Perbedaan Bible dan Al Quran

BIBLE :

I. Penulis Bible

Sebagian besar Kitab Perjanjian Lama tidak diketahui penulisnya, sebagian lain diragukan, dan sebagian lagi tidak diketahui sejarahnya sama sekali. (Penerbit Collins, Al Kitab Revised Standard Version 1971)

Disamping surat2 Paulus, bagian paling penting dari Perjanjian Baru terdiri dari Injil yg empat. Meskipun dinamai menurut empat Rosul, Injil2 itu tidak ditulis oleh mereka. (Gerald L. Berry)

1. MARKUS
Lembaga Biblika Indonesia mengakui bahwa sampai saat ini penulis Injil Markus masih belum jelas, meski diduga bahwa penulisnya adalah bukan Yesus dan bukan pula murid Yesus, melainkan orang lain yg diduga sebagai murid Petrus. Injil Markus ditulis sekitar 65 M atau 70 M.
Ada yang mengatakan bahwa Markus adalah murid Petrus seperti yang dikutip oleh Hansting’s dalam Encyclopaedia of religion and Ethics,selain itu silahkan juga baca pasal 39 yang ada pada newadvent.org :
Karena menjadi penerjemah petrus,markus secara akurat menulis apa yang diingatnya.Meskipun tanpa mencatat secara teratur (tidak berurutan) atas apa yang dikatakan atau yang dilakukan oleh kristus.Karena dia tidak mendengar langsung dari yesus atau pengikutnya ( yesus).Tetapi setelah itu,seperti yang telah saya katakan,dia mendatangi petrus yang menyesuaikan ajaran-ajarannya untuk kebutuhan pendengarnya tetapi tidak mempunyai mekasud untuk merusak sabda yesus.”

Dalam kutipan tersebut diakui bahwa Markus tidak pernah bertemu dengan Yesus , tetapi belajar dari Petrus. Dan anehnya, Petrus yang murid Yesus sebenarnya juga menulis Injil, akan tetapi justru Injil yang ditulis oleh murid Yesus langsung tersebut dilarang untuk dibaca. Pada Encyclopedia Britannica vol. II halaman 106-118,kita akan menemukan diantara dokumen-dokumen yang dipandang sebagai kitab apokripa (yang dilarang untuk dibaca),yang salah satunya adalah injil atas nama petrus karena berbeda dengan Injil Markus.

2. MATIUS
Pendapat misionaris yg mengatakan bahwa Injil Matius ditulis oleh murid Yesus yg bernama Matius yg berprofesi sebagai pemungut cukai ditentang oleh teolog2 yg lain.

Tradisi-tradisi kuno menganggap bahwa Injil ini berasal dari Rosul Matius, tetapi para ilmuawan sekarang menolak pendapat ini. Pengarangnya secara tepat masih dapat diberi nama Matius. Matius menyontek Injil Markus secara bebas. Padahal ketika Yesus mengajar, Markus adalah anak yg masih ingusan yg belum pernah bertemu Yesus. (J.B.Philips, The Gospels Translated into Modern English)

Menurut pendapat kita, pengarang Injil Matius bukannya seorang dari kedua-belas Rosul, melainkan seorang Kristen berbangsa Yahudi yg tidak dikenal. (K.Riedel, Tafsiran Injil Matius)

3. LUKAS
Dalam Injil ini tak ada satu keteranganpun yg mengatakan bahwa Lukas adalah murid Yesus. Pendapat yg mengatakan bahwa Lukas dan Markus adalah nama lain dari Bartolomeus dan Thomas adalah tidak benar, karena tidak ada ayat dan fakta sejarah yg mendukungnya.

Riwayat lain mengatakan bahwa Lukas adalah dokter pribadi Paulus. Karena dalam Injil Lukas (Kisah Rosul2) kelihatan sekali kalau Paulus sangat diagungkan, bahkan mendapat gelar Hermes (Dewa Romawi yg terkenal).

4. YOHANES
Memang ada banyak kejadian yg diceritakan dalam Injil Yohanes berdasarkan pada sejarah, termasuk penyaliban itu sendiri. Tetapi itu semua sudah melewati penyulingan otak penginjil terkait, lalu keluar dalam keadaan sudah berubah.” (Crawford Burkitt, sarjana Bibel Perancis)

Lembaga Al-Kitab Indonesia dalam buku Injil Yohanes Edisi Studi, halaman 7 mengatakan bahwa penulis Injil Yohanes masih belum diketahui secara pasti. Karena Yahya Sang Pembaptis sudah dibunuh oleh Raja Herod Agrippa II semasa Isa AS masih hidup. Sedangkan Yahya bin Yabdi, salah satu murid Yesus konon juga sudah tewas dalam penjara tahun 67M.

