, Muslim dalam “Al-Masajid” 751).

Kita coba membayangkan bahwa diri kitalah yang dimaksud Rasululloh tersebut, yakni seseorang yang sedang dimurkai pemimpin besarnya hingga sang pemimpin hendak membakar rumah kita dikarenakan begitu jengkelnya pada kita.

Cobalah bayangkan seorang pemimpin besar kita yang ada saat ini, siapapun dia, kemudian memarahi diri kita. Siapapun juga kita, pasti akan keder, nyiut nyali, keringat dingin dan sejenisnya karena takut, dan kita juga akan merasa takut mengulangi kesalahan yang sama yang akan membuat sang pemimpin besar tersebut bisa meledak kembali murkanya. Betul ?!

Berkali-kali kita akan meminta maaf dan kemudian kita akan berjanji kepadanya untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Betul ?!

Kemudian akankah kita meneruskan tradisi untuk tidak pergi ke masjid dengan mengulang kesalahan yang sama yang membuat Rasululloh, sang pemimpin besar dunia dan akhirat itu, kecewa dan murka kepada kita ?!
dan menganggap murka Rasululloh sang pemimpin besar itu hanya sebagai angin lalu saja ?! setega itukah kita ?!

Sudah kali keberapakah kita memancing kecewa dan murka pemimpin besar kita, Rasululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam ?! dan kita tenang-tenang saja ?!
kita sudah kali kesekian meninggalkan sholat berjamaah, dan berarti sudah kali kesekian pula kita mengecewakan Rasululloh.. sungguh itu membuat Rasululloh sangat sangat kecewa kepada kita.. sadarkah kita saudaraku ?!

Renungkanlah saudara-saudaraku.. renungkanlah..!!!
Berjanjilah untuk tidak mengecewakan Rasululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam lagi, duhai saudaraku..
Mengapa kita saat ini takut mengecewakan pemimpin di tempat kerja kita, dan kita tidak perduli untuk selalu mengecewakan Rasululloh ?!


3. Tidak sempurna sholatnya :

مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ فَلَا صَلَاةَ لَهُ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ
“Barangsiapa yang mendengar azan lalu tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya, kecuali bila ada uzur.” (Hr. Abu Daud dan Ibnu Majah.)

Bagaimana jika kita mendengar langsung kalimat tersebut kepada kita ?! akankah kita nekat untuk tidak mendatangi sholat berjamaah tanpa alasan apapun ?!

Pada peringatan yang diberikan oleh seorang pemimpin kecil, entah pemimpin di tempat kerja kita, atau pemimpin di sekolah kita, kita akan takut jika tidak melaksanakannya. Bagaimana jika yang memberikan peringatan tersebut adalah seorang pemimpin dunia dan akhirat kita ?! masih mau anggap angin lalu ?! hmmm..


Saya kira cukuplah tiga hal tersebut sebagai bahan renungan bagi kita, kaum muslimin, yang mengakui bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Alloh bagi kita. Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan pesan dari para murid utama Rasulullohshollallohu ‘alaihi wa sallam :

وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلَّا مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ
“Menurut pendapat kami (para sahabat), tidaklah seseorang itu tidak hadir shalat jamaah, melainkan dia seorang munafik yang sudah jelas kemunafikannya. Sungguh dahulu seseorang dari kami harus dipapah di antara dua orang hingga diberdirikan si shaff (barisan) shalat yang ada.” (HR. Muslim no. 654)

Serta saya akan mengutip kalimat salah satu pemimpin madzhab dunia saat ini :

وأما الجماعة فلا ارخص في تركها إلا من عذر
“Adapun shalat jama’ah, aku tidaklah memberi keringanan bagi seorang pun untuk meninggalkannya kecuali bila ada udzur.(Ash Shalah wa Hukmu Tarikiha hal. 107)

Semoga benar-benar bisa dijadikan bahan renungan bagi kita semuanya, termasuk penulis.. aamiin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s