Pernikahan Dini Yang Diatur Dalam Hukum Agama Yahudi

Dalam artikel ini akan kita kupas permasalahan mengenai pernikahan dini yang ada di dalam Yahudi dan hukum agama Daud, Musa dan lain-lainnya. Akan kita pelajari usia pernikahan yang umum berlaku secara umum pada jaman dahulu kala di wilayah Timur Tengah, dengan merujuk pada tradisi kehidupan dan tata cara beragama Yahudi.

Untuk mendapatkan gambaran tentang usia pernikahan di kalangan masyarakat Yahudi, kita akan merujuk pada beberapa buku catatan sejarah yang telah membahasnya. Dalam hal ini akan saya ambilkan dari buku-buku yang ditulis oleh ahli sejarah dari kalangan non muslim, bahkan di antaranya adalah mereka dari kalangan ilmuwan Bible juga, sehingga akan lebih obyektif dan terbebas dari unsur subyektifitas.

Usia pernikahan bagi wanita di kalangan tradisional Yahudi adalah pada usia muda, hal ini tergambar dari buku tulisan Philip King and Lawrence Stager, Life in Biblical Israel, cetakanWestminster John Knox Press, Louisville, 2001, hal. 37 sebagai berikut : “In ancient Israel, girls married in their teens, even early teens.” (Di Israel jaman dahulu, anak-anak perempuan menikah di usia remaja, bahkan di awal remaja).

Pertanyaannya, berapa pasti umur yang dimaksud ?! Bisa kita buka dalam catatan sejarah dari James Neil, dalam bukunya “Everyday Life in the Holy Land”, cetakan Society for Promoting Christian Knowledge, London, 1913, hal. 223 sebagai berikut : “”Girls are ‘given in marriage’ at eleven or twelve years of age, though this is not the limit. They are frequently married as young as nine….” (Gadis-gadis ‘dikawinkan’ di sebelas atau dua belas tahun usia, meskipun hal ini bukan batasannya. Mereka sering menikah juga diusia sembilan tahun). Jadi wanita Yahudi jaman dulu mereka bahkan menikah di usia 9 tahun, jadi pernikahan di usia dini 11, 12 tahun bahkan 9 tahun adalah memang hal hal lumrah dan diperbolehkan dalam tradisi mereka.

Apakah usia 9 tahun adalah batas minimal wanita Yahudi menikah di sinagog-sinagog dan diresmikan oleh para Rabi (rohaniawan/pendeta) mereka ?! tidak juga. Jika kita membuka dari catatan sejarah lainnya, ternyata kita akan mendapatkan batas minimal usia pernikahan wanita Yahudi dan disetujui dalam hukum agama Yahudi yang sangat mencengangkan, yakni 3 tahun. Betulkah ?! Mari kita kupas lebih dalam lagi..

1. Child marriage was possible in Judaism due to the very low marriageable age for females. A ketannah (literally meaning little [one]) was any girl between the age of 3 years and that of 12 years plus one day; a ketannah was completely subject to her father’s authority, and her father could arrange a marriage for her without her agreement. ( pernikahan anak-anak itu sangat mungkin terjadi dalam agama Yahudi karena usia menikah yang sangat rendah untuk perempuan. Sebuah ketannah (secara harfiah berarti sedikit [satu]) adalah gadis antara usia 3 tahun dan 12 tahun ditambah satu hari; ketannah sebuah benar-benar tunduk pada otoritas ayahnya, dan ayahnya bisa mengatur perkawinan untuknya tanpa persetujuan dirinya). Silahkan cek di http://www.worldlibrary.org/articles/marriageable_age_in_judaism#cite_note-81 atau http://dictionnaire.sensagent.leparisien.fr/CHILD%20MARRIAGE/en-en/ .

