WAKTU-WAKTU SHOLAT


1. Dhuhur

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْءَانَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْءَانَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا
Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan Qur`anal fajri. Sesungguhnya Qur`anal fajri itu disaksikan (QS. Al-Isra`: 78)

Menurut para mufassir, yang dimaksud رْءَانَ الْفَجْرِ كَا (sesudah matahari tergelincir) adalah sholat Dhuhur.

Dalil hadits :

hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi was sallam dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr rodhiyallahu ‘anhu,
وَقْتُ الظُّهْرِ إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ وَكَانَ ظِلُّ الرَّجُلِ كَطُولِهِ مَا لَمْ يَحْضُرِ الْعَصْرُ
“Waktu Sholat Zhuhur adalah ketika telah tergelincir matahari (menuju arah tenggelamnya) hingga bayangan seseorang sebagaimana tingginya selama belum masuk waktu ‘Ashar (HR Muslim)

اَمَّنِيْ جِبْرِيْلُ عِنْدَالْبَيْتِ مَرَّتَيْنِ فَصَلّٰى بِيَّ الظُّهْرَحِيْنَ زَالتِ الشَّمْسُ
“Saya telah dijadikan imam oleh Jibril di Baitullah dua kali, maka ia shalat bersama saya; shalat dzuhur ketika tergelincir matahari, (HR Abu Daud)

Ada perbedaan pendapat tentang waktu afdhol (utama) sholat Dhuhur berdasarkan dalil-dalil berikut :

Perbedaan pendapat tentang waktu sholat yang utama :

Pendapat I (Malik) :

di awal waktu bagi yang sholat sendirian, dan sedikit mengakhirkannya dari awal waktu bagi yang sholat berjama’ah di masjid.

Dari Abu Hurairoh :

إِذَا اِشْتَدَّ اَلْحَرُّ فَأَبْرِدُوا بِالصَّلَاةِ فَإِنَّ شِدَّةَ اَلْحَرِّ مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ
“Apabila panas sangat menyengat maka tunggulah waktu dingin untuk menunaikan shalat karena panas yang menyengat itu sebagian dari hembusan neraka jahannam.” Muttafaq Alaihi.

Pendapat II (Syafi’I, riwayat lain dari Malik) :

di awal waktu kecuali jika panas sangat terik.
Dalil :
hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi was sallam,
كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا اشْتَدَّ الْبَرْدُ بَكَّرَ بِالصَّلاَةِ ، وَإِذَا اشْتَدَّ الْحَرُّ أَبْرَدَ بِالصَّلاَةِ
“Nabi Shollallahu ‘alaihi was sallam biasanya jika keadaan sangat dingin beliau menyegerakan sholat dan jika keadaan sangat panas/terik beliau mengakhirkan sholat”

Pendapat III :

di awal waktu secara muthlaq, baik itu sendirian atau berjamaah, di saat dingin ataupun panas terik.

Dalil hadits Jabir bin Samuroh rodhiyallahu ‘anhu,
كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى الظُّهْرَ إِذَا دَحَضَتِ الشَّمْسُ
“Nabi Shollallahu ‘alaihi was sallam biasa mengerjakan sholat zhuhur ketika matahari telah tergelincir” (HR Muslim)

Batas waktu antara zhuhur dan ashar

Perbedaan pendapat :

Pendapat I (Malik, Syafi’I, Abu Tsaur, Dawud) :

bayangan benda sama dengan bendanya.
وَقْتُ الظُّهْرِ إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ وَكَانَ ظِلُّ الرَّجُلِ كَطُولِهِ مَا لَمْ يَحْضُرِ الْعَصْرُ
“Waktu Zhuhur dimulai saat matahari tergelincir ke barat (waktu zawal) hingga bayangan seseorang sama dengan tingginya dan selama belum masuk waktu ‘Ashar(HR. Muslim no. 612)

Pendapat II (salah satu riwayat dari Abu Hanifah) :

bayangan benda dua kali bendanya, dan saat ini merupakan awal sholat ashar.
وَصَلَّى بِىَ الْعَصْرَ حِينَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَيْهِ
Lalu ia shalat ‘Ashar bersamaku ketika panjang bayangan sama dengan dua kali panjang benda.HR. Abu Daud no. 393 dan Ahmad 1: 333)

Pendapat III (riwayat yang lain dari Abu Hanifah, Abu Yusuf, Muhammad) :

akhir waktu zhuhur adalah saat bayangan benda sama dengan bendanya. Tetapi awal waktu ashar bukan saat itu melainkan ketika bayangan benda dua kali bendanya.