Pendeta Gaius meyakini bahwa penulis Injil Yohanes adalah seorang GNOSTIK bernama Carinthus. Corinthus kemungkinan besar adalah seorang anggota Jemaat Nikolaus yg terlibat dalam konspirasi pembentukan Agama Kristen seperti sekarang ini.

II. WaktuPenulisan

Berikut perkiraan kurun waktu yang diberikan oleh Raymond E. Brown, dalam buku-nya “An Introduction to the New Testament”, sebagai representasi atas konsensus umum para sarjana, pada tahun 1996:
Markus: sekitar 68-73
Matius: sekitar 70-100
Lukas: sekitar 80-100
Yohanes: 90-110

Sedangkan, perkiraan kurun waktu yang diberikan dalam NIV Study Bible:
Markus: sekitar tahun 50-an hingga awal 60-an, atau akhir 60-an
Matius: sekitar tahun 50-70-an
Lukas: sekitar tahun 59-63, atau tahun 70-an hingga 80-an
Yohanes: sekitar tahun 85 hingga mendekati 100, atau tahun 50-an hingga 70

Kontradiksi Penulisan Bible Tertua :

1. Raymond E. Brown, dalam buku-nya “An Introduction to the New Testament.”Yang menyatakan bahwa injil matius ditulis pada tahun 70 – 100 M.

2. Perkiraan kurun waktu yang diberikan dalam NIV Study Bible.Yang menyatakan bahwa injil matius ditulis pada tahun 50-70-an.

3. Seorang pakar bibel yaitu J.T.Sunderland,dalam The Bible-its Rowth and Origin.Yang menyatakan bahwa injil matius ditulis pada tahun 70 – 90 M.

Hilangnya Naskah Awal Bible

Septuagint (sĕp`tyəjĭnt) [Lat.,=70], oldest extant Greek translation of the Hebrew Bible made by Hellenistic Jews, possibly from Alexandria, c.250 B.C. Legend, according to the fictional letter of Aristeas, records that it was done in 72 days by 72 translators for Ptolemy Philadelphus, which accounts for the name. The Greek form was later improved and altered to include the books of the Apocrypha and some of the pseudepigrapha. It was the version used by Hellenistic Jews and the Greek-speaking Christians, including St. Paul; it is still used in the Greek Church. The Septuagint is of importance to critics because it is translated from texts now lost. No copy of the original translation exists; textual difficulties abound. The symbol for the Septuagint is LXX.

Menurut buku “Misquoting Yesus – Kesalahan Penyalinan Dalam Kitab Suci Perjanjian Baru” karangan Bart D. Ehrman seorang ahli kritik naskah, pada Kata Pengantar, dia menyatakan di halaman xx :

Kita tidak memiliki naskah-naskah asli itu! Kita hanya memiliki salinan-salinan yang sarat kekeliruan, dan sebagian besar dari salinan-salinan itu sudah terpisah selama berabad-abad dari naskah-naskah aslinya dan berbeda dengan naskah-naskah asli itu, dan tampaknya perbedaannya banyak sekali

Rev David J Fant dari New York Bible Society, mengakui bahwa naskah asli Bible telah hilang :
“The question naturally arises, do any of the original manuscripts of the Bible still exist? The answer is No. The original manus­cripts were on papyrus and other perishable materials and have long since disappeared” (Simple Helps and Visual Aids to Understanding The Bible, hlm. 6).

“Di seluruh dunia tidak usah dicari teks asli Alkitab, sebab teks itu memang tidak ada. Yang kita miliki sekarang ialah salinan dari salinan-salinan terdahulu, dan diantara bermacam-macam salinan yang kita miliki itu TERDAPAT CUKUP BANYAK PERBEDAAN. Perjanjian Lama berisikan teks-teks yang dibuat oleh bangsa Israel. Penyusunannya meliputi beberapa abad lamanya. Hampir semua teks itu dituliskan dalam bahasa Ibrani kuno, sedangkan beberapa bagiannya dituliskan dalam bahasa Aram, bahkan dalam bahasa Yunani. Perjanjian Baru berisikan teks-teks dalam bahasa Yunani (koine) yang pada abad pertama menjadi bahasa internasional Kristen. Proses penyusunannya meliputi beberapa puluh tahun” (Stefan Leks, Inspirasi dan Kanon Kitab Suci, Kanisius, Yogyakarta 1992, hal. 73-74).

