ADAB ISTINJA’

 
Berikut disampaikan adab-adab istinja’ disertai beberapa perbedaan pendapat yang kadang ada di dalam bab istinja’ di kalangan ulama madzhab muktabar tentangnya (istinja’. Untuk sekedar mengingatkan saja, bahwa perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan ulama ahlus sunnah dan ahli ilmu adalah bukan suatu hal yang tercela, dan tidak ada yang salah serta berdosa di dalamnya, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ فَأَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ وَاحِدٌ. “Apabila seorang hakim menghukumi satu perkara, lalu berijtihad dan benar, baginya dua pahala. Dan apabila ia menghukumi satu perkara, lalu berijtihad dan keliru, baginya satu pahala”.( Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy 13/268 dan Muslim no. 1716 dari hadits ‘Amru bin Al-‘Aash radliyallaahu ‘anhu.)

Hal ini selaras dengan firman Allah (QS 33;5) :

وَ لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُناحٌ فيما أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَ لكِنْ ما تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَ كانَ اللهُ غَفُوراً رَحيما
“dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Para ulama mujtahid yang muktabar telah melakukan usaha maksimal dengan mengerahkan segenap kemampuan dan keilmuannya, maka tidak ada dosa di hadapan Allah subhanahu wata’ala manakala ternyata ada ikhtilaf (perbedaan pendapat) di antara mereka dan kemudian ternyata ada salah satu yang salah di antara perbedaan (ikhtilaf) yang ada, karena Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

1. Tempat istinja’ :

a. Tertutup dan jauh

َعَنْ اَلْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ رضي الله عنه قَالَ: ( قَالَ لِي اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم خُذِ اَلْإِدَاوَةَ فَانْطَلَقَ حَتَّى تَوَارَى عَنِّي فَقَضَى حَاجَتَهُ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْه
Dari Al-Mughirah Ibnu Syu’bah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda padaku: “Ambillah bejana itu.” Kemudian beliau pergi hingga aku tidak melihatnya lalu beliau buang air besar. (Muttafaq Alaihi).

عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا ذَهَبَ الْمَذْهَبَ أَبْعَدَ

Dari Al-Mughirah bin Syu’bah berkata bahwasanya,”Nabi saw apabila pergi ke tempat pembuangan air, maka beliau menjauh.” (HR. Abu Dawud,An-Nasa’iy, dan Ibnu Majah)

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,
خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى سَفَرٍ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَأْتِى الْبَرَازَ حَتَّى يَتَغَيَّبَ فَلاَ يُرَى.
“Kami pernah keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika safar, beliau tidak menunaikan hajatnya di daerah terbuka, namun beliau pergi ke tempat yang jauh sampai tidak nampak dan tidak terlihat.” (HR Ibnu Majah)

َوَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا; أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( مَنْ أَتَى اَلْغَائِطَ فَلْيَسْتَتِرْ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُد

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anha bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang hendak buang air hendaklah ia membuat penutup.” Riwayat Abu Dawud.

b. Tidak boleh di tempat umum dan di tempat berteduh

َعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( اِتَّقُوا اَللَّاعِنِينَ: اَلَّذِي يَتَخَلَّى فِي طَرِيقِ اَلنَّاسِ أَوْ فِي ظِلِّهِمْ ) رَوَاهُ مُسْلِم
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Jauhkanlah dirimu dari dua perbuatan terkutuk yaitu suka buang air di jalan umum atau suka buang air di tempat orang berteduh.” Riwayat Imam Muslim
زَادَ أَبُو دَاوُدَ عَنْ مُعَاذٍ ( وَالْمَوَارِدَ )
Abu Dawud menambahkan dari Muadz r.a: “Dan tempat-tempat sumber air.”

c. Tidak boleh buang air di tempat air tergenang

وَعَنْ جَابِرٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { أَنَّهُ نَهَى أَنْ يُبَالَ فِي الْمَاءِ الرَّاكِدِ } . رَوَاهُ أَحْمَدُ وَمُسْلِمٌ وَالنَّسَائِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ

Dan dari Jabir dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam “Bahwasanya beliau melarang kencing pada air yang tergenang.” (HR. Ahmad, Muslim, Nasa’ie dan Ibnu Majah)

2. Masuk Toilet membaca basmalah dan doa :

Dari Ali bin Abi Tholib, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
سَتْرُ مَا بَيْنَ أَعْيُنِ الْجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِى آدَمَ إِذَا دَخَلَ أَحَدُهُمُ الْخَلاَءَ أَنْ يَقُولَ بِسْمِ اللَّهِ
“Penghalang antara pandangan jin dan aurat manusia adalah jika salah seorang di antara mereka memasuki tempat buang hajat, lalu ia ucapkan “Bismillah”. (HR. Tirmidzi no. 606)

