Hukum Takfiri atau Mengatakan Kafir pada Orang Lain

https://almubayyin.wordpress.com/kristologi/yesus-dan-bapa-adalah-satu-benarkah/
Jika kita membahas konsep orang-orang yang memusuhi penguasa suatu negeri, maka pembahasan akan kita mulai dari proses takfir (pengkafiran) yang mereka lakukan. Kita akan memulai dari ayat yang biasa digunakan untuk mengkafirkan tersebut, yakni QS 5;44 :

“Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah maka mereka itulah orang-orang yang kafir.” (Al-Maidah: 44)

Jika kita sekedar melihat ayat tersebut secara kontekstual saja dan bukan berdasarkan penafsiran, maka yang akan dipahami adalah siapa saja yang tidak berhukum pada hukum Allah, seperti hukum Allah mengatakan para pezina dihukum rajam tetapi KUHP mengatakan penjara sekian bulan, pencuri dlm hukum Islam dipotong tangan tp dlm KUHP dihukum sekian bulan dst, akan disebut kafir.

Perlu diingat, untuk memahami sebuah ayat, tidak cukup hanya sekedar mengetahui terjemahannya saja, akan ttp harus mengetahui terlebih dahulu tafsir atas ayat tersebut. Selain itu kita juga harus mengetahui cara penafsiran yang paling benar menurut para mufassir (ahli tafsir) yang ada, yakni :

1. Ayat Al Quran ditafsiri dengan ayat Al Quran yg lainnya
2. Ayat Al Quran ditafsiri dengan hadits2 shahih dari Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam.
3. Ayat Al Quran ditafsiri dengan atsar dari para shahabat, krn para shahabat dianggap murid langsung Rasulullah maka mereka dianggap paling tahu.
4. Ayat Al Quran ditafsiri melalui penafsiran para salafus shalih, seperti para tabi’in (para muridnya shahabat) atau tabi’ut tabi’in (muridnya tabi’in).

Ada 2 asbabun nuzul yang ada atas ayat tersebut, yang intinya :

1. Ada orang yang berzina di kalangan kaum Yahudi tetapi tidak dihukum rajam
2. Ada 2 kelompok Yahudi yg mereka berselisih tentang sebuah perkara, maka 2 kelompok ini ingin minta Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam sebagai hakim di antara 2 kelompok ini. Akan tetapi salah satu kelompok berusaha mencari bocoran ttg apa yg akan diputuskan oleh Nabi Muhammad shallallahu álaihi wa sallam, jika keputusan itu sesuai dengan keinginan mereka maka mereka akan mau menjadikan Rasulullah sebagai hakim, ttp bila tdk sesuai mereka tidak akan mau.

Ditilik dari 2 asbabun nuzul ayat tersebut diketahui adanya keengganan untuk berhukum pada hukum Allah. Kemudian kita pelajari lebih lanjut, bagaimanakah penafsiran atas ayat tersebut..?!

Untuk meringkas, maka kita akan langsung pada penafsiran ttg kata “kafir” pada ayat tersebut. Apakah orang yg berhukum bukan pada hukum Allah, misal KUHP dan tidak memilih berhukum pd hukum Allah adalah berarti kafir dan dihukumi murtad..?!

Mari kita melihat penafsiran yang ada dari ahli tafsir andalan para shahabat, yaitu Ibnu Abbas. Ibnu Abbas adalah ahli tafsir yang istimewa, karena beliau satu2nya orang yg pernah didoakan langsung oleh Rasulullah sebagai ahli tafsir. Dalam riwayat shahih dari Bukhari juga disebutkan, para shahabat seperti Umar bin Khatthab jika ingin mengetahui sebuah penafsiran atas sebuah ayat, maka beliau mencari Ibnu Abbas, walaupun sdh ada bbrp shahabat lainnya yang sudah memberikan pendapatnya. Beliau tidak bisa langsung percaya jika tidak mendengar langsung dari Ibnu Abbas.

Menurut penafsiran Ibnu Abbas, kafir dlm ayat tersebut bukan berarti kafir yang menyebabkan orangnya dikategorikan murtad. Perhatikan riwayat yang menyebutkan itu :

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir At-Thabari rahimahullah dengan sanad yang shahih dari Ibnu Abbas beliau berkata:

“Dengannya (perbuatan itu) adalah kekafiran, namun bukan kafir terhadap Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan para Rasul-Nya.”

Dalam riwayat lain beliau berkata:

“Bukan (yang dimaksud) adalah kekufuran yang mereka (KHAWARIJ) inginkan. Sesungguhnya (ayat ini) bukan kekufuran yang mengeluarkan dari agama, (namun) kufrun duna kufrin (kekufuran di bawah kekufuran, yaitu tidak mengeluarkan dari Islam).” (Dikeluarkan oleh Al-Hakim dan berkata: sanadnya shahih, dan disetujui oleh Adz-Dzahabi. Terdapat jalan lain, silakan lihat dalam Silsilah Ash-Shahihah 6/113-114).