III. Banyak Versi Bible

Kitab Suci Katolik terdiri dari 72 kitab (45 kitab PL + 27 kitab PB), sementara kebanyakan Kitab Suci Protestan hanya terdiri dari 66 kitab.

Ada AV=Authorized Version atau biasa disebut KJV (King James Version) yang biasa dipakai umat Protestan, ada juga RCV= Roman Catholic Version yang merupakan Bible tertua yang masih bisa dijual saat ini dipakai oleh umat Katolik Roma. RCV ini ditolak oleh seluruh gereja Protestan dan sekte-sekte lainnya seperti Advent hari Ketujuh, saksi Yehovah dan lain-lain.

Dari waktu ke waktu, terjadi revisi Bible sehingga dari waktu ke waktu Bible selalu berubah dan tidak sama. Bible pertama kali diterbitkan pada tahun 1611 (AV) dan kemudian direvisi pada tahun 1881 (RV = Revised Version). Setelah itu direvisi kembali pada tahun 1952 menjadi versi standar yang telah direvisi (RSV = Revised Standard Version), Injil tersebut direvisi lagi pada tahun 1971 (singkatannya masih tetap RSV).

THE YERUSALEM BIBLE (1966). Saduran Katolik, di mana Tuhan disebut “Yahweh.” Bersejarah, karena lain dari naskah Latin oleh Jerome, dan adanya catatan-catatan kritik modern.
NEW ENGLISH BIBLE (1970). Walaupun saduran gerejani dibawah perlindungan Anglican-Protestan, tapi mudah dibaca, bersumber dan naskah-naskah kuna tanpatergantung pada terjemahan-terjemahan yang lebih dahulu. Apocrypha ada.
NEW AMERICAN BIBLE (1970). Terbitan Katolik A.S. mutakhir, terjemahan dari bahasa-bahasa yang semula. Ini dan Yerusalem Bible mendesak bible dan DOUAY-RHEIMS, Bible Katolik yang lebih rendah mutunya dari KING JAMES.
NEW AMERICAN STANDARD BIBLE (1971). Revisi yang disusun agak kaku dari saduran yang lebih dahulu dan diabaikan. Kesukaan kaum Fundamentalist. Dituduh agak memalsukan text agar Bible dipandang lebih tepat.
THE LIVING BIBLE (1966). Dinista oleh kaum Purist karena kebebasannya dengan naskah. Paraphrase ini oleh seorang Injili KENNETH TAYLOR mempopulerkan Alkitab yang diperjual-belikan di supermarket dan kios.
THE HOLY SCRIPTURES (1917). Wasiat Lama untuk umat Yahudi. Berdasar atas bible-bible yang lebih tua dalam bahasa Inggris. Para Sarjana akan tamatkan sebuah saduran modern yang lebih baik pada tahun 1980-an.
NEW TESTAMENT IN MODERN ENGLISH (1958). Paraphrase dan seorang pendeta Inggris J.B. PHILLIPS, yang membuat Injil-injil dan surat-surat mudah difahami.
TODAY’S ENGLISH VERSION (1966). Sebuah terjemahan dan Perjanjian Baru dalam bahasa yang ringkas. Dari American Bible Society.
NEW INTERNATIONAL VERSION (1973). Terbitan terakhir dari Perjanjian Baru oleh suatu panel internasional dari 108 sarjana yang berniat menerbitkan Bible yang lengkap pada tahun 1978.