عَنْ أَنَسِ بْن مَالِكٍ قَالَ : { كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا دَخَلَ الْخَلَاءَ قَالَ : اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْخُبْثِ وَالْخَبَائِثِ } رَوَاهُ الْجَمَاعَةُ

Anas ra berkata, “Dulu Rasulullah saw jika hendak masuk ke tempat pembuangan air, maka beliau berkata (berdo’a): “Allahumma inniy audzubika minal khubtsi wal khobaaits” (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari para setan laki-laki, dan perempuan) (HR Bukhori, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Abu Daud, Ahmad, Ibnu Majah)

Imam Nawawi menerangkan di dalam kitab Al Minjah Syarh Shahih Muslim, 4/71 menerangkan bahwa “Adab membaca doa semacam ini tidak dibedakan untuk di dalam maupun di luar bangunan.”
Untuk do’a “Allahumma inni a’udzu bika minal khubutsi wal khobaits”, boleh juga dibaca Allahumma inni a’udzu bika minal khubtsi wal khobaits (denga ba’ yang disukun). Bahkan cara baca khubtsi(dengan ba’ disukun) itu lebih banyak di kalangan para ulama hadits sebagaimana dikatakan oleh Al Qodhi Iyadh rahimahullah. Sedangkan mengenai maknanya, ada ulama yang mengatakan bahwa makna khubtsi (dengan ba’ disukun) adalah gangguan setan, sedangkan khobaits adalah maksiat.

Jadi, cara baca dengan khubtsi (dengan ba’ disukun) dan khobaits itu lebih luas maknanya dibanding dengan makna yang di awal tadi karena makna kedua berarti meminta perlindungan dari segala gangguan setan dan maksiat.

3. Tidak membawa sesuatu yang bertuliskan asma Allah :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ: ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ اَلْخَلَاءَ وَضَعَ خَاتَمَهُ ) أَخْرَجَهُ اَلْأَرْبَعَةُ
Dari Anas Ibnu Malik Radliyallaahu ‘anhu berkata: Adalah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam apabila masuk kakus (WC) beliau menanggalkan cincinnya. Diriwayatkan oleh Imam Empat (HR Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah)

Imam Tirmidzi menyatakan shahih akan tetapi Abu Daud menyatakan dhaif, jumhur ulama menyatakan hadits tersebut dhaif akan tetapi jumhur ulama sepakat untuk menggunakan hadits tersebut sebagai dasar yang menetapkan bahwa masuk wc dilarang membawa sesuatu yang bertuliskan asma Allah.

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, 1/109, ‘Jika seseorang hendak masuk WC, dan padanya terdapat sesuatu yang tertera nama Allah Ta’ala, maka disunnahkan meletakkannya. Jika dia ingin membawa sesuatu yang terdapat padanya tulisan nama Allah Ta’ala dan dia upayakan agar tidak jatuh, atau (mata) cincinnya dia putar ke bagian dalam tapak tangannya, maka tidak mengapa.
Imam Ahmad berkata, ‘Cincin, jika padanya terdapat nama Allah, hendaknya diputar ke bagian dalam tapak tangannya, lalu dia boleh masuk WC dengannya. Hal ini juga dikatakan oleh Ishaq.Ibnu Musayyab dan Al-Hasan serta Ibnu Sirin juga memberi keringanan tersebut.”
Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah, ditanya, “Apa hukum masuk WC membawa kertas yang padanya tertera nama Allah?”
Beliau menjawab, “Dibolehkan masuk WC dengan membawa kertas bertuliskan nama Allah selama dia berada di dalam kantong, tidak diluar. Tetapi tersembunyi dan tertutup.” (Fatawa Minat-Thaharah, hal. 109)
Syaikh Abu Malik hafizhohullah mengatakan di dalam kitab Shahih Fiqh Sunnah 1/92 “Jika cincin atau semacam itu dalam keadaan tertutup atau dimasukkan ke dalam saku atau tempat lainnya, maka boleh barang tersebut dimasukkan ke WC. Imam Ahmad bin Hambal mengatakan, “Jika ia mau, ia boleh memasukkan barang tersebut dalam genggaman tangannya.” Sedangkan jika ia takut barang tersebut hilang karena diletakkan di luar, maka boleh masuk ke dalam kamar mandi dengan barang tersebut dengan alasan kondisi darurat.”

