Penaklukan Yerusalem


Dalam artikel ini akan kami muat kisah-kisah sejarah berkenaan dengan penaklukan Yerusalem, baik oleh Pasukan Kristen maupun Islam, sekedar sebagai pembanding saja. Artikel ini akan mengambil kisah sejarah secara netral dan obyektif, karena kami ambil dari sumber-sumber sejarah yang tertulis di Eropa sendiri. Jika sumber berita diperoleh dari kaum muslimin, maka akan mudah untuk disangkal dan disanggah karena dianggap subyektif, selesai sudah kasusnya. Akan tetapi jika sumber berita adalah dari literatur sejarah Eropa sendiri, dan sejarah pun ditulis berdasarkan laporan para pelaku sejarah itu sendiri, maka akan lebih obyektif. Mari kita kupas sejarah penaklukan Yerusalem itu sendiri :


1. Penaklukan Yerusalem Oleh Pasukan Salib :

Gustave Le Bon in his book “La Civilisation Islamique er Arabe” hal.407 said :
“The Cross we were ‘cautious’ is not sufficient to carry out various forms of injustice, destruction and persecution, they then held a meeting to decide that just killed all the inhabitants of Jerusalem were made up of the Muslims and the Jews and Christians who do not provide aid to those who amounted to 60,000 people. Those people have killed all of the time 8 days including women, children and the elderly, no one exception . ”

“Atrocities committed by the crusaders against friend and foe alike, soldiers and civilians, women or children, the elderly and young children, making them occupy top spot in the history of violence “.

Gustav Le Bon telah mensifatkan penyembelihan kaum Salib Kristen sebagaimana kata-katanya: “Kaum Salib kita yang ‘bertakwa’ itu tidak memadai dengan melakukan berbagai bentuk kezaliman, kerusakan dan penganiayaan, mereka kemudian mengadakan suatu pertemuan yang memutuskan supaya dibunuh saja semua penduduk Baitul Maqdis yang terdiri dari kaum Muslimin dan bangsa Yahudi yang jumlahnya mencapai 60.000 orang. Orang-orang itu telah dibunuh semua dalam masa 8 hari saja termasuk perempuan, anak-anak dan orang tua, tidak seorang pun yang terkecuali.”

“Kekejaman yang dilakukan oleh tentara salib tidak perduli teman maupun musuh, tentara dan warga sipil, wanita atau anak-anak, para orang tua dan muda, membuat mereka menempati posisi teratas dalam sejarah kekerasan”.

From Gesta Francorum (The Deeds of the Franks):
The defenders fled along the walls and through the city, and our men pursued them killing and cutting them down as far as Solomon’s Temple, where there was such a massacre that our men were wading ankle deep in blood …
Then the crusaders rushed around the whole city, seizing gold and silver, horses and mules, and looting the housing that were full of costly things. Then, rejoicing and weeping from excess of happiness, they all came to worship and give thanks at the sepulchre of our saviour Jesus. Next morning, they went cautiously up the temple roof and attacked the Saracens, both men and women [who had taken refuge there], cutting off their heads with drawn swords …
Our leaders then gave orders that all the Saracen corpses should be thrown outside the city because of the stench, for almost the whole city was full of dead bodies … such a slaughter of pagans had never been seen or heard of, for they were burned in pyres like pyramids, and none save God alone knows how many they were. (Knight, Honest to Man: p82-83 & Holy Warriors By Jonathan Phillips p 27)