Dan masih banyak lagi versinya…

AL QURAN :

I. Penulis Al Quran

Para penulis Al Quran di saat Nabi Muhammad masih hidup, menurut yang diketahui oleh shahabat Abdullah bin ‘Umar dan Anas bin Malik, ada empat orang, menurut yang diketahui oleh Muhammad bin Ka’ab Quradhi (Manahilul Irfan: Jil. 1, hal. 236; Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an: jil. 1, hal. 56; Usdul Ghabah: jil. 4, hal. 216. Al-Jami’ Al-Shahih: jil. 5, hal. 666), menurut yang diketahui Sya’bi (Thabaqat Ibnu Sa’ad: jil. 2, hal. 113; Fathul Bari: jil. 9, hal. 48; Manahilul Irfan: jil. 1, hal. 237; Hayatus Shahabah: jil. 3, hal. 221) mereka enam orang, menurut yang diketahui oleh Ibnu Habib pun dalam Al-Muhabbar (hal. 286) menyebut mereka ada enam orang, dan menurut yang diketahui oleh Ibnu Nadim dalam Al-Fihrist (hal. 41) mengatakan jumlah mereka tujuh orang.

Sehingga jika digabungkan di antara yang diketahui oleh para shahabat dan ahli ilmu jaman dahulu, nama-nama penulis Al Quran di jaman Nabi adalah sbb :
1. Ubay bin Ka’b;
2. Abu Ayub Anshari;
3. Tamim Dari;
4. Abu Darda’;
5. Abu Yazid Tsabit bin Zaid bin Nu’man;
6. Zaid bin Tsabit;
7. Salim yang dibebaskan Ibnu Hudzaifah;
8. Sa’id bin ‘Ubaid bin Nu’man;
9. Ubadah bin Shamit;
10. Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash;
11. Abdullah bin Mas’ud;
12. Ubaid bin Mu’awiyah bin Zaid;
13. Utsman bin ‘Affan;
14. Ali bin Abi Thalib;
15. Qais bin Al-Sakan;
16. Qaish bin Abi Sha’sha’ah bin Zaid Anshari;
17. Majma’ bin Jariyah;
18. Mu’adz bin Jabal bin Aus;
19. Ummu Waraqah binti Abdullah bin Harits.

Pada jaman turunnya Al Quran, di masa-masa awal penulisan, Nabi melarang penulisan selain Al Quran agar tidak tercampur dengan tulisan-tulisan lain termasuk hadits Nabi.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri, Rasulullah Muhammad berkata,
لَاتَكْتُبُوْاعَنَّيْشَيْئًاإِلاَّاْلقُرْآنَفَمَنْكَتَبَعَنِّيْغَيْرَاْلقُرْآنَفَلْيَمْحُهُوَحَدِّثُوْاعَنِّيْوَلاَحَرَجٌوَمَنْكَذَبَعَلَيَّمُتَعَمِّدًافَلْيَتَبَوَّأْمَقْعَدَهُمِنَالنَّارِ
“Janganlah kalian menulis sedikitpun dariku kecuali Al-Qur`an. Barangsiapa menulis dariku selain Al-Qur`an, hendaknya dia menghapusnya. (Shahih Muslim no. 1861)

Tetapi setelah muncul banyak penghapal Al Quran di kalangan kaum muslimin, maka diperbolehkan menulis hadits Nabi Muhammad karena tidak takut akan tercampur antara Al Quran dan hadits Nabi.

Selain adanya penulis yang merupakan saksi hidup turunnya ayat-ayat Al Quran, muncul para penghapal Al Quran yang banyak. Hampir semua shahabat hapal Al Quran saat Nabi masih hidup, sebagiannya hapal Al Quran setelah Nabi wafat.

Kesimpulan, Al Quran terjaga keasliannya sejak jaman Nabi masih hidup hingga saat ini.

II. Waktu Penulisan Al Quran

Mulai ditulis dan dihapal sejak Nabi masih hidup, walau saat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus tujuh puluh orang yang disebut Al-Qurra’. Mereka dihadang dan dibunuh oleh penduduk dua desa dari suku Bani Sulaim ; Ri’l dan Dzakwan di dekat sumur Ma’unah (HR Bukhari, Kitab Al-Jihad, Bab Al-Aunu Bil Madad, hadits nomor 3064).
Namun di kalangan para sahabat selain mereka masih banyak para penghapal Al-Qur’an, seperti Khulafaur Rasyidin, Abdullah Ibn Mas’ud, Salim bekas budak Abu Hudzaifah, Ubay Ibn Ka’ab, Mu’adz Ibn Jabal, Zaid Ibn Tsabit dan Abu Darda dan para shahabat yang masih banyak lainnya Radhiyallahu ‘anhum.

Penulisan dilanjutkan di jaman Abu Bakar As shiddiq, karena ditakutkan Al Quran yang sudah ditulis sebelumnya di kulit, daun, kaghid, tulang yang pipih, pelepah kurma, dan batu-batu tipis rusak, para penghapal Al Quran banyak juga yang mati syahid seperti di perang Yamamah.