4. Masuk WC menggunakan kaki kiri dan keluar WC menggunakan kaki kanan :

Dalam masalah ini tidak ada dalil shahih yang spesifik mengaturnya, akan tetapi dengan melihat keumuman dalil Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِى تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِى شَأْنِهِ كُلِّهِ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih suka mendahulukan yang kanan ketika memakai sandal, menyisir rambut, ketika bersuci dan dalam setiap perkara (yang baik-baik).” (HR. Bukhari no. 168 dan Muslim no. 268,)

Sehubungan dengan keumuman dalil tersebut, maka ulama mengeluarkan fatwa berkenaan tentang masuk WC menggunakan kaki kiri dan keluar dengan menggunakan kaki kanan.

Imam an-Nawawi rahimahullah dalam kitab Syarah Shahih Muslim, 3/160; al-Majmu’, 2/95 berkata, “Merupakan kaidah yang berkesinambungan dalam syariat di mana tangan/kaki kanan didahulukan dalam melakukan perkara yang mulia, seperti memakai pakaian, celana, dan sandal; masuk masjid, bersiwak, bercelak, menggunting kuku, mencukur kumis, menyisir rambut, mencabut bulu ketiak, mencukur rambut, salam ketika selesai shalat, mencuci anggota wudhu, keluar dari WC, makan, minum, berjabat tangan, menyentuh hajar aswad, serta selainnya dari perkara yang semisal di atas. Semua itu disenangi untuk memulai dengan bagian kanan. Adapun lawan dari perkara di atas, seperti masuk WC, keluar dari masjid, istinja’, melepas pakaian, celana, sandal, dan yang semisalnya, disenangi untuk memulai dengan tangan/kaki kiri.” .

Imam Asy Syaukani rahimahullah dalam kitab As Sailul Jaror1/64,mengatakan, “Adapun mendahulukan kaki kiri ketika masuk ke tempat buang hajat dan kaki kanan ketika keluar, maka itu memiliki alasan dari sisi bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih suka mendahulukan yang kanan untuk hal-hal yang baik-baik. Sedangkan untuk hal-hal yang jelek (kotor), beliau lebih suka mendahulukan yang kiri.Hal ini berdasarkan dalil yang sifatnya umum.”

Ibnu Daqiq al ‘Ied dalam kitab Syarah ‘Umdatil Ahkam, 1/44 mengatakan : dikhususkan pada keadaan-keadaan tertentu dimulai dengan yang kiri, seperti apabila beliau masuk toilet, keluar dari masjid dan yang lainnya. –

5. Tidak menghadap atau membelakangi Kiblat :

Dari Abu Ayyub Al-Anshari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَتَيْتُمُ الغَائِطَ فَلاَ تَسْتَقْبِلُوا القِبْلَةَ، وَلاَ تَسْتَدْبِرُوهَا وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا
“Apabila kalian buang hajat, janganlah menghadap atau membelakangi kiblat. Namun menghadaplah ke timur atau ke barat.” (HR. Bukhari 394 dan Muslim 264).

Untuk diketahui bahwa kiblat untuk kota Madinah adalah sebelah selatan, sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perintah untuk menghadap ke timur atau barat.

Ada banyak perbedaan pendapat mengenai buang hajat menghadap ke kiblat atau membelakangi kiblat, hal ini dikarenakan ada dalil sebagai berikut :

hadits Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma yang mengatakan,

رَقِيتُ يَوْمًا عَلَى بَيْتِ حَفْصَةَ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حَاجَتِهِ مُسْتَقْبِلَ الشَّامِ مُسْتَدْبِرَ الْكَعْبَةِ .رَوَاهُ الْجَمَاعَة
“Aku menginap semalam di rumah Hafsho, maka aku melihat Nabi saw pada hajatnya menghadap ke arah Syam dan membelakangi Ka’bah” (HR Jama’ah)

atau dalil lainnya :

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ نَهَى نَبِىُّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ بِبَوْلٍ فَرَأَيْتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْبَضَ بِعَامٍ يَسْتَقْبِلُهَ

Dari Jabir bin ‘Abdullah ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menghadap kiblat ketika kencing, namun aku melihat setahun sebelum beliau wafat, beliau menghadapnya (HR. Abu Daud no. 13, Tirmidzi no. 9 dan Ibnu Majah no. 325)

Dari dalil-dalil yang ada tersebut di atas menghadirkan beberapa perbedaan pendapat, antara lain :

1- Tidak dibolehkan baik di dalam bangunan atau di luar bangunan. Inilah pendapat Abu Ayyub Al Anshori, Mujahid, An Nakho’i, Ats Tsauri, Abu Tsaur, Imam Ahmad bin Hambal dalam salah satu pendapatnya. Pendapat ini berdasarkan hadits Bukhari 394 dan Muslim 264 di atas.