2. Waktu Ashar

Ada perbedan pendapat di kalangan ulama untuk menentukan waktu mulainya sholat ashar, jumhur ulama seperti Imam Syafi’i, Imam Maliki dan Imam Ahmad mengatakan bahwa saat dimulainya ashar adalah saat bayangan benda melebihi tingginya dengan benda tersebut.

وَقْتُ الظُّهْرِ إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ وَكَانَ ظِلُّ الرَّجُلِ كَطُولِهِ مَا لَمْ يَحْضُرِ الْعَصْرُ
“Waktu Zhuhur dimulai saat matahari tergelincir ke barat (waktu zawal) hingga bayangan seseorang sama dengan tingginya dan selama belum masuk waktu ‘Ashar(HR. Muslim no. 612)

Dari dalil tersebut diketahui bahwa batas waktu sholat dhuhur adalah pada saat panjang bayangan benda sama dengan benda tersebut, maka waktu ashar adalah pada saat panjang bayangan benda sudah melebihi panjang benda tersebut.

Akan tetapi Imam Hanafi berbeda dengan pendapat tersebut, karena menurut beliau waktu ashar dimulai pada saat bayangan benda panjangnya dua kali dari benda tersebut.

وَصَلَّى بِىَ الْعَصْرَ حِينَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَيْهِ
Lalu ia shalat ‘Ashar bersamaku ketika panjang bayangan sama dengan dua kali panjang benda.(HR. Abu Daud no. 393 dan Ahmad 1: 333)

Kemudian muncul pendapat pertengahan yang mengkompromikan dua pendapat tersebut di atas, yakni waktu ashar sudah masuk pada saat bayangan benda sudah sama panjangnya dengan benda tersebut, tetapi afdholnya sholat ashar adalah pada saat bayangan sudah 2 kali panjang bendanya.

Kapan batas akhir sholat ashar..?

Waktu ashar berakhir saat matahari sudah mulai menguning dan matahari belum terbenam. Hal ini berdasarkan dalil :

وَوَقْتُ صَلاَةِ الْعَصْرِ مَا لَمْ تَصْفَرَّ الشَّمْسُ وَيَسْقُطْ قَرْنُهَا الْأَوَّلُ
Waktu shalat ashar selama matahari belum menguning dan sebelum jatuh (tenggelam) sisinya yang awal. (HR. Muslim no. 1388)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الْعَصْرِ قَبْلَ أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ الْعَصْرَ
“Barangsiapa yang mendapati satu raka’at shalat ‘Ashar sebelum matahari tenggelam maka ia telah mendapatkan shalat ‘Ashar”. (HR. Bukhari no. 579 dan Muslim no. 608)

Waktu terbaik sholat ashar adalah di awal waktu berdasarkan dalil :

Hadits dari Anas,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يُصَلِّى الْعَصْرَ وَالشَّمْسُ مُرْتَفِعَةٌ حَيَّةٌ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melaksanakan sholat ‘ashar ketika matahari masih tinggi, tidak berubah sinar dan panasnya.” (HR. Bukhari no. 550 dan Muslim no. 621).

Dari Abul Malih, ia mengatakan,
كُنَّا مَعَ بُرَيْدَةَ فِى غَزْوَةٍ فِى يَوْمٍ ذِى غَيْمٍ فَقَالَ بَكِّرُوا بِصَلاَةِ الْعَصْرِ فَإِنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ
“Kami pernah bersama Buraidah pada saat perang di hari yang mendung. Kemudian ia berkata, “Segerakanlah shalat ‘Ashar karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang meninggalkan shalat ‘Ashar maka terhapuslah amalnya”. (HR. Bukhari no. 553).