Zaid bin Tsabit, salah seorang penulis di jaman Rasulullah, mendapat tugas mulia tersebut. Beliau mengumpulkan para hafidz (penghapal Al Quran) dan mengumpulkan tulisan-tulisan Al Quran yang ada di kulit, daun, kaghid, tulang yang pipih, pelepah kurma, dan batu-batu tipis yang ada.

Setiap ayat yang ditulis harus disaksikan para hufadz dan penulis Al Quran, begitu telitinya hingga setiap ayat tersebut harus disaksikan oleh minimal 2 orang saksi penulis.

Tahap berikutnya penulisan dan pengumpulan Al Quran dilakukan di jaman Khalifah Utsman bin Affan.

Pada saat itu, Al Quran mulai banyak ditulis di kalangan kaum muslimin dan dibaca dan disalin sesuai dialek dan qiraat masing-masing daerah. Orang Syam membaca dengan dialek dan qiraat yang berbeda dengan orang Iraq, begitu seterusnya. Perbedaan tersebut menyebabkan perpecahan yang sangat menghawatirkan, karena di antara mereka sudah mulai ada yang mengkafirkan satu dengan yang lainnya.

Dari Anas, bahwa Huzaifah bin al-Yaman datang kepada Usman, ia pernah ikut berperang melawan penduduk Syam bagian Armenia dan Azarbaijan bersama dengan penduduk Iraq. Huzaifah amat terkejut dengan perbedaan mereka dalam bacaan, lalu ia berkata kepada Usman, “Selamatkanlah umat ini sebelum mereka terlibat dalam perselisihan (dalam masalah kitab) sebagaimana perselisihan orang-orang yahudi dan nasrani.” Usman kemudian mengirim surat kepada Hafsah yang isinya, “Sudilah kiranya anda kirimkan lemgbaran-lembaran yang berisi Qur’an itu, kami akan menyalinnya menjadi beberapa mushaf, setelah itu kami akan mengembalikannya.” Hafsah mengirimkannya kepada Usman, dan Usman memerintahkan Zaid bin Sabit, Abdullah bin Zubair, Sa’ad bin ‘As dan Abdurrahman bin Haris bin Hisyam untuk menyalinnya.

Usman berkata kepada ketiga orang Quraisy itu, “Bila kamu berselisih pendapat dengan Zaid bin Sabit tentang sesuatu dari Qur’an, maka tulislah dengan logat Quraisy karena qur’an diturunkan dengan bahasa Quraisy.”

Jadi rujukan utama adalah mushaf yang disusun pada masa Abu Bakar sebelumnya, ditambah saksi-saksi di kalangan para hufadz (penghapal Al Quran) di kalangan para shahabat yang menyaksikan langsung Rasulullah membacanya. Bacaan yang ada disesuaikan dengan dialek Quraisy, dialek yang digunakan saat Al Quran diturunkan kepada Nabi, sehingga selain tulisan dengan dialek tersebut dibakar. Karena saat itu banyak tulisan Al Quran yang dibuat kaum muslimin disesuaikan dengan dialek masing2 daerah.

Al-Haris al-Muhasibi mengatakan: “Yang masyhur di kalangan orang banyak ialah bahwa pengumpul Qur’an itu Usman. Pada hal sebenarnya tidak demikian, Usman hanyalah berusaha menyatukan umat pada satu macam (wajah) qiraat, itupun atas dasar kesepakatan antara dia dengan kaum muhajirin dan anshar yang hadir dihadapannya.serta setelah ada kekhawatiran timbulnya kemelut karena perbedaan yang terjadi karena penduduk Iraq dengan Syam dalam cara qiraat. Sebelum itu mushaf-mushaf itu dibaca dengan berbagai macam qiraat yang didasarkan pada tujuh huruf dengan mana Qur’an diturunkan. Sedang yang lebih dahulu mengumpulkan Qur’an secara keseluruhan (lengkap) adalah Abu Bakar as-Sidiq.”

Sebenarnya di jaman Nabi, ada tujuh jenis qiraat yang diperbolehkan Nabi, tetapi karena terjadi perpecahan yang memprihatinkan di kalangan kaum muslimin, maka yang diperbolehkan hanya satu saja. Itulah yang disebut mushaf Utsmani. Jaman Abu Bakar, sekedar mengumpulkan Al Quran tetapi tidak memasalahkan dialek/qiraat yang ada.