2- Dibolehkan di dalam bangunan maupun di luar bangunan. Inilah pendapat Robi’ah, guru dari Imam Malik. Pendapat ini berdasarkan hadits Abu Daud no. 13, Tirmidzi no. 9 dan Ibnu Majah no. 325 yang menyatakan bahwa larangan sudah dihapus di saat-saat terakhir Rasululloh sebelum wafat.

3- Diharamkan di luar bangunan, bukan di dalam bangunan. Inilah pendapat Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya. Berdasarkan hadits dari Ibnu Umar di atas saat menginap di rumah Hafsho, karena pada saat di dalam bangunan (rumah Hafsho) itu Rasululloh membelakangi Ka’bah.

4- Tidak boleh menghadap di dalam atau di luar bangunan, namun boleh membelakanginya di dalam maupun di dalam maupun di luar bangunan. Ini salah satu pendapat dari Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad. Ini juga berdasarkan hadits dari Ibnu Umar di atas, bahwa Rasululloh membelakangi Ka’bah.

5- Hukumnya hanyalah makruh dan menjadi pendapat Hadawiyah. Pendapat ini berdasarkan kompromi yang biasa dilakukan oleh ulama saat menemukan dalil yang melarang, kemudian ditemukan juga dalil yang membolehkan. Artinya larangan tersebut adalah sekedar makruh tanzih saja hukumnya.

6- Boleh membelakangi dalam bangunan saja dan inilah yang jadi pegangan Abu Yusuf. Pendapat ini berdasarkan pendapat Ibnu Umar saat di rumah Hafsho di atas, yakni ada dalil yang membolehkan membelakangi kiblat.

7- Dilarang secara mutlak termasuk pula pada Baitul Maqdis, sebagaimana pendapat Ibnu Siirin. Pendapat ini berdasarkan hadits Bukhari 394 dan Muslim 264 di atas.

8- Pengharaman hanya khusus penduduk Madinah dan yang searah dengan mereka, demikian pendapat Abu ‘Awanah, murid dari Al Muzani (salah satu Imam dari madzhab Syafi’iyah). Pendapat ini juga berusaha mengkompromikan dalil yang melarang di atas dengan dalil yang terkesan membolehkan karena pernah dilakukan Rasululloh dan saat itu beliau ada di Madinah saja.

Adapun pendapat dari Imam Nawawi (salah seorang ulama dari kalangan Syafi’iyah) berkata bahwa jika di hadapan orang yang buang hajat terdapat penutup (penghalang) yang tingginya 2/3 hasta sampai 3 hasta, maka boleh saja menghadap kiblat baik ketika berada di dalam bangunan atau di luar bangunan. Artinya, patokannya adalah adanya penghalang ataukah tidak di arah kiblat.Kalau ada penghalang berarti tidak menghadap langsung ke kiblat, maka tidaklah masalah.(Kifayatul Akhyar, hal. 73)

6. Berhati-hati dengan najis :

Diperintahkan pada saat buang air besar atau buang air kecil untuk menghindari najis, baik najis yang terkena secara langsung maupun najis hasil cipratan dari air kencing.

Hal ini berdasarkan dalil :
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati salah satu sudut kota Mekah atau Madinah. Kemudian beliau mendengar ada dua penghuni kubur yang di siksa. Kemudian beliau bersabda,
يُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، بَلَى، كَانَ أَحَدُهُمَا لاَ يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ، وَكَانَ الآخَرُ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ
Mereka berdua disiksa. Mereka tidak disiksa untuk perkara yang berat ditinggalkan, namun itu perkara besar. Yang pertama disiksa karena tidak hati-hati ketika kencing, yang kedua disiksa karena suka menyebarkan adu domba. (HR. Bukhari 216).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
أَكْثَرُ عَذَابِ الْقَبْرِ فِي الْبَوْلِ
Kebanyakan sebab siksa kubur adalah kerena kencing. (HR. Ahmad 8331)

Karena ada berita dari Rasulullah bahwa kebanyakan penyebab adzab kubur adalahkencing, maka sebagai seorang yang beriman akan dalilNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendaknya memperhatikan akan hal tersebut.

7. Anjuran Menggunakan Tutup kepala saat istinja’ :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا كَانَ النَِّبيُّ صَلَى اللهُ عليه وَسَلَّمَ. إِذَا دَخَلَ اْلخَلاَءَ غَطَى رَأْسَهُ (رواه البيهقى) Dari Aisah RA: Adalah Baginda Rosulallah SAW, apabila Beliau masuk ke WC, beliau menutup kepalanya . (HR Baihaqii.)