Jadi menurut Ibnu Abbas, penafsiran yang mengatakan kata “kafir” dlm ayat tsb adalah seseorang yg murtad dan harus diperangi adalah penafsiran orang2 Khawarij, yaitu orang2 yg dianggap oleh para shahabat ajarannya menyimpang dari Islam.

Seperti halnya orang yg tidak mensyukuri nikmat Allah juga disebut “kafir” krn perbuatannya adalah kufur nikmat, yang berarti menutup-nutupi nikmat Allah yg sudah diberikan kepadanya (tidak mengakui adanya nikmat Allah).
Karena kata kafir artinya orang yang menutupi, perbuatannya adalah menutupi (kufur), sehingga para petani yang pekerjaannya menutupi bibit di tanah alias menanam juga disebut kafir (buka Al-Hadid ayat 20).

Jadi di dalam Al Quran, kata kafir bukan berarti harus sesuatu yang amat sangat tercela dan buruk, tergantung kata lain dlm kalimat yang mengikutinya, oleh karena itu perlu ilmu tafsir.
Begitu juga QS 5;44 tersebut di atas, harus ada penafsirannya, bukan sekedar tahu dari terjemahan doank.

Menurut penafsiran para shahabat yang lainnya, disebutkan sebagai “kafir” yg bersyarat. Bisa disebut kafir murtad jika dia meyakini bahwa hukum buatan manusia lebih baik daripada hukum dari Allah, sehingga dia membuang hukum Allah tersebut.

Sedangkan selama dia meyakini keberadaan hukum Allah, dan meyakini hukum Allah adalah yang lebih baik dan terbaik, hanya saja dia tidak mengamalkan hukum tersebut, maka dia tidak disebut kafir murtad (keluar dari Islam), tetapi kafir ashghor (kufrun duna kufrin) seperti halnya orang2 yg tidak mensyukuri nikmat Allah.

ibnu Mas’ud dan Al Hasan berkata,
”Ayat ini umum untuk setiap orang yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan yaitu yang meyakini (tidak wajibnya) dan menganggap halal (berhukum dengan selain hukum Allah).”[Al jami’ liahkamil qur’an 6/190]

Setelah kita mengetahui penafsiran para shahabat, hendaknya kita pun harus mengetahui penafsiran mufassir (ahli tafsir) dari generasi terbaik berikutnya, yaitu generasi tabi’in yang ilmunya masih dianggap murni karena masih generasi ke-2 dari murid2 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Atho’ bin Abu Robah, seorang tabi’in, menyebut ayat 44-46 surat al-Ma’idah, dan berkata: “Kufrun duna kufrin (kufur kecil), fisqun duna fisqin (fasik kecil), dan zhulmun duna zhulmin (dzolim kecil)” [Diriwayatkan oleh lbnu Jarir dalam Tafsir-nya 6/256]

Thowus bin Kaisan, salah seorang tabi’in, menyebut ayat hukum dan berkata :”Bukan kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari agama” [Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam Tafsir-nya 6/256]

Mujahid berkata,
”Barang siapa yang meninggalkan berhukum dengan apa yang Allah turunkan karena menolak[‘iinad] kitabullah maka ia kafir, zhalim, fasiq.”[Mukhtashor tafsir Al Khozin 1/310]

‘Ikrimah berkata,
“Barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan karena juhud (mengingkari) kepadanya maka ia kafir, dan barang siapa yang menetapkan (kewajiban berhukum dengannya) namun ia tidak berhukum dengannya maka ia zalim fasiq.” [Mukhtashor tafsir Al Khozin 1/310]

Setelah kita mengetahui tentang penafsiran dari generasi terbaik tersebut di atas, maka mari kita kupas penafsiran para mufassir generasi terbaik lainnya, yang mana kitab2 mereka dijadikan rujukan para ilmuwan Islam di dunia saat ini.

Al-Imam Ahmad bin Hanbal ditanya tentang maksud kufur dalam ayat hukum, maka beliau berkata : “Kekufuran yang tidak mengeluarkan dan keimanan” [Majmu’ Fatawa 7/254]

Al-Imam Abu Ubaid Al-Qosim bin Salam membawakan tafsir lbnu Abbas dan Atho’ bin Abu Robah terhadap ayat hukum dan berkata : “Maka telah jelas bagi kita bahwa kekufuran dalam ayat ini tidak mengeluarkan pelakunya dari agama Islam, dan bahwasanya agamanya tetap eksis meskipun tercampur dengan dosa-dosa.” [Kitabul lman hal. 45]

Al-Imam Bukhori berkata dalam Shohih-nya (1/83) : “Bab Kufronil ‘Asyir wa Kufrun Duna Kufrin’ al-Haflzh Ibnu Hajar berkata :”Penulis (Al-Imam Bukhori) mengisyaratkan kepada atsar yang diriwayatkan oleh Ahmad dalam Kitabul Iman dari jalan Atho’ bin Abu Robah dan yang lainnya” [FathuI Bari 1/83]

Al-Imam Ibnu Abdil Barr berkata dalam At-Tamhid (4/237) : “Telah datang dari lbnu Abbas Rodhiallahu anhuma bahwasanya dia berkata tentang hukum penguasa yang lancung, kufrun duna kufrin”.