3. Magrhrib

Sholat maghrib di mulai pada saat matahari sudah tenggelam :

وَقْتُ صَلاَةِ الْمَغْرِبِ إِذَا غَابَتِ الشَّمْسُ مَا لَمْ يَسْقُطِ الشَّفَقُ
Waktu shalat maghrib adalah bila matahari telah tenggelam selama belum jatuh syafaq (HR. Muslim no. 1388)

وَإِنَّ أَوَّلَ وَقْتِ الْمَغْرِبِ حِيْنَ تَغْرُبُ الشَّمْسُ وَإِنَّ آخِرَ وَقْتِهَا حِيْنَ يَغِيْبُ الْأُفُقُ
Awal waktu shalat maghrib adalah ketika matahari tenggelam dan akhir waktunya ketika tenggelam ufuk.(HR. At-Tirmidzi no. 151)

Adapun batas akhirnya adalah pada saat syafaq seperti yang disebutkan di dalam dalil di atas, yakni pada saat humrah (cahaya kemerahan)mulai tenggelam.

Waktu yang utama mengerjakan sholat maghrib adalah di awal waktu, sesuai dengan dalil :

Hadits dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu,

لاَ تَزَالُ أُمَّتِى بِخَيْرٍ – أَوْ قَالَ عَلَى الْفِطْرَةِ – مَا لَمْ يُؤَخِّرُوا الْمَغْرِبَ إِلَى أَنْ تَشْتَبِكَ النُّجُومُ
“Umatku akan senantiasa dalam kebaikan (atau fithroh) selama mereka tidak mengakhirkan waktu sholat maghrib hingga munculnya bintang (di langit)” (HR. Abu Daud no. 418 dan Ahmad 5: 421)


4. Isya

Awal waktu sholat Isya’ adalah saat berakhirnya waktu maghrib. Dan menurut dali yang digunakan untuk menerangkan waktu berakhirnya sholat maghrib, dapat kita ketahui kapan awal waktu Isya’ dimulai :

وَقْتُ صَلاَةِ الْمَغْرِبِ إِذَا غَابَتِ الشَّمْسُ مَا لَمْ يَسْقُطِ الشَّفَقُ
Waktu shalat maghrib adalah bila matahari telah tenggelam selama belum jatuh syafaq (HR. Muslim no. 1388)

وَإِنَّ أَوَّلَ وَقْتِ الْمَغْرِبِ حِيْنَ تَغْرُبُ الشَّمْسُ وَإِنَّ آخِرَ وَقْتِهَا حِيْنَ يَغِيْبُ الْأُفُقُ
Awal waktu shalat maghrib adalah ketika matahari tenggelam dan akhir waktunya ketika tenggelam ufuk.(HR. At-Tirmidzi no. 151)

Pada saat humrah (cahaya kemerahan)mulai tenggelam saat itulah waktu maghrib berakhir dan dimulainya waktu Isya’.

Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama adalah mengenai batas akhir waktu sholat Isya’, yakni :

a. Sepertiga malam

Ini pendapat yang dipegang oleh sebagian ulama Syafi’iyah dan masyhur juga merupakan pendapat ulama Malikiyah.

Sesuai dalil :

Hadits dari Ibnu Abbas :

وَصَلَّى بِىَ الْعِشَاءَ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ
“Beliau melaksanakan shalat ‘Isya’ hingga sepertiga malam.” (HR. Abu Daud no. 395 dan Ahmad 1: 333).

Hadits dari Aisyah :

وَكاَنُوْا يُصَلُّوْنَ فِيْمَا بَيْنَ أَنْ يَغِيْبَ الشَّفَقُ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ الْأَوَّلِ
Nabi beserta para sahabatnya menunaikan shalat isya tersebut pada waktu antara tenggelamnya syafaq sampai sepertiga malam yang awal.” (HR. Al-Bukhari no. 569 dan Muslim no. 1441)

b. Pertengahan malam :

Ini adalah pendapat Imam Hambali dan qoul qodim Imam Syafi’i

hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
أَخَّرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاَةَ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ ثُمَّ صَلَّى، ثُمَّ قَالَ: قَدْ صَلَّى النَّاسُ وَنَامُوْا، أَمَّا إِنَّكُمْ فِي صَلاَةٍ مَا انْتَظَرْتُمُوْهَا
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhirkan shalat isya sampai pertengahan malam kemudian beliau shalat, lalu berkata, “Sungguh manusia telah shalat dan mereka telah tidur, adapun kalian terhitung dalam keadaan shalat selama kalian menanti waktu pelaksanaan shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 572 dan Muslim no. 1446)