Ada yang menilai hadits tersebut dhaif, akan tetapi hadits tersebut dikuatkan oleh atsar shahabat yang shahih :

Abu Bakr Ash-Shiqqîq radhiyallâhu ‘anhu berkhutbah kepada manusia,
يَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِينَ، اسْتَحْيُوا مِنَ اللَّهِ، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنِّي لَأَظَلُّ حِينَ أَذْهَبُ إِلَى الْغَائِطِ فِي الْفَضَاءِ مُتَقَنِّعًا بِثَوْبِي اسْتِحْيَاءً مِنْ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ
“Wahai kaum muslimin sekalian, malulah kalian kepada Allah.Demi (Allah) yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh saya pergi membuat hajat di tanah lapang (tempat membuang hajat) dalam keadaan berkudung (tutup kepala) kain karena malu kepada Rabbku ‘Azza wa Jalla.” [Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhd]

8. Dilarang Berbicara saat di WC :

أَنَّ رَجُلاً مَرَّ وَرَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَبُولُ فَسَلَّمَ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ.
“Ada seseorang yang melewati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau sedang kencing. Ketika itu, orang tersebut mengucapkan salam, namun beliau tidak membalasnya.” (HR. Muslim, Abu Dawud, Al-Tirmidzi, Al-Nasai, dan Ibnu Majah)
Hukum menjawab salam adalah wajib, akan tetapi di dalam hadits tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukannya. Jumhur ulama mengatakan hal tersebut menunjukkan makruh tanzih, walau sebagian menyatakan hukumnya sebagai makruh tahrim (haram).

Dari Jabir Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
إِذَا تَغَوَّطَ اَلرَّجُلَانِ فَلْيَتَوَارَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَنْ صَاحِبِهِ وَلَا يَتَحَدَّثَا فَإِنَّ اَللَّهَ يَمْقُتُ عَلَى ذَلِكَ
“Apabila dua orang buang air besar maka hendaknya masing-masing bersembunyi dan tidak saling berbicara; sebab Allah mengutuk perbuatan yang sedemikian.” (HR. Ahmad)

لَا يَخْرُجْ الرَّجُلَانِ يَضْرِبَانِ الْغَائِطَ كَاشِفَيْنِ عَنْ عَوْرَتِهِمَا يَتَحَدَّثَانِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَمْقُتُ عَلَى ذَلِكَ

Janganlah dua orang laki-laki pergi ke tempat buang hajat dalam keadaan membuka aurat keduanya, lalu bercakap-cakap, karena sesungguhnya Allah ‘azza wajalla membenci demikian. (HR Abu Daud)

Hadits tersebut menjelaskan hadits sebelumnya tentang adanya sebuah larangan untuk berbicara saat berada di WC, akan tetapi ada perbedaan pendapat mengenai larangan tersebut, ada yang mengatakan sebagai makruh tanzih dan sebagian mengatakan makruh tahrim.

An-Nawawi mengatakan:
“Dimakruhkan berdzikir dan berbicara ketika buang hajat.Baik di dalam ruangan maupun di luar ruangan, kecuali karena keadaan terpaksa. Sampai sebagian ulama madzhab kami (syafi’iyah) mengatakan: ‘Jika orang yang di dalam WC ini bersin maka tidak boleh membaca hamdalah, tidak pula mendoakan orang yang bersin, tidak menjawab salam, tidak menjawab adzan. Bahkan orang yang memberi salam kepada orang yang berada di WC dianggap bertindak ceroboh, sehingga tidak berhak dijawab’.”
Berbicara apapun dalam kondisi ini hukumnya makruh, meskipun tidak haram.Dan jika dia bersin, kemudian membaca hamdalah dengan hatinya, namun lisannya diam, maka tidak masalah.Demikian pula yang dilakukan ketika hubungan badan. (Al-Adzkar, Hal. 26)

Imam Ahmad mengatakan, إذا عطس الرجل حمد الله بقلبه(Jika dia bersin maka baca hamdalah dalam hati.”)