Seorang anggota pasukan salib menulis dalam Gesta Francorum :
Para pembela Yerusalem lari di sepanjang dinding dan melalui kota, dan orang-orang kami (Kristen) mengejar mereka kemudian membunuh dan memenggal kepala mereka sepanjang Bait Salomo, di mana terjadi pembantaian hingga orang-orang kami (Kristen) seperti sedang mengarungi lautan darah setinggi pergelangan kaki …
Kemudian tentara salib bergegas mengelilingi seluruh kota, merebut emas dan perak, kuda dan keledai, dan menjarah rumah-rumah yang terdapat barang-barang yang mahal. Kemudian, mereka gembira dan menangis terharu karena sangat bahagia, mereka semua datang untuk menyembah dan bersyukur pada kubur Yesus Juruselamat kita. Keesokan harinya, mereka pergi dengan hati-hati menaiki atap candi dan menyerang Saracen, baik laki-laki dan perempuan [yang sedang mengungsi], memotong kepala mereka dengan pedang terhunus …
Pemimpin kami kemudian memerintahkan agar semua mayat Saracen harus dibuang di luar kota karena bau busuk, karena hampir seluruh kota itu penuh dengan mayat . belum pernah seorang menyaksikan atau mendengar pembantaian terhadap ‘kaum pagan’ yang dibakar dalam tumpukan manusia seperti piramid dan hanya Tuhan yang tahu berapa jumlah mereka yang dibantai. (Knight, Honest to Man: p82-83 & Holy Warriors By Jonathan Phillips p 27)

Michaud said: “At the conquest of Jerusalem by the Christians in 1099, Muslims were massacred in the streets and in homes. Jerusalem no longer had a place for people who lost it. Several people try evade death by sneaking out of the castle, others clustered in the palace and various towers for protection, especially in mosques. Yet they still can not hide from persecution of Christians that.
Crusaders hosted at Masjid Umar, in which the Muslims trying to defend themselves for some time adding more gruesome scenes that marred the conquest of Titus. Army infantry and cavalry fled among the hunted. In the midst of the terrible riots that sounded just moans and screams of death. The people who win it tramples pile of dead bodies as they ran after the man who tried to escape in vain.

Seorang ahli sejarah Perancis, Michaud berkata: “Pada saat penaklukan Yerusalem oleh orang Kristen tahun 1099, orang-orang Islam dibantai di jalan-jalan dan di rumah-rumah. Yerussalem tidak punya tempat lagi bagi orang-orang yang kalah itu. Beberapa orang coba mengelak dari kematian dengan cara mengendap-endap dari benteng, yang lain berkerumun di istana dan berbagai menara untuk mencari perlindungan terutama di masjid-masjid. Namun mereka tetap tidak dapat menyembunyikan diri dari pengejaran orang-orang Kristen itu.
Tentara Salib yang menjadi tuan di Masjid Umar, di mana orang-orang Islam coba mempertahankan diri selama beberapa lama menambahkan lagi adegan-adegan yang mengerikan yang menodai penaklukan Titus. Tentera infanteri dan kavaleri lari tunggang langgang di antara para buruan. Di tengah huru-hara yang mengerikan itu yang terdengar hanya rintihan dan jeritan kematian. Orang-orang yang menang itu menginjak-injak tumpukan mayat ketika mereka lari mengejar orang yang cuba menyelamatkan diri dengan sia-sia”

Onwards Michaud said: “All that is left of the massacre caught first,all of which has been spared to get the tribute, cruelly slaughtered.Muslims are forced to jump from the top of that tower and tube-tube houses, they burned alive, dragged from underground hideout, dragged to the public and sacrificed on the gallows. “Further Michaud added:” The woman’s tears, the cries of children, as well as a view of the place of Jesus Christ provides forgiveness to the executioner, not at all to relieve lust to kill those who win it.

Seterusnya Michaud berkata: “Semua yang tertangkap yang disisakan dari pembantaian pertama, semua yang telah diselamatkan untuk mendapatkan upeti, dibantai dengan kejam. Orang-orang Islam itu dipaksa terjun dari puncak menara dan bumbung-bumbung rumah, mereka dibakar hidup-hidup , diseret dari tempat persembunyian bawah tanah, diseret ke hadapan umum dan dikurbankan di tiang gantungan.

Ahli sejarah Kristen yang lain, Mill, mengatakan: “Ketika itu diputuskan bahwa rasa kasihan tidak boleh diperlihatkan terhadap kaum Muslimin. Orang-orang yang kalah itu diseret ke tempat-tempat umum dan dibunuh. Semua kaum wanita yang sedang menyusu, anak-anak gadis dan anak-anak lelaki dibantai dengan kejam. Tanah padang, jalan-jalan, bahkan tempat-tempat yang tidak berpenghuni di Yerusalem ditaburi oleh mayat-mayat wanita dan lelaki, dan tubuh anak-anak yang koyak-koyak. Tidak ada hati yang lebur dalam keharuan atau yang tergerak untuk berbuat kebajikan melihat peristiwa mengerikan itu.

