Apakah Berwudhu’ Harus Di Air Yang Mengalir

Ustadz, apakah berwudhu harus menggunakan air yang mengalir ?

Jawab :

Memang yang sering kita jumpai adalah sebagian kaum muslimin berusaha berwudhu dengan menggunakan air yang mengalir. Bahkan jika tidak ditemukan kran air untuk mendapatkannya, maka gayung atau ciduk yang ada akan diberi lubang kecil sehingga ada air mengalir yang akan digunakan untuk berwudhu’.

Yang perlu kita ingat adalah bahwa di jaman Rasululloh ledeng atau kran air tidak ada dan juga tidak ditemukan dalam satu riwayatpun bahwa Rasululloh melubangi gayung/ciduk/bejana. Begitu pula tidak ada riwayat yang menceritakan beliau memerintahkan istri atau shahabat beliau sekedar untuk mengalirkan air dan kemudian beliau bisa berwudhu dengan air yang mengalir tersebut.

Akan tetapi tidak mengapa jika anda ingin menggunakan air yang mengalir untuk berwudhu’, karena justru yang terpenting adalah rukun-rukun wudhu bisa ditunaikan.

Adapun menurut dalil yang ada, justru Rasululloh berwudhu bukan dengan menggunakan air yang mengalir akan tetapi dengan bejana kecil yang berisi air satu mud atau kadang kurang dan tangan beliau dimasukkan ke dalamnya.

كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ يَتَوَضَّأُ بِالْمُدِّ
Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudlu dengan satu mud (sekitar 688 ml) air (muttafaqun ‘alaih)

Begini cara wudhu Rasululloh dengan air dalam bejana yang sedikit tersebut :

عَنْ حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رضي اللهُ عنهما : أَنَّهُ رَأَى عُثْمَانَ دَعَا بِوَضُوءٍ , فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ مِنْ إنَائِهِ , فَغَسَلَهُمَا ثَلاثَ مَرَّاتٍ ، ثُمَّ أَدْخَلَ يَمِينَهُ فِي الْوَضُوءِ , ثُمَّ تَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ وَاسْتَنْثَرَ ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاثاً , وَيَدَيْهِ إلَى الْمِرْفَقَيْنِ ثَلاثًا , ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ , ثُمَّ غَسَلَ كِلْتَا رِجْلَيْهِ ثَلاثًا , ثُمَّ قَالَ : رَأَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَتَوَضَّأُ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ، وَقَالَ : مَنْ تَوَضّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا , ثُم صَلَّى رَكْعَتَيْنِ , لا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Dari Humran Maula Utsman bin Affan, suatu saat ia melihat Utsman meminta air wudlu. Ia menumpahkan air dari bejana membasuh kedua telapak tangannya tiga kali, lalu beliau masukkan telapak tangan kannya ke dalam air (menciduknya) kemudian berkumur dan menghisap air dengan hidung dan mengeluarkannya, kemudian membasuh wajahnya tiga kali. Lalu membasuh kedua tangannya hingga siku-siku tiga kali. Kemudian mengusap kepalanya, lalu membasuh kakinya hingga kedua mata kaki tiga kali. Kemudian ia berkata: Saya melihat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berwudlu seperti wudlu-ku ini dan bersabda: Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini kemudian ia shalat dua rakaat dan ia khusyu pada keduanya niscaya Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (Bukhori no. 159,Muslim no. 423)

Hanya di awal saja beliau menuang air ke kedua telapak tangan guna membasuh kedua telapak tangan beliau. Setelah beliau membasuh kedua telapak tangan dan tangan beliau sudah suci maka justru tangan beliau tersebut itu beliau masukkan ke dalam bejana guna membasuh anggota tubuh yang lainnya.

Ada beberapa dalil sejenis tentang Rasululloh justru memasukkan tangan beliau ke dalam bejana atau ciduk yang digunakan untuk berwudhu tanpa perlu melubangi ciduk tersebut. Begitu cara Sunnah yang pernah dilakukan Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jadi kesimpulannya adalah, berwudhu’ tidak harus di air yang mengalir sesuai dengan dalil cara wudhu’ Rasululloh tersebut di atas, akan tetapi tidak mengapa pula jika berwudhu’ itu dilakukan dengan menggunakan air yang mengalir.

Wallahu a’lam..