9. Posisi istinja’ :

Dalil yang melarang kencing berdiri :

عَنْ الْمِقْدَامِ بْنِ شُرَيْحِ بْنِ هَانِئٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ مَنْ حَدَّثَكَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَالَ قَائِمًا فَلَا تُصَدِّقْهُ أَنَا رَأَيْتُهُ يَبُولُ قَاعِدًا ﴿ابن ماجه :۳۰۳﴾ Dari Miqdam bin Syuraih bin Hani` dari Bapaknya dari Aisyah ia berkata; “Barangsiapa menceritakan kepadamu bahwa Rasulullah ﷺ kencing dengan berdiri maka janganlah engkau membenarkannya, karena aku melihat beliau kencing dengan duduk.” (HR. Al khomsah kecuali Abu Daud, lafadz hadits dari Ibnu Majah:303, )

‘Abdurrahman bin Hasanah mengatakan,
خَرَجَ عَلَيْنَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ فِي يَدِهِ كَهَيْئَةِ الدَّرَقَةِ قَالَ : فَوَضَعَهَا ، ثُمَّ جَلَسَ فَبَالَ إِلَيْهَا
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar bersama kami dan di tangannya terdapat sesuatu yang berbentuk perisai, lalu beliau meletakkannya kemudian beliau duduk lalu kencing menghadapnya.”(HR. Abu Daud, An Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ahmad.).

Dari Buraidah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ثلاثٌ مِنَ الجَفاءِ أنْ يَبُولَ الرَّجُلُ قائِماً أوْ يَمْسَحَ جَبْهَتَهُ قَبْلَ أنْ يَفْرَغَ مِنْ صَلاتِهِ أوْ يَنْفُخَ في سُجُودِهِ
“Tiga perkara yang menunjukkan perangai yang buruk: [1] kencing sambil berdiri, [2] mengusap dahi (dari debu) sebelum selesai shalat, atau [3] meniup (debu) di (tempat) sujud.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam At Tarikh dan juga oleh Al Bazzar)

Ibnu Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu- mengatakan,
إِنَّ مِنَ الجَفَاءِ أَنْ تَبُوْلَ وَأَنْتَ قَائِمٌ
“Di antara perangai yang buruk adalah seseorang kencing sambil berdiri.” (HR. Tirmidzi).

Dalil yang membolehkan :

Hudzaifah –radhiyallahu ‘anhu- mengatakan,
أَتَى النَّبِىُّ ، ( صلى الله عليه وسلم ) ، سُبَاطَةَ قَوْمٍ ، فَبَالَ قَائِمًا ، فَدَعَا بِمَاءٍ ، فَجِئْتُهُ بِمَاءٍ ، فَتَوَضَّأَ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendatangi tempat pembuangan sampah milik suatu kaum.Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kencing sambil berdiri.Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta diambilkan air.Aku pun mengambilkan beliau air, lalu beliau berwudhu dengannya.”(HR. Bukhari no. 224 dan Muslim no. 273).

عَنْ حُذَيْفَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَى سُبَاطَةَ قَوْمٍ فَبَالَ عَلَيْهَا قَائِمًا ﴿رواه:ابن ماجه:۳۰۱﴾
Dari Hudzaifah ia berkata; “Rasulullah ﷺ pernah mendatangi tempat pembuangan sampah suatu kaum lalu kencing dengan berdiri.” (Ibn Majah:301)

Dari dalil-dalil yang ada maka terjadinya beberapa perbedaan pendapat, yakni :

Imam Hanafi dan Imam Syafi’i menyatakan hukumnya makruh tanzih, seperti disampaikan oleh Imam Nawawi di dalam kitab Faidhul Qadir syarah Al-Jami’usshaghir menyebutkan bahwa larangan nabi untuk kencing berdiri bukan bermakna haram, melainkan tanzih. Adapun shahabat yang juga berpegang pada pendapat ini adalah Aisyah dan Ibnu Mas’ud.

ImamHambali berpendapat mubah hukumnya dan bukan makruh, begitu juga pendapat Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar.Beliau menyebutkan dalam syarah shahih Bukhori bahwa tidak ada hadits yang tsabit tentang larangan nabi untuk kencing berdiri. Adapun shahabat yang berpendapat demikian di antaranya Umar bin Khotthob, Ibnu Umar, Anas, Abu Hurairoh.

Imam Malik berpendapat, boleh kencing berdiri dengan syarat aman dari percikan.