Dari peristiwa bersejarah yang banyak ditulis di buku-buku sejarah Eropa (bisa buka buku-buku lain selain yang sudah saya referensikan di atas semisal “Gesta Francorum, or the Deeds of the Franks and the Other Pilgrims to Jerusalem,” trans. Rosalind Hill, (London: 1962), August C. Krey, The First Crusade: The Accounts of Eye-Witnesses and Participants (Princeton & London: 1921), Armstrong, Holy War dll), maka kita mendapatkan gambaran tentang begitu sadisnya, kejamnya dan jahatnya mereka. Tidak perduli orang yang sedang mengungsi, orang yang sudah menyerah, wanita, anak-anak, orang tua, semua disembelih dan dibantai dengan cara sadis.

Akan tetapi janganlah heran jika itu semua terjadi, itu juga dikarenakan mereka mengamalaknan ayat-ayat Bible mereka sendiri koq. Gak percaya ?! silahkan disimak baik-baik ayat tersebut, yang merupakan perintah Tuhan untuk melakukanpembantaian tanpa ampun terhadap lawan, walau mereka seorang anak yang amsih menyusui sekalipun :

“Aku (Tuhan) ingat apa yang dilakukan Amalek kepada orang Israel (400 tahun yang lalu) … Pergilah sekarang, kalahkan orang Amalek, tumpaslah segala apa yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki atau perempuan, kanak-kanak maupun anak yang masih menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai.” (Kitab– 1 Samuel 15:3)

“Mereka (bangsa Yahudi) menumpas dengan mata pedang segala sesuatu yang di kota itu,baik laki2 maupun perempuan, baik tua maupun muda, bahkan lembu, domba dan keledai”. (bahkan keledaipun tidak disisakan!). (Kitab Yosua 6:21)

“Tetapi dari kota-kota bangsa-bangsa itu yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu, janganlah kau biarkan hidup apa pun yang bernafas…”(Kitab Ulangan 20;16).

Sehingga segala bentuk kejahatan perang yang ada di muka bumi ini sejak jaman baheula yang dilakukan oleh para penjajah yang terkenal semboyannya 3 G (Gold, Glory, Gospel), mereka melakukan dengan cara yang licik dan jahat. Jika tidak percaya silahkan baca sejarah, pembantaian-pembantaian yang pernah dilakukan penjajah, termasuk kerja rodi yang sadis. Selengkapnya silahkan baca di : https://almubayyin.wordpress.com/kristologi/permusuhan-dalam-bible/


2. Penaklukan Yerusalem Oleh Pasukan Islam :

Karen Armstrong menggambarkan penaklukan kedua atas Yerusalem ini dengan kata-kata berikut ini:

Pada tanggal 2 Oktober 1187, Sholahuddin dan tentaranya memasuki Yerusalem sebagai penakluk dan selama 800 tahun berikutnya Yerusalem tetap menjadi kota Muslim. Salahuddin menepati janjinya, dan menaklukkan kota tersebut menurut ajaran Islam yang murni dan paling tinggi. Dia tidak membalas dendam pembantaian tahun 1099, seperti yang Al Qur’an anjurkan, dan sekarang, permusuhan telah berakhir, ia menghentikan pembunuhan. Tak ada satu orang Kristen pun dibunuh dan tidak ada perampasan. Jumlah tebusan pun disengaja sangat rendah. Salahuddin menangis terharu karena kesedihan keluarga-keluarga yang terpecah-belah dan ia membebaskan banyak dari mereka tanpa tebusan, sesuai himbauan Al Qur’an, meskipun menyebabkan keputusasaan bendaharawannya yang telah lama menderita. Saudara lelakinya, Al Adil, begitu tertekan karena penderitaan para tawanan sehingga dia meminta Salahuddin seribu orang dari mereka untuk dibebaskan di tempat itu juga. Semua pemimpin Muslim dibuat geram melihat orang-orang Kristen kaya melarikan diri dengan kekayaan mereka, yang semestinya dapat digunakan untuk menebus semua tawanan. [Uskup] Heraclius membayar tebusan dirinya sepuluh dinar seperti halnya tawanan lain dan bahkan diberi pengawalan khusus untuk menjaga keamanan harta bendanya selama perjalanan ke Tyre. (Armstrong, Holy War, hlm. 185)

