Keutamaan Melaksanakan Sholat Berjamaah


Keutamaan melaksanakan sholat berjamaah adalah sebagai berikut :

1. Bacaan “aamiin” dalam sholat akan terkabul dan menyebabkan diampuninya dosa-dosa kita :

إِذَا صَلَّيْتُمْ فَأَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ ثُمَّ لْيَؤُمَّكُمْ أَحَدُكُمْ فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَإِذَا قَالَ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ فَقُولُوا آمِينَ. يُجِبْكُمُ اللَّهُ
Apabila kalian shalat maka luruskanlah shaf (barisan) kalian kemudian hendaknya salah seorang diantara kalian menjadi imam. Apabila imam bertakbir maka kalian bertakbir dan bila imam mengucapkan “GHAIRIL MAGHDHÛB BI’ALAIHIM WALAADH-DHÂLÎN” maka ucapkanlah: âmîn, niscaya Allâh mengabulkannya (HR Muslim no. 4/119)

إِذَا أَمَّنَ الإِمَامُ فَأَمِّنُوا فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Apabila imam mengucapkan ‘âmîn’ maka ucapkanlah ‘âmîn’, karena siapa yang ucapan âmînnya bersamaan dengan ucapan âmîn para malaikat maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR Bukhâri no. 111 dan Muslim 4/128)

إِذَا أَمَّنَ الإِمَامُ فَأَمِّنُوا فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Apabila imam mengucapkan ‘âmîn’ maka ucapkanlah ‘âmîn’, karena siapa yang ucapan âmînnya berbarengan dengan ucapan ‘âmîn para malaikat maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.( HR al-Bukhâri no. 111 dan Muslim 4/128)

Sodara2ku, yang merasa masih memiliki banyak dosa di hadapan Allah Subhanahu wa ta’ala, percayalah dan yakinlah seyakin-yakinnya atas sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, percayalah bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala tidak pernah ingkar akan janjiny, dan. bahwa dosa2 kita pasti akan diampuni oleh Allah Subhanahu wa ta’ala manakala kita bisa mendapatkan ucapan “aamiin” bersamaan dg “aamiinnya” imam, karena “aamiinnya” imam tersebut bersamaan dgn “aamiinnya” malaikat..

Anda tertarik..?! ataukah anda merasa sudah bersih dari dosa..?! sudah merasa diri suci..?! sehingga merasa tidak perlu ampunan dari Allah..?!

2. Mendapat lipat ganda pahala dari Alloh :

تَفْضُلُ صَلَاةٌ فِي الْجَمِيعِ عَلَى صَلَاةِ الرَّجُلِ وَحْدَهُ خَمْسًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً
“Shalat secara berjamaah lebih utama dua puluh lima derajat daripada shalat secara sendiri-sendiri “ (HR. Muslim no.1035, Bukhari no.457, Ahmad no.9769)

صَلَاةُ الرَّجُلِ فِي الْجَمَاعَةِ تَزِيدُ عَلَى صَلَاتِهِ وَحْدَهُ سَبْعًا وَعِشْرِينَ
“Shalatnya seseorang dengan berjama’ah melebihi shalatnya yang dikerjakan secara sendiri sebanyak dua puluh tujuh derajat.” (HR. Muslim no.1039, Ahmad no.4441, Nasa’I no.828)

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً
“Shalat berjama’ah (di masjid) lebih utama 27 derajat dibanding shalat sendirian (di rumah)” (HR. Bukhari no. 609)
Perbedaan nilai derajat yang didapat, ulama sepakat disesuaikan dengan tingkat kesulitan untuk melaksanakannya. Seperti sholat di suasana terang siang hari dan sore hari (Dhuhur dan Ashar) itu yang mendapatkan derajat 25, sedangkan untuk sholat yang lainnya itu yang mendapatk 27 derajat.

Sodaraku.. seandainya kita saat ini ditawari gaji di perusahaan “A” sebesar Rp. 1 juta dan di perusahaan “B” ditawari gaji sebesar Rp. 27 juta, sebagai manusia yg sehat akalnya, manakah yg akan kita pilih..?! manusia yg masih sehat akal pikirannya tentu akan memilih gaji Rp. 27 juta..

Saat ini, Allah SWT lah yg menawari kita, jika kamu shalat di Masjid, maka akan mendapatkan keutamaan 27 kali lebih baik daripada shalat sendirian..

Sebagai orang yg sehat akalnya, manakah yg akan kita pilih..?! apakah kita kurang begitu yakin pada janji Allah..?!

Kebanyakan manusia mengganggap bahwa janji manusia, yg menjanjikan gaji yg besar kepada kita jika kita mau melakukan pekerjaan yg diinginkannya, itu lebih menjanjikan daripada janji Allah..?!
Sehingga, manakala janji manusia itu datang akan langsung kita sambut. Sedangkan giliran Allah, Tuhan kita sendiri menjanjikan pada diri kita, kita enggan untuk menyambutnya..?!