Al-Imam Qurthubi berkata:”Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Alloh karena menolak al-Qur’an dan juhud (mengingkari) pada perkataan Rosul Shallallahu alaihi wa sallam maka dia kafir, ini adalah perkataan Ibnu Abbas Rodhiyallahu anhuma dan Mujahid” [Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an 6/190]

Ibnu Katsier juga menafsirkan QS 5;44 dengan mengutip penafsiran Ibnu Abbas yang menyatakan “Bukan (yang dimaksud) adalah kekufuran yang mereka (KHAWARIJ) inginkan. Sesungguhnya (ayat ini) bukan kekufuran yang mengeluarkan dari agama, (namun) kufrun duna kufrin (kekufuran di bawah kekufuran, yaitu tidak mengeluarkan dari Islam).”

Setelah membaca penafsiran yang ada, maka dapat kita simpulkan bahwa para mufassir ternama baik dari kalangan para shahabat maupun generasi2 sesudahnya tidak ada yang mengatakan orang yang tidak melaksanakan hukum Allah adalah kafir dalam arti murtad (keluar dari Islam) selama mereka tetap meyakini hukum dari Al Quran masih tetap yang terbaik, artinya masih mengimani Al Quran, walaupun mereka tidak bisa menjalankan hukum tersebut. Artinya kekafiran yang bersyarat, yakni adakah juhud (mengingkari) ataukah tidak terhadap Al Quran.

Yang menghukumi kafir dalam arti murtad adalah hanya kelompok khawarij saja, yang dianggap oleh para shahabat telah menyimpang dari ajaran Islam .

Perhatikan petikan pendapat ulama lainnya di bawah ini :
Imam al-Hafiz Abu Bakar Muhammad bin al-Husein al-Ajurri Radhiyallahu ‘anhum berkata : “Diantara syubhat Khawarij adalah firman Allah Azza wa Jalla : “Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” [QS. Al-Maidah : 44]
Mereka membacanya bersama firman Allah : “..namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka”.(QS. Al-An’am : 1).

Apabila mereka melihat seorang penguasa yang tidak berhukum dengan kebenaran, mereka berkata : Orang ini telah kafir, maka dia telah mempersekutukan Tuhannya. Oleh karenanya, para pemimpin-pemimpin itu adalah orang-orang musyrik (Asy-Syariah. 1/342).

Abu Umar Ibnu Abdil Barr berkata: “Telah tersesat sekelompok ahli bidah dari golongan khawarij dan Mutazilah dalam bab ini. Mereka berdalil dengan atsar-atsar ini dan yang semisalnya untuk mengkafirkan orang-orang yang berbuat dosa. Mereka berhujjah dengan ayat-ayat dalam al-Qur’an bukan secara dzohirnya, seperti firman Allah ta’ala : ”Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” QS.Al-Maidah:44, (At-Tamhid, 17/16).

Al-Jashshash berkata : ”Khawarij telah menakwilkan ayat ini untuk mengkafirkan orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah, meski tanpa adanya pengingkaran” (Ahkamul Quran, 2/534).

Syaikhul Islam, Hujjatul ahlussunnah wal jama’ah, al-Imam al-Allamah Abu Muzhoffar as-Samani berkata : ”Ketahuilah, bahwa khawarij berdalil dengan ayat ini untuk mengatakan : Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka dia kafir. Tapi ahlus sunnah berkata : Dia tidak kafir dengan hanya meninggalkan hukum (Allah), (Tafsir Abi Muzhoffar As-Sam’ani, 2/42).

Al-Imam al-Qodhi Abu Ya’la berkata : ”khawarij berhujjah dengan firman Allah ta’ala : ”Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS.Al-Maidah:44). Dzohirnya dalil mereka ini mengharuskan pengafiran para pemimpin yang dzolim, dan ini adalah pendapat khawarij. Padahal yang dimaksud oleh ayat ini adalah orang-orang yahudi”.(Masaaailil Iman, 340-341).

Abdullah al-Qurthubi menukil perkataan al-Qusyairi : ”Mahzabnya khawarij adalah, barangsiapa yang mengambil uang suap dan berhukum dengan selain hukum Allah maka dia kafir.” (Al-Jami’li ahkamil Quran, 6/191).

Jelas sudah, bahwa mereka yang menafsiri ayat tersebut untuk meng-kafirkan penguasa/pemerintah (murtad) yang tidak berhukum pada hukum Islam adalah sebuah kesalahan, karena ternyata menurut para shahabat maupun para ulama besar sesudahnya mengatakan justru yang mengatakan itu (murtad) adalah penafsiran khawarij (jamaah yg menyimpang dari ajaran Islam).

Karena tidak ada satupun dari para murid Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasallam atau generasi terbaik berikutnya yang mengatakan kafir dalam QS 5;44 itu berarti kafir murtad, kecuali penafsiran dari kalangan khawarij (jamaah yang menyimpang) saja yang mengatakan demikian.

Sekian ..