Menurut Imam Hambali, ada waktu dhoruroh hingga terbit fajar, Menurut beliau sholat Isya’ setelah melewati pertengahan malam adalah dosa, karena itu adalah waktu dhoruroh. Waktu dhoruroh hanya dibolehkan bagi orang yang punya udzur seperti wanita yang baru suci dari haidh, orang kafir yang baru masuk Islam, seseorang yang baru baligh, orang gila yang kembali sadar, orang yang bangun karena ketiduran dan orang sakit yang baru sembuh.

c. Terbit fajar shodiq (waktu shubuh)

Pendapat ini yang dipegang oleh Imam Hanafi dan ulama dari kalangan Hanafiyah, dan ini juga merupakan pendapat dari sebagian ulama madzhab Syafi’iyah.

Dalil yang digunakan :

Hadits dari Aisyah :

أَعْتَمَالنَّبِىُّ -صلىاللهعليهوسلم- ذَاتَلَيْلَةٍحَتَّىذَهَبَعَامَّةُاللَّيْلِوَحَتَّىنَامَأَهْلُالْمَسْجِدِثُمَّخَرَجَفَصَلَّىفَقَالَ « إِنَّهُلَوَقْتُهَالَوْلاَأَنْأَشُقَّعَلَىأُمَّتِى »
“Suatu malam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendirikan shalat ‘atamah (isya`) sampai berlalu malam dan penghuni masjid pun ketiduran, setelah itu beliau datang dan shalat. Beliau bersabda, ‘Sungguh ini adalah waktu shalat isya’ yang tepat, sekiranya aku tidak memberatkan umatku’.” (HR. Muslim no. 638)

Maksudnya adalah sholat Isya’ bisa dilakukan setelah lewat pertengahan malam dari kalimat :حَتَّىذَهَبَعَامَّةُاللَّيْلِ (sampai berlalu malam).

Dalil hadits Abu Qatadah secara marfu’ :

أَمَاإِنَّهُلَيْسَفِىالنَّوْمِتَفْرِيطٌإِنَّمَاالتَّفْرِيطُعَلَىمَنْلَمْيُصَلِّالصَّلاَةَحَتَّىيَجِىءَوَقْتُالصَّلاَةِالأُخْرَى
“Orang yang ketiduran tidaklah dikatakan tafrith (meremehkan). Sesungguhnya yang dinamakan meremehkan adalah orang yang tidak mengerjakan shalat sampai datang waktu shalat berikutnya.” (HR. Muslim no. 681)

Maknanya adalah, bahwa sholat Isya’ akan berakhir hingga waktu sholat berikutnya, yakniwaktu sholat shubuh telah tiba.

An-Nawawi rahimahullah (madzhab Syafi’iyah) berkata, “Maknanya adalah waktu pelaksanaan shalat isya secara ikhtiyar. Adapun waktu bolehnya, maka masih memanjang sampai ke fajar kedua berdasarkan hadits Abu Qatadah.” (Syarh Muslim: 5/111).

Berdasarkan dalil yang sudah disampaikan di atas pula kita bisa mengetahui bahwa sholat Isya’ lebih utama diakhirkan hingga sepertinga malam atau pertengahan malam. Tetapi kadang Rasululloh juga melakukannya di awal waktu, tergantung jamaah yang sudah berkumpul saat itu. Hal ini berdasarkan dalil :

Hadits dari Jabir radhiyallahu ‘anhuma :

وَالْعِشَاءَأَحْيَانًايُؤَخِّرُهَاوَأَحْيَانًايُعَجِّلُ،كَانَإِذَارَآهُمْقَدِاجْتَمَعُوْاعَجَّلَوَإِذَارَآهُمْأَبْطَأُوْاأَخَّرَ
dan shalat isya terkadang beliau mengakhirkannya, terkadang pula menyegerakannya. Apabila beliau melihat mereka (para sahabatnya/jamaah isya) telah berkumpul (di masjid) beliau pun menyegerakan pelaksanaan shalat isya, namun bila beliau melihat mereka terlambat berkumpulnya, beliau pun mengakhirkannya….” (HR. Al-Bukhari no. 565 dan Muslim no. 1458)