وَعَنْ سُرَقَةَ بْنِ مَالِكٍ ؓ قال: عَلَّمْنَا رسولُ اللهِ ﷺ فِى الْخَلاَءِ اَنْ نَقْعُدَ عَلَى الْيُسْرَى, وَنَنْصِبَ الْيُمْنَى, ﴿رواه البيهاقى بسندٍ ضعيف﴾ Dari Suroqoh bin Malik ؓ ia berkata: Rasulullah ﷺ mengajar kita tentang (cara) buang air besar, hendaklah kita duduk di atas kaki kiri dan mengencangkan kaki kanan. (HR. Baihaqi)

10. Diarang memegang kemaluan dan istinja dengan tangan kanan :

Diriwayatkan dari Abu Qatadah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
لَا يُمْسِكَنَّ أَحَدُكُمْ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ وَهُوَ يَبُولُ وَلَا يَتَمَسَّحْ مِنْ اَلْخَلَاءِ بِيَمِينِهِ وَلَا يَتَنَفَّسْ فِي اَلْإِنَاءِ
“Janganlah sekali-kali salah seorang kamu menyentuh kemaluannya dengan tangan kanannya saat sedang kencing, jangan pula membersihkan bekas kotorannya dengan tangan kanan, dan juga jangan bernafas dalam tempat air.” (Muslim no. 267)

إِذَا شَرِبَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَتَنَفَّسْ فِى الإِنَاءِ ، وَإِذَا أَتَى الْخَلاَءَ فَلاَ يَمَسَّ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ ، وَلاَ يَتَمَسَّحْ بِيَمِينِهِ
“Jika salah seorang di antara kalian minum, janganlah ia bernafas di dalam bejana. Jika ia buang hajat, janganlah ia memegang kemaluan dengan tangan kanannya. Janganlah pula ia beristinja’ dengan tangan kanannya.” (HR HR. Bukhari no. 153)

Dari Salman Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata:
لَقَدْ نَهَانَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم “أَنْ نَسْتَقْبِلَ اَلْقِبْلَةَ بِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِالْيَمِينِ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِأَقَلَّ مِنْ ثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِرَجِيعٍ أَوْ عَظْمٍ
“Sungguh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam benar-benar telah melarang kami menghadap kiblat pada saat buang air besar atau kecil; atau ber-istinja’ (membersihkan kotoran) dengan tangan kanan, atau beristinja’ dengan batu kurang dari tiga biji, atau beristinja’ dengan kotoran hewan atau dengan tulang.” (Muslim)

Istibra` boleh dilakukan baik dengan berjalan, berdehem, ataupun memiringkan ba-dan ke sebelah kiri ataupun dengan cara lainnya, seperti mengangkat dan menghentakkan kakinya. Yang dimaksud dengan istibra` adalah membersihkan bagian zakar yang menjadi tempat keluar air kencing, dengan cara mengurut batang zakarnya dengan tangan kiri, dimulai dari bibir duburnya hingga ke kepala zakar sebanyak tiga kali, agar tidak ada lagi sisa basah air kencing di tempat itu. Boleh juga dilakukan dengan meletakkan jari tengah tangan kirinya di bawah zakarnya dan ibu jarinya di bagian atas zakarnya, kemudian mengurutnya turun ke arah kepala zakar, dan disunnahkan juga menariknya dengan perlahan sebanyak tiga kali agar keluar sisa air kencingnya, jika ada.

Menurut ulama madzhab Maliki, Hambali, dan juga Syafi`I, istibra` itu dilakukan dengan cara menarik dan mengurut zakar dengan perlahan-lahan sebanyak tiga kali. Yaitu, dengan meletakkan jari telunjuk tangan kirinya di bawah pangkal zakarnya, sedangkan ibu jarinya di atas zakar, kemudian mengurutnya dengan perlahan-lahan hingga keluarlah sisa air kencing yang masih ada. Ketika menarik dan mengurut zakar, disunnahkan dengan cara perlahan, sehingga yakin bahwa tempat itu sudah bersih dari air kencing. Janganlah seseorang mengikut perasaan ragu-ragu (wahm), karena sikap itu dapat menyebabkan timbulnya penyakit waswas yang merusak keberagamaan.

11. Barang yang digunakan untuk bersuci saat istinja’ :

a. Air

Anas bin Malik-radhiyallahu ‘anhu- berkata,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُ الْخَلَاءَ فَأَحْمِلُ أَنَا وَغُلَامٌ نَحْوِيْ إِدَاوَةً مِنْمَاءٍ وَعَنَزَةً فَيَسْتَنْجِيْ بِالْمَاءِ

“Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- pernah memasuki tempat pembuangan air.Maka aku pun dan seorang bocah sebaya denganku datang membawa seember air dan tombak kecil, lalu beliau pun ber-istinja’ (cebok) dengan air”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (152), dan Muslim (271)]

b. Barang suci lainnya jika tidak ditemukan air :

Jika suatu saat kita tak menemukan air, maka kita boleh menggunakan tiga buah batu, atau barang suci yang lainnya ketika ber-istinja’.Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

