Berbuka Dengan Makanan Yang Manis

Apakah benar berbuka harus dengan yang manis-manis ? kebanyakan orang Indonesia mengatakan hal tersebut. apakah ada dalilnya ? mohon penjelasannya..

Jawab :

Sebenarnya dalilnya bukan berbuka dengan yang manis-manis, karena yang benar adalah berbuka dengan kurma atau air putih. Dalilnya adalah :

وَعَنْ سَلْمَانَ بْنِ عَامِرٍ اَلضَّبِّيِّ – رضي الله عنه – عَنِ اَلنَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – إِذَا أَفْطَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى تَمْرٍ, فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى مَاءٍ, فَإِنَّهُ طَهُورٌ – رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ وَابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ
Dari Salman bin ‘Amir Adh Dhobbi radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian berbuka, maka berbukalah dengan tamr (kurma kering). Jika tidak dapati kurma, maka berbukalah dengan air karena air itu mensucikan.” (Riwayat Imam Lima yakni Ibnu Majah, Abu Daud, An Nasai, Tirmidzi. Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Hakim).

atau hadits yang ini :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan rothb (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada ruthob (kurma basah), maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan seteguk air.” (HR. Abu Daud no. 2356 dan Ahmad 3: 164)

Tidak ada satupun dalil yang mengatakan berbuka dengan yang manis-manis akan tetapi yang benar adalah berbuka itu dengan kurma. Jika ingin dianalogikan kurma itu dengan yang manis-manis, maka ini bisa jadi sangat berbeda.

Karena bisa jadi seseorang akan menjadikan kalimat (yang dikira sebuah hadits tersebut) berbuka dengan yang manis-manis, kemudian saat berbuka berbagai macam hidangan super manis disantapnya. Ada brownies, black forest, kolak manis dan berbagai macam jenis makanan dan jajanan yang manis-manis lainnya. Padahal berbagai macam makanan yang manis seperti itu justru bisa saja menyebabkan berbagai macam penyakit seperti kholesterol, obesitas, jantung dan lain sebagainya. Selain memaksa lambung harus bekerja ekstra keras setelah lambung beristirahat beberapa saat dikarenakan harus mencerna makanan-makanan seperti itu. Ini justru sebenarnya tidak sehat dan tidak dianjurkan.

Islam adalah agama yang ramah terhadap tubuh manusia. Banyak ajakan-ajakan pola hidup sehat di dalamnya termasuk salah satunya adalah anjuran saat kita berbuka, yakni dengan kurma. Kurma berbeda dengan makanan manis yang lainnya, karena kurma juga mengandung serat yang tinggi selain kadar gula alami yang baik untuk memulihkan kondisi tubuh setelah berpuasa. Serat yang tinggi bisa mengendalikan kadar gula dalam darah, bisa mencegah kholesterol, mencegah obesitas dan berbagai macam penyakit yang disebabkan kebanyakan gula. Jadi kurma selain makanan manis juga termasuk makanan yang menyehatkan, karena tidak asal sekedar manis saja seperti berbagai macam jenis jajanan dan kue yang sering kita temui.

Saat lambung baru saja diistirahatkan untuk sementara selama berpuasa, maka sebaiknya jangan paksakan lambung untuk bekerja ekstra keras. Dan kurma adalah solusinya, selain bisa mengurangi asam lambung yang tinggi kurma juga mudah dicerna. Jika tidak ada kurma, sesuai dengan dalil tersebut di atas, sebaiknya gunakan air putih terlebih dahulu untuk berbuka agar lambung pun bisa melakukan penyesuaian-penyesuaian. Sebelum lambung diisi dan disuruh bekerja keras lagi dengan mencerna makanan-makanan menu buka puasa yang lainnya. Jagalah jangan sampai lambung langsung dihajar dengan makanan yang berat-berat walau itu dengan alasan makanan tersebut adalah makanan manis sekalipun, karena tidak semua makanan manis itu menyehatkan dan mudah dicerna. Betul ?!

Kesimpulannya adalah berbuka dengan kurma atau air putih terlebih dahulu, karena ini ramah bagi lambung dan menyehatkan serta sesuai dengan sunnah Rasululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Bukan asal makanan yang manis-manis.