Hal yang perlu diperhatikan tentang waktu Isya’ adalah, bahwa Rasululloh juga memakruhkan banyak berbicara setelah sholat Isya’ berdasarkan dalil :

عَنْ أَبِي بَرْزَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا
Dari Abu Barzah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak suka tidur sebelum shalat ”Isya’ dan berbincang-bincang setelahnya.” (Shohih Bukhari no.535)

عَنْعَبْدِاللَّهِبْنِمَسْعُودٍقَالَجَدَبَلَنَارَسُولُاللَّهِصَلَّىاللَّهُعَلَيْهِوَسَلَّمَالسَّمَرَبَعْدَالْعِشَاءِيَعْنِيزَجَرَنَا
Dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kami berbincang-bincang setelah ‘Isya’, yakni melarang dengan peringatan kepada kami.” (HR. Ahmad 1/388-389, 410, Ibnu Majah no. 703)

Berbicara seperti apa yang tidak diperbolehkan ? apakah semua pembicaraan ?

Akan dijawab dengan menggunakan dalil lainnya :

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَسْمُرُ مَعَ أَبِى بَكْرٍ فِى الأَمْرِ مِنْ أَمْرِ الْمُسْلِمِينَ وَأَنَا مَعَهُمَا.
Dari Umar bin Al Khaththab ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berbincang-bincang setelah Isya’) dengan Abu Bakar dalam permasalahan kaum muslimin, sedang aku bersama keduanya.” (H.RAt-Tirmidzi no. 169)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:

رَقَدْتُ فِي بَيْتِ مَيْمُوْنَةَ لَيْلَةً كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَهَا لِأَنْظُرَ كَيْفَ صَلاَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِاللَّيْلِ، قَالَ: فَتَحَدَّثَ النَّبِيُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ أَهْلِهِ سَاعَةً ثُمَّ رَقَدَ
“Aku pernah tidur di rumah Maimunah (istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bibi Ibnu ‘Abbas, pent.) pada suatu malam sementara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ada (giliran bermalam, pent.) di rumah Maimunah. Aku sengaja bermalam untuk melihat bagaimana cara shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di waktu malam. Kata Ibnu Abbas, “(Setelah shalat isya, pent.) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berbincang-bincang dengan istrinya beberapa saat kemudian beliau tidur.” (HR Al-Bukhari IV/1665 no 4293, VI/2712 no 7014 dan Muslim I/530 no 763)

Kita telah mendapatkan dua dalil yang berbeda, satu dalil mengatakan bahwa Rasululloh melarang untuk berbicara setelah sholat Isya’ dan dalil lainnya mengatakan bolehnya berbicara setelah sholat Isya’, maka kita mengambil jalan tengah yakni jika pembicaraan tersebut tidak bermanfaat maka jauhilah (dilarang) akan tetapi jika pembicaraan tersebut untuk kemashlahatan umat dan keluarga maka hal tersebut diperbolehkan.

طريقة الجمع بينها بأن توجه أحاديث المنع إلى الكلام الذي ليس فيه فائدة تعود على صاحبه وأحاديث الجواز إلى ما فيه فائدة تعود على المتكلم
Jalan untuk menyatukan diantara keduanya (hadis-hadis yang melarang obrolan setelah shalat ‘Isya’ dan yang membolehkan) adalah dengan menyimpulkan bahwa hadis-hadis larangan yang dimaksud adalah pembicaraan yang tidak ada manfaat bagi pelaku. Adapun hadis-hadis yang membolehkan difahami bahwa hal tersebut berlaku pada pembicaraan yang memberi manfaat bagi penutur (Nail Al-Author, juz 1, hlm 417)


5. Shubuh

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْءَانَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْءَانَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا
Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan Qur`anal fajri. Sesungguhnya Qur`anal fajri itu disaksikan (QS. Al-Isra`: 78)

Sholat shubuh disebut dengan “qur’anal fajr” di dalam Al Quran, maksudnya adalah pembacaan Al Quran di waktu fajr. Karena di dalam sholat pasti dibacakan Al Quran, maka sholat yang dilakukan di waktu fajar yakni “qur’anal fajr” itulah yang disebut sholat shubuh. Jadi sholat shubuh itu dilakukan pada saat fajar shodiq sudah terbit sesuai dalil di atas.