إِذِا ذَهَبَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْغَائِطِ فَلْيَذْهَبْ مَعَهُ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ يَسْتَطِيْبُ بِهِنَّ فَإِنَّهَا تُجْزِىءُ عَنْهُ

“Jika seorang diantara kalian pergi buang air, maka hendaknya ia membawa tiga batu yang dipakai untuk istinja’, karena (tiga) batu tersebut mencukupi baginya (untuk cebok)”. [HR. Abu Dawud (40), dan An-Nasa’iy (44)]

c. Barang yang tidak boleh digunakan untuk istinja, yakni :

Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-bersabda,

لَا تَسْتَنْجُوْا بِالرَّوْثِ وَلَا باِلْعِظَامِ فَإِنَّهُ زَادُ إِخْوَانِكُمْ مِنَ الْجِنِّ
“Jangan cebok dengan menggunakan tahi binatang, dan tulang-belulang, karena itu adalah makanan saudara-saudara kalian dari kalangan jin”. [HR. At-Tirmidziy dalam As-Sunan (18), dan An-Nasa’iy dalam As-Sunan Al-Kubro (39).

12. Membersihkan tangan yang selesai digunakan istinja’ :

Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- berkata,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَى الْخَلَاءَ أَتَيْتُهُ بِمَاءٍ فِي تَوْرٍ أَوْ رَكْوَةٍ فَاسْتَنْجَى قَالَ أَبُو دَاوُد فِي حَدِيثِ وَكِيعٍ ثُمَّ مَسَحَ يَدَهُ عَلَى الْأَرْضِ ثُمَّ أَتَيْتُهُ بِإِنَاءٍ آخَرَ فَتَوَضَّأَ

“Dulu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- jika mau buang air, maka aku bawakan air dalam bejana atau timba kecil. Lalu beliau beristinja’, kemudian menggosokkan tangannya pada tanah. Lalu aku bawakan bejana lain, kemudian beliau berwudhu’”. [HR. Abu Dawud (45)

13. Memerciki kemaluan jika diperlukan untuk mengurangi keraguan atas istinja’yang dilakukan :

Ibnu ‘Abbas mengatakan,

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- تَوَضَّأَ مَرَّةً مَرَّةً وَنَضَحَ فَرْجَهُ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu dengan satu kali – satu kali membasuh, lalu setelah itu beliau memerciki kemaluannya.” (HR. Ad Darimi no. 711.)

14 Doa selesai istinja’ :

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا خَرَجَ مِنَ الْغَائِطِ قَالَ « غُفْرَانَكَ ».
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa setelah beliau keluar kamar mandi beliau ucapkan “ghufronaka” (Ya Allah, aku memohon ampun pada-Mu).” (HR. Abu Daud no. 30, At Tirmidzi no. 7, Ibnu Majah no. 300, Ad Darimi no. 680)

Bisa ditambahi dengan membaca :

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَذِى اَذْهَبَ عَنِّى اْلاَذَى وَعَافَانِى
Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan gangguan (kotoran) dariku dan telah menjadikan diriku dalam keadaan sehat” [Hadits Riwayat Ibnu Majah no. 301]

4 thoughts on “ADAB ISTINJA’

  1. Peace Indonesian Moslem berkata:

    Assalamu alaikum
    Perlu diketahui bahwa antum tadi menuliskan tidak boleh kencing di air yg tenang seperti pada pembahasan
    —————————————————-
    c. Tidak boleh buang air di tempat air tergenang

    وَعَنْ جَابِرٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { أَنَّهُ نَهَى أَنْ يُبَالَ فِي الْمَاءِ الرَّاكِدِ } . رَوَاهُ أَحْمَدُ وَمُسْلِمٌ وَالنَّسَائِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ

    Dan dari Jabir dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam “Bahwasanya beliau melarang kencing pada air yang tergenang.” (HR. Ahmad, Muslim, Nasa’ie dan Ibnu Majah)
    —————————————————-

    Perlu diketahui bahwa closet atau tempat pembuangan kotoran manusia, baik duduk maupun jongkok, airnya tenang, tidak bergelombang…

    Bagaimana antum dlm mengahdapi masalah tsb? Syukran…

    Suka

    • almubayyin berkata:

      air yang tergenang, maksudnya adalah air tidak mengalir dalam sebuah telaga dan jaman dahulu sering dimanfaatkan dan untuk dikonsumsi masyarakat.. jika buang hajat di air tersebut, maka air di tempat tersebut akan bau dan bisa menimbulkan penyakit..sehingga bisa mendatangkan mudharat atau membuat tidak suka/marah kaum muslimin yg lainnya.. demikian..

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s