Membaca Doa Buka Puasa

Membaca doa berbuka puasa dilakukan setelah dibatalkan puasanya atau sebelum dibatalkan ? mohon penjelasannya..

Jawab :

Memang tidak ada keterangan dari Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat kapan saat doa itu di ucapkan, sebelum berbuka puasa atau setelah dibatalkan puasanya. Karena kondisi dua hal tersebut masih bisa juga disebut dengan saat-saat berbuka puasa. Betul ?

Oleh karena itu, untuk menjawabnya haruslah kita gunakan pendekatan arti dari isi doa yang dibaca tersebut, selain juga ditinjau dari sisi kaidah Bahasa arab yang digunakan.

Doa buka puasa sesuai dengan dalil :

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
“Telah hilang rasa haus, urat-urat telah basah dan pahala telah tetap, insya Allah.”

Kata ذَهَبَ (dzahaba) adalah bentuk kata kerja lampau (fi’il madhi) sehingga artinya menjadi telah pergi atau telah hilang. Begitu juga kata ابْتَلَّتْ (ibtallat) juga bentuk fi’il madhi sehingga artinya telah basah.

Bagaimana dengan doa : Allohumma laka shumtu ..

Terlepas dari adanya pendapat ulama yang mendhoifkannya, sebagai pengetahuan mari coba kita kupas juga kalimat yang ada di dalamnya.

اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ
Allahumma laka Shumtu wabika aamantu wa’ala risqika afthartu birahmatika yaa arhamar raahimiin.

Perhatikan kata صُمْتُ (shumtu) adalah juga berbentuk kata kerja bentuk lampau (fi’il madhi) sehingga artinya “telah berpuasa”. Juga perhatikan kata أَفْطَرْتُ (Afthortu) adalah berbentuk fi’il madhi sehingga artinya menjadi “telah berbuka” dan bukan akan/belum berbuka.

Menilik bentuk kata kerja yang digunakan tersebut adalah fi’il madhi yang berarti sudah dilakukan, sesuai kaidah bahasa arab umum yang berlaku, maka hendaknya membaca doa tersebut di atas adalah setelah dibatalkannya puasa.

Memang ada di dalam Al Quran penggunaan kata kerja bentuk lampau atau fi’il madhi digunakan untuk sekarang atau yang akan datang semisal :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ –
“Hai orang-orang yang beriman, jika kalian hendak mengerjakan shalat maka basuhlah wajah kalian dan tangan kalian sampai siku-siku,…. (QS Al Maidah;6)

Ayar tersebut menerangkan tentang berwudhu sebelum sholat. Sedangkan kata قُمْتُمْ (qumtum) itu adalah bentuk lampau juga, sehingga bisa juga bermakna kalian telah selesai sholat. Karena bentuk kata kerja sekarang dan akan datangnya (fi’il mudhori’) adalah “taquumuuna”.

Akan tetapi gaya bahasa Al Quran tersebut menurut para mufassir termasuk “fi’il madhi syuruk” yang bermakna dan menerangkan kondisi “sudah akan dilaksanakan sholat”. Karena memang diterangkan dalam banyak dalil tentang hal tersebut, yakni berwudhu saat kondisi akan sholat. Ini tentu berbeda dengan bacaan doa buka puasa tersebut di atas.

Sedangkan kembali ke masalah doa buka puasa tersebut, tidak diterangkan dalam dalil-dalil yang lainnya kapan pelaksanaannya. Sehingga yang digunakan adalah kaidah bahasa arab yang biasa digunakan oleh pegguna bahasa arab secara umum yakni bentuknya sudah dilaksanakan (fi’il madhi).

Kesimpulannya adalah, sesuai kaidah bahasa arab yang benar dan umum berlaku yakni bahwa fi’il madhi itu digunakan untuk hal yang sudah terjadi, maka pembacaan doa buka puasa sebaiknya dilakukan setelah puasa tersebut dibatalkan. Saat di mana “Telah hilang rasa haus, urat-urat telah basah dan pahala telah tetap” (sesuai teks doa yang ada).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s