2. Hal tersebut juga diperkuat penjelasan dalam ” https://en.wikipedia.org/wiki/Child_marriage ” sebagai berikut : “Jewish scholars and rabbis strongly discouraged marriages before the onset of puberty, but at the same time, in exceptional cases, girls ages 3 through 12 (the legal age of consent according to halakha) might be given in marriage by her father. (sarjana Yahudi dan rabi dianjurkan pernikahan sebelum masa pubertas, tetapi pada saat yang sama, dalam kasus luar biasa, anak perempuan usia 3 sampai 12 (usia legal persetujuan menurut halakha) mungkin dikawinkan oleh ayahnya).
Silahkan buka pula keterangan tersebut dalam “http://www.jewishencyclopedia.com/articles/10310-majority” dan juga “Lőw, Leopold Lőw (1969). Beiträge zur jüdischen Altherthumskunde, Band 2. Gregg. pp. 170, 175, 176.”).

Jadi pernikahan usia 3 tahun adalah hal yang resmi dan disetujui menurut “Halakha”, yakni kumpulan hukum-hukum agama Yahudi berdasarkan Torah yang tertulis maupun tradisi lisan yang terdiri dari 613 mitzvot ( “perintah”), hukum Talmud dan rabbi berikutnya dan adat istiadat disusun dalam Shulchan Aruch (harfiah “Siap Table”, tapi lebih dikenal sebagai “Kitab Hukum Yahudi”).

3. “The possession of Children by their parents was also given religious sanction in the teachings of both the Talmud and the Bible. Rush (1880) states that the Talmud teaches that a girl of ‘three years and one day’ could be betrothed through an act of sexual intercourse.(Mary De Young The sexual victimization of children page 103)

(“kepemilikan Anak oleh orang tua mereka juga diberi sanksi agama dalam ajaran baik Talmud dan Alkitab. Rush (1880) menyatakan bahwa Talmud mengajarkan bahwa seorang gadis dari ‘tiga tahun dan satu hari’ bisa bertunangan melalui tindakan hubungan seksual.)

4. Edward Hendrie also echoes the same statements made previously
“Sanhedrin 55b: It is permitted to have sexual intercourse with a girl three years and one day old. See also Yebamoth 57b, 60b; Abodah Zarah 37a.
Kethoboth 11b: When a grown-up man has intercourse with a little girl it is nothing, for when the girl is less than three years old it is as if one puts the finger into the eye, tears come to the eye again and again, so does virginity come back to the little girl under three years.” (Solving the Mystery of Babylon the Great By Edward Hendrie)

(Sanhedrin 55b: Hal ini diizinkan untuk memiliki hubungan seksual dengan seorang gadis tiga tahun dan satu hari. Lihat juga Yebamoth 57B, 60b; Abodah Zarah 37a.
Kethoboth 11b: Ketika seorang pria dewasa memiliki hubungan dengan seorang gadis kecil itu adalah apa-apa, ketika gadis berusia kurang dari tiga tahun itu adalah sebagai jika seseorang menempatkan jari ke mata, air mata datang ke mata lagi dan lagi, sehingga tidak keperawanan kembali ke gadis kecil di bawah tiga tahun. “)

5. The Anglican Priest Herbert Danby in the Book: ‘The Mishnah: Translated from the Hebrew with Introduction and Brief Explanatory notes.’ It says that a girl of three years old and one day could be betrothed by the brother’s husband and he can have intercourse with her.

(Imam Anglikan Herbert Danby dalam Kitab: ‘The Mishnah:. Diterjemahkan dari bahasa Ibrani dengan Pengantar dan Penjelasan catatan singkat’ ini mengatakan bahwa seorang gadis berusia tiga tahun dan satu hari bisa bertunangan dengan saudaranya suami dan dia (saudaranya suami) bisa melakukan hubungan intim dengan nya.