ketika Sultan Sholahuddin merebut kembali kota Yerusalem pada tahun 1193 M, dia memberi pengampunan umum kepada penduduk Nashrani untuk tinggal di kota itu. Hanya para prajurit Salib yang diharuskan meninggalkan kota dengan pembayaran uang tebusan yang ringan. Bahkan sering terjadi bahwa Sultan Shalahuddin yang mengeluarkan uang tebusan itu dari kantongnya sendiri dan mereka diberi pula alat pengangkutan.

Bisa juga anda saksikan film Kingdom of Heaven, yang ditulis oleh William Monahan atau dalam buku-buku sejarah lainnya. Intinya bahwa saat pasukan Islam menguasai Yerusalem, tidak ada terjadi pembantaian terhadap rakyat sipil. Kita tidak akan heran, karena memang ajaran Islam pun sudah membatasiperang dengan dalil-dalil sebagai berikut :

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ –
QS 2;190. Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

Artinya, perang diperbolehkan akan tetapi ada batasannya. Apa batasannya ?! bisa kita baca di dalil-dalil berikut ini :

“Berperanglah kamu di jalan Allah. Perangilah orang yang kafir kepada Allah. Berperanglah namun jangan mengambil berlebih-lebihan, jangan menipu (memperdaya) , jangan membunuh dengan sadis, membunuh anak-anak, dan membunuh para penghuni rumah ibadah (biara dan gereja).” (HR Muslim)

hadits Rabah bin Rabi’ bahwa Rasulullah saw. bersabda:
Susullah Khalid bin Walid. Pesankanlah benar-benar, janganlah dia membunuh keturunan dan pekerja. (HR Ahmad).
‘Umar bin al-Khaththab berkata, “Takutlah kalian kepada Allah (dan membunuh) keturunan dan para petani yang tidak memerangi kalian!” Ibn alMundzir mengatakan bahwa ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz tidak membunuh petani pengolah tanah (sekarang bisa dianalogikan sebagai pegawai atau karyawan yg tidak ikut2an perang, walaupun dia itu kafir sekalipun).

Pada saat pasukan salib sebelumnya membunuhi warga sipil dan anak-anak bahkan para pengungsi, akan tetapi Islam membatasinya bahkan kepada tentara yang sudah menyerah sekalipun, seperti yang dilakukan oleh Sholahuddin.

QS 47;4 “Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir.. “

Lengkapnya silahkan baca : https://almubayyin.wordpress.com/lain-lain/jihad-dalam-islam/

Hal tersebut juga dilakukan oleh Umar bin Khatthab pada saat awal penaklukan Yerusalem sebelumnya, saat beliau menaklukan Yerusalem, beliau tidak melakukan pembunuhan pada rakyat sipil sama sekali. Bahkan beliau berjanji untuk menjaga mereka semua, baik muslim maupun non muslim, dengan perjanjian yang terkenal dengan sebutan piagam al-‘Uhda al-Umariyyah yang mirip dengan Piagam Madinah di jaman Rasululloh. Yang isinya bahwa selama di bawah kepemimpinan Umar hak dan kewajiban mereka dijamin serta dilindungi. (lihat al-Tabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk; juga History of al-Tabari: The Caliphate of Umar ibn al-Khathab Trans Yohanan Fiedmann, Albay, 1992, p 191).

Begitu indahnya ajaran Islam, yang telah diterapkan dengan begitu baiknya pada saat penaklukan Yerusalem terdahulu. Hal ini sangat bertolak belakang dengan yang dilakukan pasukan Salib yang diutus sang Paus pemimpin gereja mereka. Sejarah serta dalil sudah berbicara, maka apa lagi yang akan dipungkiri sobat ?! hhmmm…

Artikel terkait :

https://almubayyin.wordpress.com/kristologi/permusuhan-dalam-bible/
https://almubayyin.wordpress.com/lain-lain/jihad-dalam-islam/