Dalil dari as-sunnah :

Hadit dari Abdullah bin ‘amr :

وَوَقْتُ صَلاَةِ الصُّبْحِ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ مَا لَمْ تَطْلُعِ الشَّمْسُ فَإِذَا طَلَعَتِ الشَّمْسُ فَأَمْسِكْ عَنِ الصَّلاَةِ فَإِنَّهَا تَطْلُعُ بَيْنَ قَرْنَىْ شَيْطَانٍ
Waktu shalat Shubuh adalah mulai terbit fajar (shodiq) selama matahari belum terbit. Jika matahari terbit, maka tahanlah diri dari shalat karena ketika itu matahari terbit antara dua tanduk setan. ” (HR. Muslim no. 612)

Dari dalil tersebut di atas, dapat kita ketahui bahwa waktu sholat shubuh adalah dimulai sejak terbit fajar shodiq hingga sebelum terbit matahari.

Fajar ada dua yang perlu diketahui, yakni fajar kadzib dan fajar shodiq sesuai dalil :

اَلْفَجْرُفَجْرَانِفَجْرٌيُحَرَّمُفِيْهِالطَّعَامُوَتَحِلُّفِيْهِالصَّلاَةُوَفَجْرٌتُحَرَّمُفِيهِالصَّلاَةُوَيَحِلُّفِيْهِالطَّعَامُ
“Fajar itu ada dua , pertama fajar (shodiq) yang haram saat itu makanan dan halal shalat (subuh), dan fajar yang lain (kadzib) haram shalat (subuh) dan halal makanan” (HR Ibnu Khuzaimah 1/52/2, Al-Hakim 1/425)

Sehingga, saat ada dalil tentang sholat shubuh dan menggunakan kata fajar, maka fajar yang dimaksud adalah fajar shodiq yakni saat di mana sholat (shubuh) sudah halal dan makan minum (saat romadhon) jadi haram.

Yang dimaksud fajar shodiq sesuai dengan dalil di bawah ini :

وَكُلُواوَاشْرَبُواحَتَّىٰيَتَبَيَّنَلَكُمُالْخَيْطُالْأَبْيَضُمِنَالْخَيْطِالْأَسْوَدِمِنَالْفَجْرِ
“Dan makan dan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar” [Al-Baqarah 2 : 187]

Apakah yang dimaksud bagimu benang putih dari benang hitam diterangkan melalui dalil :

عَنْسَهْلِبْنِسَعْدٍقَالَأُنْزِلَتْ (وَكُلُواوَاشْرَبُواحَتَّىيَتَبَيَّنَلَكُمالْخَيْطُاْلأَبْيَضُمِنْالْخَيْطِاْلأَسْوَدِ) وَلَمْيَنْزِلُ (مِنْالْفَجْرِ) فَكَانَرِجَالٌإِذَاأَرَادُواالصَّوْمَرَبَطَأَحَدُهُمْفِيرِجْلِهِالْخَيْطَاْلأَبْيَضَوَالْخَيْطَاْلأَسْوَدَوَلَمْيَزَلْيأَكُلُحَتَّىيَتَبَتَّنَلَهُرُؤْيَتُهُمَافَأَنْزَلَاللَّهُبَعْدُ (مِنْالْفَجْرِ) فَعَلِمُواأَنَّهُإِنَّمَايَعْنِياللَّيْلَوَالنَّهَارَ

“Dari Shal bin Sa’d berkata : Tatkala diturunkan ayat makan dan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam sebelum turun ayat (akhirnya) مِنَالْفَجْرِyaitu fajar” dahulu orang-orang jika hendak berpuasa, di antara mereka mengikat kakinya dengan benang putih dan benang hitam, lalu dia terus makan (sahur) sampai benar-benar jelas melihat perbedaan antara keduanya, lalu Allah menurunkan مِنَالْفَجْرِyaitu fajar, lalu mereka tahu bahwa yang dimaksud (benang putih dan hitam itu) adalah (hitamnya) malam dan (putihnya) siang” [HR al-Bukhari : 4241 dan Muslim 1091]

Imam Qurthubi rahimahullah berkata : “Dinamai fajar (shodiq) itu benang, karena yang muncul berupa warna putih terlihat memanjang seperti benang” (Tafsir al-Qurthubi 2/320)

Bagaimana sholat shubuh jika ternyata bangun saat matahari sudah mulai terbit..?

