Wanita Haid Mengantar Teman Ke Masjid

Assalamualaikum, maaf mau tanya. ketika saya sekolah dan dalam keadaan haid saya menemani teman saya yang ingin shalat di masjid karna ia tidak akan shalat jika tidak ada teman. dan pada saat itu waktu shalat hampir habis. bagaimana menurut anda?

Jawab :

Wa’alaikumussalaam..

Jika anda cenderung mengikuti jumhur dari madzhab Imam Syafi’i maka anda bisa mengantar teman anda itu sholat ke masjid, karena diperbolehkan masuk masjid walau hanya sebentar saja tanpa harus menetap di dalamnya. Bukankah mengantar ke masjid tidak harus ikut sholat atau berlama-lama di masjid?
Jika teman anda sudah sampai di masjid dan persiapan sholat anda bisa katakn anda akan tunggu sebentar di luar.

Hal ini sesuai dengan dalil :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَقْرَبُوا الصَّلاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلا جُنُبًا إِلا عَابِرِي سَبِيلٍ –
“Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian mendekati shalat sedangkan kalian dalam keadaan mabuk hingga kalian mengetahui apa yang kalian ucapkan dan jangan pula orang yang junub kecuali sekedar lewat sampai kalian mandi.” (An Nisa’ : 43)

Kata “shalat” di artikan tempat shalat.. Tetapi dalam ayat tersebut tidak menyebutkan wanita haid. Wanita haid dalam ayat tersebut diqiyaskan dengan kata junub. Sehingga ulama dari kalangan ini membolehkan dengan syarat hanya sekedar lewat atau mengambil sesuatu di dalam masjid dengan dikuatkan oleh dalil

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ لِيْ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله و عليه و سلم: نَاوِلِيْنِى الْجُمْرَةَ مِنَ الْمَسْجِدِ. فَقُلْتُ: إِنِّيْ حَائِضٌ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِنَّ حَيْضَتَكِ لَيْسَتْ فِى يَدِكِ.
Hadits ‘Aisyah, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah berkata kepadanya: “Siapkanlah al-Humrah (semacam sajadah) dari masjid. Lalu ‘Aisyah berkata: Saya sedang haid. Beliau bersabda: Sesungguhnya haid kamu tidak di tanganmu” (HR. Muslim dan at-Turmudzi, no. 134, dan Abu Dawud, no. 261, dan an-Nasa’i, no. 272, dan Ibnu Majah, no. 632).

Adapun jika anda mengikuti madzhab Hambali diperbolehkan menetap dengan syarat ada wudhu’ seperti wudhu’ sholat seperti tersebut di dalam hadits tentang para shahabat yang berada di masjid dalam kondisi junub sesuai dengan dalil yang ada dari Atha bin Yasar :

عن عطاء بن يَسَار قال: رأيت رجالا من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم يجلسون في المسجد وهم مجنبون إذا توضؤوا وضوء الصلاة. وهذا إسناد صحيح على شرط مسلم
‘Atha bin Yasar berkata: “Aku melihat para laki-laki dari sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Jika mereka wudhu seperti wudhu shalat mereka duduk-duduk di masjid padahal mereka sedang keadaan junub.” (Diriwayatkan oleh Said bin Manshur dalam Sunannya dengan sanadnya shahih sesuai syarat Imam Muslim).

Akan tetapi dari dalil tersebut juga terjadi perbedaan pendapat, sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa junub dengan haid itu sama yakni sama-sama hadats besar dan ada ulama yang mengatakan bahwa junub dengan haid itu berbeda.

Dan jika anda mengikuti sebagian ulama dari madzhab Syafi’i seperti Al Muzanny, Abu Hamid Asy-Syafi’i, Ibnu Mundzir dan yang lainnya, maka anda bisa mengantar serta menunggu teman anda selama dia melakukan sholat. Karena menurut pendapat sebagian ulama madzhab Syafi’i diperbolehkan menetap di masjid selama wanita yang haid bisa menjaga kebersihannya.

Lengkapnya penjelasan beserta dalil-dalilnya bisa dibaca di : https://almubayyin.wordpress.com/about/hukum-wanita-haid-masuk-masjid/

Sekarang kembali kepada anda untuk lebih cenderung ikut pendapat yang mana. Karena semua pendapat ada dalil shahihnya, sehingga hal ini masuk ranah khilafiyah. Jika masuk ranah khilafiyah, maka anda tidak akan disalahkan jika mengikuti salah satu pendapat di atas yang anda yakini, itu dikarenan anda sudah berusaha mengikuti hasil ijtihad ulama-ulama yang muktabar berdasarkan dalil-dalil shohih yang ada..

Wallahu a’lam.. Demikian..