Jujur, apakah kita tidak begitu yakin pd janjiNya..?! dan lebih yakin pd pimpinan/majikan kita..?!
Buktinya kita mati2an bekerja, bahkan jika perlu lembur akan lembur juga kita, dan kita merasa sangat yakin, bulan depan pasti dibayar janji gaji/reward yg akan diberikan pd kita..
Sedangkan, janji gaji/reward besar yg akan diberikan Allah Subhanahu wa ta’ala bagi siapa saja yg mau memakmurkan masjid, justru jarang gayung bersambut..?!
banyak sekali yg tidak menggubrisnya.. ironis memang.. padahal, janji Allah lebih pasti daripada janji pimpinan kita dikantor/perusahaan kita itu..

Percayakah kita..?! berimankah kita akan tibanya masa untuk terwujudnya apa yg Allah janjikan tersebut..?! yaitu masa ditimbangnya amal kebaikan dan keburukan kita..

Jika kita percaya, mengapa tidak kita perbanyak timbangan amal tersebut..?! kesempatan sudah diberikan Allah, kita ambilkah kesempatan itu ataukah akan kita biarkan kesempatan itu berlalu..?!

3. Mendapat Keutamaan yang sangat besar yang sangat menggiurkan bagi siapapun yang mengetahuinya :

إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

“Sesungguhnya shalat yang paling berat dilaksanakan oleh orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaan keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak.” (HR. Bukhari no. 657 dan Muslim no. 651)

Sodaraku.. jika ada sebuah pengumuman, bahwa barangsiapa yg shalat Shubuh di Masjid akan mendapatkan uang Rp. 1 Miliar. Kira-kira, orang yg masih memiliki akal sehat, apakah akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini..?!
Bahkan kita bisa saja mengatakan bahwa sebuah kerugian yg sangat besar jika kita tidak bisa mendatangi shalat berjamaah tersebut, karena kita akan kehilangan kesempatan mendapatkan uang Rp. 1 Miliar. Jika saat itu kita tidak bisa berjalan dan tidak kuat berjalan, merangkak pun akan dilakukannya, karena bayangan uang Rp. 1 Miliar ada di depan mata.

Bahkan bisa jadi anggota keluarganya jadi sasaran teguran kita jika kita terlambat bangun untuk melaksanakan shalat Shubuh berjamaah di masjid, dikarenakan tidak ada yg berusaha membangunkan, sehingga kita tidak bisa mendapatkan uang Rp. 1 Miliar tersebut.

Sodara.. saat ini, Allah subhanahu wata’ala telah menjanjikan pd kita hadiah yg lebih dari sekedar Rp. 1 Miliar tersebut. Digambarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seandainya kita mengetahuinya, pasti kita akan berusaha pergi ke Masjid. Jika tidak bisa berjalan atau tidak kuat berjalan, maka merangkakpun akan dilakukannya. Itulah gambaran untuk memudahkan bagi kita memahami makna kalimat “..niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak.”

Bagi manusia-manusia yg yakin pd Allah, bahwa Allah tidak pernah berbohong dgn janjiNya, maka dia akan merasakan kerugian yg sangat besar manakala meninggalkannya. Bahkan jika dia terlambat bangun, boleh jadi anggota keluarganya pun akan ditegur karena tidak berusaha untuk membangunkannya, sehingga dia merasakan kerugian yg amat sangat besar, dikarenakan tidak mendapatkan hadiah yg luar biasa dari Allah subhanahu wata’ala, Tuhannya..

Jujur.. sekarang, bertanyalah pd diri kita sendiri, apakah kita juga merasakan kerugian yg sangat besar manakala kita meninggalkan shalat Isya’ dan Shubuh secara berjamaah di masjid-masjidnya Allah..?! seperti kita merasakan sebuah kerugian manakala kita tidak jadi mendapatkan keuntungan duniawi kita..?! padahal, yg akan Allah subhanahu wa ta’ala berikan pada diri kita jauuuhhh lebih besar dari keuntungan duniawi tersebut, jika kita mengetahuinya, jika kita mempercayainya.. percayakah kita..?! berimankah kita..?!

4. Sholat Isya’ berjamaah akan dinilai oleh Alloh seperti sholat setengah malam, sedangkan sholat shubuh secara berjamaah akan dinilai oleh Alloh seperti sholat semalam suntuk :

مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ

“Barangsiapa yang shalat isya` berjama’ah maka seolah-olah dia telah shalat malam selama separuh malam. Dan barangsiapa yang shalat shubuh berjamaah maka seolah-olah dia telah shalat seluruh malamnya.” (HR. Muslim no. 656)

Jika saya boleh bertanya, siapakah di antara kita yg sanggup shalat setengah malam terus menerus tanpa pernah batal wudhu’..?!
Jika tidak mampu, mengapa malas mengejar shalat Isya’ secara berjamaah..?! apakah anda kira Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sekedar omong kosong atas sabda2nya..?!