Sesuai dalil sebelumnya :

فَإِذَا طَلَعَتِ الشَّمْسُ فَأَمْسِكْ عَنِ الصَّلاَةِ فَإِنَّهَا تَطْلُعُ بَيْنَ قَرْنَىْ شَيْطَانٍ
Jika matahari terbit, maka tahanlah diri dari shalat karena ketika itu matahari terbit antara dua tanduk setan. ” (HR. Muslim no. 612)

Tunggu hingga matahari benar-benar terbit kemudian setelah itu melakukan sholat, sesuai dengan dalil :

‘Imran bin Hushain Radhiallahu ‘Anhu bercerita:

أَنَّهُمْكَانُوامَعَالنَّبِيِّصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَفِيمَسِيرٍ،فَأَدْلَجُوالَيْلَتَهُمْ،حَتَّىإِذَاكَانَوَجْهُالصُّبْحِعَرَّسُوا،فَغَلَبَتْهُمْأَعْيُنُهُمْحَتَّىارْتَفَعَتِالشَّمْسُ،فَكَانَأَوَّلَمَنِاسْتَيْقَظَمِنْمَنَامِهِأَبُوبَكْرٍ،وَكَانَلاَيُوقَظُرَسُولُاللَّهِصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَمِنْمَنَامِهِحَتَّىيَسْتَيْقِظَ،فَاسْتَيْقَظَعُمَرُ،فَقَعَدَأَبُوبَكْرٍعِنْدَرَأْسِهِ،فَجَعَلَيُكَبِّرُوَيَرْفَعُصَوْتَهُحَتَّىاسْتَيْقَظَالنَّبِيُّصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَ،فَنَزَلَوَصَلَّىبِنَاالغَدَاة ….
“Mereka bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam sebuah perjalanan yang sampai larut malam hingga menjelang Subuh mereka istirahat. Lalu mereka tertidur sampai meninggi matahari. Pertama yang bangun adalah Abu Bakar, Beliau tidak membangunkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sampai dia bangun sendiri. Lalu bangunlah Umar, lalu Abu Bakar duduk di sisi kepala nabi. Lalu dia bertakbir dengan meninggikan suaranya sampai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terbangun. Lalu beliau keluar dan Shalat Subuh bersama kami.” (HR. Bukhari (3571), Muslim (312/682))

Ada dalil dari jalur lain yang semakna dengan hadits tersebut di atas dari Abu Qatadah saat rasululloh melakukan perjalanan melelahkan bersama dengan para shahabat termasuk Bilal kemudian terbangun saat matahari telah terbit, kemudian rasululloh bersabda :

إِنَّ اللهَ قَبَضَ أَرْوَاحَكُمْ حِيْنَ شَاءَ، وَردَّهَا عَلَيْكُمْ حِيْنَ شَاءَ، يَا بِلاَلُ، قُمْ فَأَذِّنْ بِالنَّاسِ بِالصَّلاَةِ. فَتَوَضَّأَ، فَلَمَّا ارْتَفَعَتِ الشَّمْسُ وَابْيَاضَّتْ قاَمَ فَصَلَّى
“Sesungguhnya Allah menahan ruh-ruh kalian kapan Dia inginkan dan Dia mengembalikannya pada kalian kapan Dia inginkan. Wahai Bilal! Bangkit lalu kumandangkan azan untuk memanggil manusia guna mengerjakan shalat.” Beliau lalu berwudhu, tatkala matahari telah meninggi dan memutih, beliau bangkit untuk mengerjakan shalat.” (HR. Al- Bukhari no. 595)

Hadits semakna juga telah diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud, akan tetapi dalil tersebut sudahlah cukup mewakili bahwa apabila kita tertidur hingga terbangun saat matahari terbit, maka tunggulah hingga matahari benar-benar meninggi untuk menghindari waktu yang dilarang melakukan sholat yakni ketika matahari sedang terbit.