Bacaan Sholat Dhuhur dan Ashar Dikeraskan/Dijaharkan

assalamu alaikum tanya kenapa sholat dzuhur bacaan nya tidak di keraskan bila bacaan imamnya salah bagaimana kita tau sekian wasalam

Jawab :

wa’alaikumussalaam..

Hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى بِنَا فَيَقْرَأُ فِى الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ فِى الرَّكْعَتَيْنِ الأُولَيَيْنِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَتَيْنِ وَيُسْمِعُنَا الآيَةَ أَحْيَانًا وَكَانَ يُطَوِّلُ الرَّكْعَةَ الأُولَى مِنَ الظُّهْرِ وَيُقَصِّرُ الثَّانِيَةَ وَكَذَلِكَ فِى الصُّبْحِ

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah shalat bersama kami. Pada shalat Zuhur dan Ashar, beliau membaca al-Fatihah dan dua surat di rakaat pertama. Sesekali beliau memperdengarkan ayat yang beliau baca pada kami. Adalah beliau memanjangkan bacaan pada rakaat pertama dari shalat Zuhur dan memendekkan pada rakaat kedua, begitu juga saat shalat Shubuh.” (HR Muslim)

Imam al-Nawawi menjelaskan : “Dan adapun sabda Nabi saw : ‘Dan ayat yang beliau baca itu sesekali/kadang-kadang beliau memperdengarkan kepada kami‘, ini bisa jadi bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bermaksud untuk memberikan penjelasan atas diperbolehkannya bacaan keras (jahriyah) diwaktu shalat yang seharusnya pelan (sirriyah), dan bahwa bacaan pelan itu bukan syarat sahnya shalat, namun itu hukumnya sunnah.” (Syarah Shohih Muslim : 4/175)

sebenarnya sholat Dhuhur dan Ashar tidak mutlak harus syir (pelan) bacaannya, sesuai keterangan Imam Nawawi di atas kadang Rasulullah juga mn-jahar-kan bacaannya.

jika ditanyakan “mengapa” demikian..?! Allah dan RasulNya yg tahu, mengapa demikian. tidak ada penjelasan “mengapa” dari Rasulullah secara resmi. Tetapi ada bbrp pendapat ulama tentang hal tersebut.

1. Hukum bacaan di-syir-kan terjadi di awal perintah sholat, yakni saat masih di Mekkah. Saat itu kaum kafir Quraisy sering melecehkan Al Quran saat dibacakan saat sholat. Dan para kafir Quraisy tersebut datang melecehkannya adalah saat siang hari, dan saat malam hari mereka sudah masuk di rumahnya masing-masing dan tidak mengolok-olok.

Hal tersebut dihubungkan dengan asbabun nuzul dari QS QS. Al-Isra’: 110 :
وَلاَ تَجْهَرْ بِصَلاَتِكَ وَلاَ تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلاً
“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.”
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. tentang firman-Nya “Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan jangan pula merendahkannya”, diturunkan (ayat ini) ketika Rasulullah saw sedang bersembunyi di Mekah, di mana apabila shalat dengan para sahabatnya, ia mengeraskan suaranya. Ketika orangorang musyrik mendengarnya, mereka mencela al-Qur’an; siapa yang telah menurunkannya; dan pada siapa diturunkan.

Maka Allah berfirman pada Nabi-Nya saw: “Dan janganlah kamu mengeraskan suara dalam shalatmu”, artinya dalam bacaannmu hingga dapat mendengarlah orang- orang musyrik lalu mencela al-Qur’an. “Dan jangan pula merendahkannya” dari para sahabatmu hingga mereka tidak mendengar. “Dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”.” (HR. al-Bukhari, kitab Tafsir al- Qur’an)

Kemudian muncul pendapat bahwa untuk menghindari celaan terhadap Al Quran, saat siang hari bacaan sholat dipelankan krn saat itu kaum musyrikin masih terbangun dan datang mencela. Pada saat di Madinah, maka Rasulullah mulai kadang di-jahr-kan suaranya kadang di pelankan sesuai dalil di atas dan pendapat imam Nawawi atas dalil tersebut.

2. Pada saat malam hari, waktunya yg sangat baik untuk bermunajat sehingga bacaan di-jahr-kan agar lebih khusyuk dan nikmat munajatnya. Sedangkan pada siang hari adalaha waktunya bekerja tidak begitu nikmat untuk bermunajat yang sangat khusyu’. Seperti di terangkan syaikh Abu Bakar Utsman bin Muhammad Syatho Ad-Dimyathi As-Syafi’i dalam kitan Ianatut Tholibin :
hikmahnya magrib dan isya’ di dikeraskan krn untuk mncari klezatan munajatnya hamba pd TUHANnya klo dzuhur ashar di pelankan krn siang wktu kesibukan dan bercampurnya para manusia krn tidak pantas untuk mngheningkan diri pd munajatnya,,sedangkan shubuh disamakn sholat malam {magrib dan isya’} krn bukan waktu kesibukan.(ianatut tholibin juz 1 hal 153.)

3. Ada juga yang berpendapat bahwa saat malam hari pada jaman Rasulullah sangat gelap sekali, sehingga bacaan dikeraskan (jahr) agar terdengar bahwa sholat sudah dimulai, sedangkan saat siang hari tanpa dikeraskan saja orang sudah akan melihat dan mengetahui bahwa sholat sudah dimulai.

Tidak ada keterangan resmi dari Rasulullah, itu hanya pendapat manusia-manusia sesudahnya saja. Wallahu a’lam..