Sempurnakan Sholatmu

Jika kita ditanya, “sudah sempurnakah semua sholat-sholatmu selama ini ?!“. Mungkin kita akan sedikit mengernyitkan dahi berusaha sedikit mengingat-ingat dan kemudian menggelengkan kepala yang mengisyaratkan “tidak”. Bahkan bisa jadi tanpa berpikir lebih panjang dan dengan tanpa gaya mengernyitkan dahi, kita akan segera menjawab dengan kata : “tidak”.

Memang adalah hal yang sulit jika kita akan menjawab bahwa semua sholat-sholat kita selama ini sudah benar-benar sempurna. Itu karena kesempurnaan sholat bukan hanya sekedar dinilai dari gerakan fisik tubuh kita saja, akan tetapi lebih dari itu yakni menghadirkan khusyuk. Sudah benarkah gerakan sholat kita sesempurna gerakan yang diajarkan oleh Rasululloh ? Sudah benarkan bacaan-bacaan sholat kita sesempurna bacaan yang diajarkan oleh Rasululloh ? Sudah khusyukkah kita sesempurna khusyuk yang dikehendaki Alloh dan Rasul-Nya ?

Mungkin kita bisa mengatakan bahwa selama ini kita sudah belajar tata cara sholat dengan benar, kemudian yakin gerakan sholat kita sudah benar. Bahkan kita sudah menuntut ilmu tinggi sehingga bacaan tartil kita juga bisa sempurna bahkan arti bacaan yang kita baca pun kita tahu. Akan tetapi bisakah juga kita menghadirkan khusyuk yang sempurna di dalam setiap sholat kita ?

Bisa jadi satu sholat kita lakukan dengan khusyuk yang sempurna, akan tetapi akankah kita bisa selalu menghadirkan khusyuk yang sempurna itu di dalam setiap sholat kita ? Mungkin satu sholat bisa kita hadirkan khusyuk yang sempurna (misalkan bisa demikian), akan tetapi di sholat-sholat berikutnya pasti akan sulit kita dapatkan tingkat khusyuk yang serupa. Betul ?

Keadaan tersebut sebenarnya sudah diindikasikan oleh Rasululloh di dalam sabda beliau :

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرِفُ وَمَا كُتِبَ لَهُ إِلاَّ عُشْرُ صَلاَتِهِ تُسْعُهَا ثُمُنُهَا سُبُعُهَا سُدُسُهَا خُمُسُهَا رُبُعُهَا ثُلُثُهَا نِصْفُهَا
“Sesungguhnya seseorang ketika selesai dari shalatnya hanya tercatat baginya sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, separuh dari shalatnya.” (HR. Abu Daud no. 796 dan Ahmad (4/321))

Sulit bagi diri kita untuk bisa mendapatkan nilai sempurna di dalam sholat-sholat kita, dan hal tersebut sudah diketahui oleh Alloh dan Rasul-Nya. Akan tetapi Alloh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang juga telah memberikan kepada kita jalan keluar dalam mengatasi hal tersebut.

Perhatikan solusi yang telah diberikan oleh Alloh kepada hamba-Nya yang dhoif (lemah) seperti kita ini :

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسَرَ فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيْضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : انَظَرُوْا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ؟ فَيُكْمَلُ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيْضَةِ ثُمَّ يَكُوْنُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ ” . وَفِي رِوَايَةٍ : ” ثُمَّ الزَّكَاةُ مِثْلُ ذَلِكَ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ حَسَبَ ذَلِكَ ” .

“Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaroka wa Ta’ala mengatakan, ’Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti itu.”
Dalam riwayat lainnya, ”Kemudian zakat akan (diperhitungkan) seperti itu. Kemudian amalan lainnya akan dihisab seperti itu pula.” (HR. Abu Daud no. 864, Ahmad 2: 425, Hakim 1: 262, Baihaqi, 2: 386)

Melalui amalan-amalan sholat sunnah kita, Alloh menghendaki kebaikan bagi hamba-hamba-nya dengan keselamatan di hari hisab (perhitungan) kelak. Solusi telah diberikan oleh Alloh, masalah sebenarnya adalah pada diri kita sendiri. Maukah kita menepis rasa malas kita untuk bisa melaksanakannya ? Itu kembali kepada diri kita sendiri, maukah kita selamat ataukah tidak..!! Itu pilihan..

Bukan Alloh yang dzalim kepada seorang hamba-Nya jika hamba itu tidak selamat di hari penghisaban kelak, akan tetapi hamba tersebutlah sebenarnya yang telah memilih ketidakselamatan itu bagi dirinya. Betul ?!

Semoga kita mampu menjadi manusia yang selalu berhasil menepis rasa malas kita dalam melaksanakan berbagai macam sholat-sholat sunnah yang ada. Aamiin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s