Pada masa Utsman bin Affan, Al Quran diperbayak sebanyak tujuh buah kemudian dikirimkan masing-masing satu copy ke kota Makkah, Syam, Yaman, Bahrain, Bashrah, Kufah dan Madinah.

Pada masa Utsman bin Affan, tulisan Al Quran tanpa tanda baca dan harokat.

Untuk memudahkan membaca Al Quran bagi orang non Arab, karena Islam mulai berkembang pesat ke seluruh dunia, pada zaman Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan beliau menugaskan Abdul Aswad Ad-dawly untuk meletakkan tanda baca (i’rab) pada tiap kalimat dalam bentuk titik untuk menghindari kesalahan membaca.

Selanjutnya pemberian tanda baca (i’rab) seperti itu dirasa kurang cukup memudahkan, maka pada masa Abdul Malik bin Marwan (65 H), khalifah kelima Dinasti Umayyah itu menugaskan salah seorang gubernur pada masa itu, Al Hajjaj bin Yusuf, untuk memberikan titik sebagai pembeda antara satu huruf dengan lainnya. Misalnya, huruf ba’ dengan satu titik di bawah, huruf ta dengan dua titik di atas, dan tsa dengan tiga titik di atas.

Islam semakin menyebar luas hingga ke Eropa, sehingga pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah, diberikan tanda baris berupa dhamah, fathah, kasrah, dan sukun untuk memperindah dan memudahkan umat Islam dalam membaca Al-Qur’an.

Hingga saat ini, Al Quran telah dicetak di seluruh dunia dan dihapal lengkap 30 juz oleh puluhan ribu hingga ratusan ribu umat Islam di dunia.

Tidak ada satu huruf pun yang akan berbeda di dalam Al Quran yang sudah dicetak maupun yang dihapalkan oleh umat Islam di seluruh dunia. Jika ada yang coba-coba dengan sengaja mencetak berbeda walau sekedar satu huruf saja dengan yang sudah dihapalkan sekian banyak kaum muslimin, akan sangat mudah terdeteksi.

III. Tidak ada versi-versi Al Quran…

Jika dibuatkan sebuah kesimpulan adalah sebagai berikut :

I. a. Penulis Bible : Tidak pernah bertemu atau sangat diragukan pernah bertemu langsung dengan Yesus.

Di dalam Islam, jika ada dalil yang disampaikan oleh orang yang tidak pernah atau diragukan pernah bertemu dan mendengar langsung dari Nabi Muhammad akan dinyatakan sebagai hadits Dhaif dalam kategori hadits Munqothi’, sehingga tidak bisa dipergunakan sebagai dalil.

Penulis menulis tanpa ada saksi lain yang pernah mendengar langsung dari Yesus.

b. Penulis Al Quran : Bertemu langsung dengan Nabi Muhammad dan disaksikan oleh banyak shahabat yang lainnya.
Ditulis oleh banyak shahabat dan dihapal oleh banyak shahabat juga.

II. a. Masa Penulisan Bible : Ditulis puluhan tahun setelah Yesus tidak ada bahkan Injil Yohanes ditulis hampir seratus tahun setelah Yesus tidak ada.

Ditulis tanpa saksi lainnya yang pernah mendengar langsung dari Yesus karena jarak antara Yesus tidak ada dengan penulisan sangat jauh sekali.

Naskah asli sudah dinyatakan hilang.

b. Masa Penulisan Al Quran : Ditulis dan dihapalkan sejak jaman Nabi Muhammad masih hidup kemudian dikompilasi menjadi sebuah kitab pada jaman para saksi mata masih hidup (para shahabat). Kompilasi dilakukan dikarenakan Al Quran yang dihapal saat itu saat masuk ke daerah-daerah di luar Mekkah dan Madinah terkontaminasi dengan dialek daerah masing-masing.
Ditakutkan dialek tersebut akan berkembang dalam pembacaan Al Quran sehingga bisa merubah arti yang sebenarnya.

Kompilasi ditulis secara hati-hati karena satu ayat yang ada itu harus disaksikan oleh minimal dua orang penulis yang mendengar langsung dari Rasulullah lainnya.

III. a. Versi Bible : Banyak sekali
b. Versi Al Quran : Tidak ada