Saya juga mau tanya, siapakah di antara kita yg mampu shalat semalam suntuk, tanpa pernah batal wudhu’..?! jika tidak mampu.. mengapa anda tidak berusaha mati2an untuk mendapatkan shalat Subuh secara berjamaah..?! apakah anda mengira Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga suka berdusta..?! Na’udzubillah tsumma na’dzubillah..

Hanya dengan menjalankan sholat empat rakaat Isya’ dan dilakukan dengan cara berjamaah, dia dihitung sholat setengah malam. Hanya dengan menjalankan sholat dua rakaat Shubuh secara berjamaah, maka dia dhitung seperti sholat semalam suntuk. Ini bentuk kasih sayang Alloh pada hambaNya, tapi sayang banyak di antara kita tidak mau mendapatkan kasih sayang tersebut. Lebih berat melanjutkan mimpi-mimpi dan tidur lelapnya, daripada kasih sayangNya.

5. Diberikan dua kebebasan, bebas dari adzab neraka dan dibebaskan dari sifat munafiq :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الأُولَى كُتِبَ لَهُ بَرَاءَتَانِ: بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ، وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ.

“Barang siapa yang shalat karena Allah empat puluh hari secara berjamaah tanpa ketinggalan takbir yang pertama, dicatatkan baginya dua kebebasan; kebebasan dari neraka dan kebebasan dari kemunafikan.( HR Ar-Tirmidzi no. 241)

Sodaraku..
Bukankah kita selalu berdoa agar dibebaskan dari adzab Allah di akhirat..?!
Bukankah kita sering memohon agar kita dibebaskan dari sifat nifaq (orangnya disebut munafiq)..?!
trus.., mengapa kita tidak melaksanakan kesempatan yg diberikan Allah Subhanahu wa ta’ala tersebut..?!

Jika kita mau menengok hadits2 tersebut di atas, jelas terlihat bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala tidak rela kita masuk api nerakanya. Buktinya, banyak dosa2 dijanjikan akan diampuni oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, agar dapat mengurangi timbangan amal buruknya di akhirat..

dan sungguh.., bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala sangat menghendaki kita masuk ke dalam syurga-Nya.. Buktinya adalah janji2 Allah Subhanahu wa ta’ala yang untuk melipatgandakan pahala bagi orang2 yg mau memakmurkan masjid2Nya, dan akhirnya juga agar memberatkan timbangan amal kebajikan bagi diri kita sendiri di akhirat kelak..

Jadi jika ternyata kita masuk neraka, itu bukan kesalahan Allah atau Allah kejam pd diri kita. Akan tetapi murni kesalahan diri kita sendiri yang tidak mau memanfaatkan kesempatan yg telah diberikan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala tersebut di atas..

Yah, kita telah berbuat dzalim pd diri kita sendiri.. Bukankah kita bisa disebut mendzalimi diri kita sendiri dengan membiarkan diri kita tidak mengambil kesempatan ampunan dan lipat ganda pahala dari Alloh tersebut..?!

Sungguh..!! bukan Allah yg sedang menyiksa diri kita, tetapi kita yg sedang menyiksa diri kita sendiri..
Karena Allah sudah berusaha menghindarkan kita dari masuk ke dalam jurang neraka dg kemudahan2/fasilitas2 yg diberikan-Nya, tetapi justru diri kita lah yg memaksakan diri untuk masuk ke dalam jurang neraka tersebut.. betul..?!

6. Akan menghadap Alloh kelak dalam keadaan bergembira karena dianggap sebagai muslim yang mengikuti sunnah Nabi-Nya dan tidak tersesat :

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللَّهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَؤُلاَءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ فَإِنَّ اللَّهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِى بُيُوتِكُمْ كَمَا يُصَلِّى هَذَا الْمُتَخَلِّفُ فِى بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ
“Barangsiapa yang ingin bergembira ketika berjumpa dengan Allah besok dalam keadaan muslim, maka jagalah shalat ini (yakni shalat jama’ah) ketika diseru untuk menghadirinya. Karena Allah telah mensyari’atkan bagi nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam sunanul huda (petunjuk Nabi). Dan shalat jama’ah termasuk sunanul huda (petunjuk Nabi). Seandainya kalian shalat di rumah kalian, sebagaimana orang yang menganggap remeh dengan shalat di rumahnya, maka ini berarti kalian telah meninggalkan sunnah (ajaran) Nabi kalian. Seandainya kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian, niscaya kalian akan sesat.” (HR.Muslim dalam Kitab Al-Masajid wa Mawadhi’ Ash-Sholah(654), dan Ibnu Majah dalam Kitab Al-Masajid wa Al-Jama’at (777))