Masalahnya, dari mana mereka menetapkan batas minimal usia pernikahan wanita adalah 3 tahun ?! Ternyata mereka mengambil dari sejarah pernikahan Isaac dengan rebecca (Ribka). Menurut catatan yang ada dalam agama Yahudi, Rebecca (Ribka) yang merupakan ibunda Yacob menikah di usia 3 tahun. Mari kita simak catatan-catatan di bawah ini untuk mengetahuinya :

1. According to calculations made by Rabbi Solomon Itzhaki (A.K.A. Rashi a well-known respected Jewish Scholar), Rebecca was three years old when she married Isaac. Rashi’s commentary on Genesis 25:20 says:
forty years old: For when Abraham came from Mount Moriah, he was informed that Rebecca had been born. Isaac was then thirty-seven years old, for at that time Sarah died, and from the time that Isaac was born until the “Binding” [of Isaac], when Sarah died, were thirty-seven years, for she was ninety years old when Isaac was born, and one hundred and twenty-seven when she died, as it is stated (above 23:1): “The life of Sarah was [a hundred and twenty-seven years.”] This makes Isaac thirty-seven years old, and at that time, Rebecca was born. He waited for her until she would be fit for marital relations-three years-and then married her.— [From Gen. Rabbah 57:1.

(Menurut perhitungan yang dibuat oleh Rabbi Solomon Itzhaki (alias Rashi terkenal dihormati Scholar Yahudi), Rebecca berusia tiga tahun ketika ia menikah Isaac. Komentar Rashi pada Kejadian 25:20 mengatakan:
“berusia empat puluh tahun”: Pada saat Abraham datang dari Gunung Moriah, dia diberitahu bahwa Rebecca telah lahir. Isaac saat itu berusia tiga puluh tujuh tahun, pada saat itu Sarah meninggal, dan dari waktu Ishak lahir sampai pengikatan [Ishak], ketika Sarah meninggal, tiga puluh tujuh tahun, karena ia berusia sembilan puluh tahun ketika Ishak lahir, dan seratus dua puluh tujuh ketika dia meninggal, seperti yang dinyatakan (Kejadian 23: 1): “[. seratus dua puluh tujuh tahun kehidupan Sarah”] Sehingga umur Isaac saat itu tiga puluh tujuh tahun , dan pada saat itu pula, Rebecca lahir. Dia (Isaac) menunggu sampai dia (Rebecca) sudah siap untuk hubungan-tiga tahun-dan kemudian menikahinya.- [Dari Kej Raba 57: 1.

[Retrieved it from this website: http://www.chabad.org/library/bible_cdo/aid/8220/showrashi/true%5D

2. Also Johann Buxtorf cites Rashi that Rebecca was three years old when she married Isaac.
“Rabbi Solomon in his comment on Genesis, says that Rebecca, when she was married to Isaac, was but three Years of Age. His words run thus, ‘When Abraham was come from Mount Moria, he received the joyful News of Rebecca. Isaac was at that Time Thirty seven years old; and then did Sarah die. The time, from birth of Isaac to the death of Sarah, was Thirty seven Years, And Sarah was Ninety Years old when Isaac was born; and One Hundred and Twenty Seven Years old when she died: As it is said in Gen 23:1 . Sarah was one hundred and twenty-seven years old. Behold, the Age of Isaac was Thirty Seven Years, at the Time of the Birth of Rebecca. And when he had waited for her three Years, till she was fit for marriage, he took her to wife.”
According to this Account, Rebecca was a very notable Girl at three years of age. But that a girl of three Years old is fit for marriage, is maintained very plainly in the Jewish writings; particularly, in Emek Hamelech, in the following passage, ‘our blessed sags, of blessed memory, say, that a female is not fit for marriage, ‘till she is arrived at the Age of three years and one day.’ The Talmud supports these Sages here, in the part entitled Avoda Sara. And the Sanhedrin says, A daughter, who is of the age of three years and one day, is, by being bedded with a Man, lawfully married.” –>> Johann Buxtorf, Johann Andreas Eisenmenger, John Peter Stehelin
Rabinical literature: or, The traditions of the Jews, contained in their Talmud and other mystical writings. Likewise the opinions of that people concerning Messiah, and the time and manner of his appearing; with an appendix comprizing Buxtorf’s account of the religious customs and ceremonies of that nation; also, A preliminary enquiry into the origin, progress, authority, and usefulness of these traditions; wherein the sense of the strange allegories in the Talmud and Jewish authors is explained. [ Publisher: London J. Robinson, 1748] Volume 1 page 33 – 34.

Juga Johann Buxtorf mengutip Rashi tentang Rebecca berusia tiga tahun ketika ia menikah dengan Isaac.
“Rabbi Solomon dalam komentarnya pada Kejadian, mengatakan bahwa Rebecca, ketika ia menikah dengan Ishak, adalah pada usia tiga tahun. Kata beliau demikian, ‘Ketika Abraham berasal dari Gunung Moria, ia menerima Berita gembira dari Rebecca. Ishak pada saat itu berusia tiga puluh tujuh tahun; dan kemudian pada saat itu pula Sarah meninggal. Waktu dari kelahiran Ishak hingga kematian Sarah adalah Tiga puluh tujuh tahun, dan Sarah berusia Sembilan tahun ketika Ishak lahir; dan umur Seratus Dua Puluh Tujuh Tahun ketika dia meninggal: Seperti dikatakan dalam Kejadian 23: 1. Sarah berumur 127 tahun. Perhatikanlah bahwa Umur Ishak adalah Tiga Tujuh Tahun, pada Waktu kelahiran Rebecca. Dan ketika itu ia (Isaac) menunggunya (Rebecca) selama tiga tahun, sampai dia cocok untuk menikah, dan kemudian Isaac menjadikannya istri. ”
Menurut penjelasan di atas ini, Rebecca adalah gadis yang sangat terkenal di usia tiga tahun. Akan tetapi adalah seorang gadis yang berusia tiga tahun sudah siap untuk menikah, kisah itu diabadikan dengan rapi dalam tulisan-tulisan Yahudi; terutama, di Emek Hamelech, dalam kutipan berikut, ‘kebijakan bagi kami yang diberkati, sejarah yang diberkati, katakanlah, bahwa perempuan tidak cocok untuk pernikahan,’ sampai dia tiba di Usia tiga tahun dan satu hari. ‘Talmud mendukung kebijakan itu di sini, di bagian berjudul Avoda Sara. Dan Sanhedrin mengatakan, seorang putri, yang dari usia tiga tahun dan satu hari adalah dapat bersetubuh dengan laki-laki, maka sah untuk menikah. ”

3. The Zohar, which is Translated/Commentary by Daniel Chanan Matt also makes mention that Isaac married Rebecca when she was three years old.
51. “She was three years old when he embraced her the youngest legal age a female can be-married. See M Niddah 5:4; Seder Olam Rabbah 1; Soferim, add. 1:4 Rashi on Genesis 25:20 Tosafot, Yevamot 61b, s.v. ve-khen; sekhe; Tov, Genesis 24:14.

The Zohar, yang Diterjemahkan / Commentary oleh Daniel Chanan Matt juga membuat menyebutkan bahwa Ishak menikahi Rebecca saat ia berusia tiga tahun.
51. “Dia berusia tiga tahun ketika ia memeluknya usia hukum termuda wanita dapat menikah. Lihat M Niddah 5: 4; Seder Olam Rabbah 1; Soferim, tambahkan. 1: 4 Rashi pada Kejadian 25:20 Tosafot, Yevamot 61b, s.v. ve-Khen; sekhe; Tov, Kejadian 24:14.

Jelas sudah berdasarkan uraian sejarah di atas, akhirnya kita mengetahui bahwa batas minimal usia pernikahan wanita menurut hukum agama yahudi dan diatur dalam kitab-kitab hukum agama mereka bahwa usia pernikahan seorang wanita minimal adalah 3 tahun. Adapun menikah di usia 9 tahun atau belasan tahun itu adalah batas atas bagi remaja wanita untuk menikah. Sekian…